Posted by: sulaiman on: Juli 14, 2008
Setiap manusia dikaruniai akal, hawa nafsu dan hati nurani. Ada suatu kejadian, seorang anak berumur dua tahun, berusaha berjalan mendekati dua orang yang belum ditemui sebelumnya, ternyata kedua orang tersebut adalah kakek dan neneknya, yang belum pernah diperkenalkan oleh siapapun, dan setelah mendengar suara azan, dia melakukan gerakan sholat, walaupun hanya “Allahhu Akbar” secara sepintas.
Jelaslah walau seorang anak akalnya belum sempurna, tapi hati nuraninya berusaha untuk mengenal diri sendirinya, orang tuanya, orang sekitarnya dan Tuhannya, dan berusaha mencintainya. Hati nurani manusia tidak dapat menghindar dari cintanya kepada ‘Tuhan Semua Manusia’ yang telah memberikan kehidupan kepadanya.
Fitrah manusia adalah mencintai dan dicintai, maka manusia akan merasakan nikmat mencintai orang tuanya, orang sekitarnya dan sesamanya, bahkan betapa nikmatnya mencintai ‘Tuhan Yang Maha Hidup’ yang telah menghidupkannya.
Tetapi bagi orang yang akalnya dikendalikan oleh hawa nafsunya, dia menjadi tidak mengerti, terhadap orang yang mencintai tuhannya?
Seseorang yang berakal dan mencintai ‘Tuhan segala Alam’, maka dia selalu ingat kepadaNya, kapanpun dan dimanapun, baik ketika sedang berdiri, sedang duduk, sedang berbaring atau ketika sedang melakukan apapun, bahkan jika ada kesepatan dia dengan sadar, tanpa adanya pengaruh orang lain, dia berfikir secara mendalam, benar-benar bertafakkur, tentang penciptaan langit dan bumi, apakah semua penciptaan langit dan bumi ini sia-sia belaka? (Q.S. 3:191, Q.S. 30:8 )
2. Hati orang yang mencintai Tuhan.
Seseorang yang mencintai Tuhannya, maka hatinya hanya diisi oleh semua Nama-nama Tuhan yang indah’, sehingga tidak ada tempat di hatinya untuk yang selainnya, karena tiada yang lebih utama baginya selain selalu mengingatnya, mengagungkannya, dan mencari keridloannya. Tidak mau hatinya diisi oleh cinta selainNya, sebab jika hatinya diisi cinta oleh selainNya dengan berdasar hawa nafsu, akan rusak perangai dan akhlaknya dan pribadinya menjadi kurang menarik. (seperti cinta harta membuat seseorang jadi serakah dan pelit)
Setiap orang yang menyadari bahwa cintanya kepada Tuhannya adalah nyata bukan khayalan, maka dia pasti berusaha untuk mencapai keridloannya secara nyata, dan dia akan mengharuskan dirinya untuk berbuat kebaikan, kebenaran, kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan. Kalaupun harus mengumpulkan setitik demi setitik noktah/dzarroh dari kebaikan pasti dilakukannya, atau harus meninggalkan setitik demi setitik noda dari dosa dan kejahatan pasti dilakukannya. Semuanya diupayakan walau dengan bersusah payah, maka segala kelelahan dan keletihan justru menambah nikmat dalam mencapai keridloannya. Tetapi bagi orang yang mengabaikan hati nuraninya sering tidak menyadari cintanya kepada Tuhannya, karena tertutup oleh cintanya kepada dirinya sendiri.
3. Ketulusan dalam mencintai Tuhan
Ketulus ikhlasan cinta seseorang kepada Tuhannya ditandai dengan : pertama berkurangnya komunikasi sesama manusia atau lebih banyak berdiam diri karena berusaha lebih banyak berkomunikasi dengan Tuhannya; kedua ketika sedang sendiri lebih banyak bertafakkur dan tanpa disadarinya menetesnya air matanya, ketiga bersikap pasrah, ridlo dan menerima atas semua takdir tanpa berkeluh kesah. (umpama jika diciptakan sebagai laki-laki dia menerimanya takdirnya sebagai laki-laki, jika sebagai wanita dia menerima takdirnya sebagai wanita) Dengan keikhlasan mencintai Tuhannya, akan memancarkan pula ketulus ikhlasan dalam mengerjakan apa saja untuk makhluknya. Maka semua pekerjaannya dengan niat ibadah dikerjakan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Hal ini juga merupakan perintah Tuhan. (Q.S. 4:142 ) Tetapi bagi orang yang mengabaikan hati nuraninya tidak ada ketulusan dalam hatinya, dan memandang orang lainpun pasti ada pamrihnya seperti dirinya.
4. Kebanggaan semu dalam mencintai Tuhan
Cinta kepada ‘Tuhan Yang Maha Tinggi’ tidak bisa ditinjau dari suatu sudut pandang secara senteris, dan tidak bisa dibanggakan dan tidak bisa dipamerkan, sebab semua itu akan menghilangkan keikhlasannya, akan menimbulkan fanatik buta, serta akan mengagung-agungkan dirinya dengan kebanggaan semu, seperti merasa bangga sebagai ‘Orang Paling Suci’ atau merasa bangga sebagai ‘Anak Tuhan’ inilah yang terjadi pada Kaab bin Al Asyraf dan kawan-kawannya.
Mereka yang ingin dibanggakan, dipandang dan dipuji oleh manusia, pada hakekatnya mereka sedikit mengingat Tuhannya. Sedangkan orang yang sedikit mengingat Tuhannya berarti sedikit sekali cintanya kepada Tuhannya. (Q.S. 4:142)
5. Konsekwensi mencintai Tuhan
Konsekwensi dari mencintai ‘Tuhan Yang Maha Pencipta’ adalah : pertama berusaha menjadi orang yang dicintai oleh Nya; kedua mencintai orang yang paling dicintai oleh Nya; ketiga memberikan kehidupan dan manfaat kepada semua makhluknya, sebagaimana Dia telah menghidupkan semua makhluknya; keempat menjalani semua ujian dan cobaan berat dengan sabar, ikhlas, ridlo tetapi berusaha selalu tampil bahagia.
Nabi Ayub AS. yang dicintaiNya, diuji dengan cobaan berat, berupa penyakit, kemiskinan, ditinggal/diabaikan keluarganya, demikian pula nabi-nabi yang lain semuanya diuji dan diberi cobaan. Apalagi kita manusia biasa, jika benar-benar mencintai ‘Tuhan Yang Maha Kuasa’ pasti diuji dan diberi cobaan yang berat, bagi orang yang mengabaikan hati nuraninya, tidak mengenal semua konsekwensi ini, dan tidak sanggup menerima ujian dan cobaan, lalu hanya mencela dan mengejek orang yang dicintai oleh Nya, bahkan akhirnya, hanyalah mempertuhankan hawa nafsunya belaka (Q.S. 25:43)
pembahasan berikutnya cemburu dalam perspektif cinta kepada tuhan……
Assalamualaikum Wr Wb. Alhamdulillah, Pak Ustadz sudah puna blog. Blog ini sekaligus bisa jadi sarana belajar mengajar (e-learnng) dan media dakwah. Semoga bermanfaat bagi kita semua! Wass Ww.
Ass Ww. Pak Ustadz, terima kasih, tulisan ini sangat menyentuh dan sangat berarti bagi saya. Wass Ww.
Juli 18, 2008 pada 1:06 am
Terimaksaih atas kunjungan ke cenya95.wordpress.com
Maaf Pak, Tulisannya ada yang terlalu rapat (hilang), sayang jadi tidak enak bacanya. Padahal ini pelajaran SQ yang sangat bagus dan baik.