SULAIMAN Weblog

Mengenang Penjajahan di Indonesia

Posted by: sulaiman on: Januari 19, 2009

 monasjakarta-11

    Rakyat di Nusantara yang hidup pada masa penjajahan dalam waktu yang lama (lebih dari 350 tahun) serta perjuangan mereka menentang penjajahan, dapat dijadikan bahan studi yang menarik. Dan untuk mengenangnya tidaklah cukup hanya dengan mendirikan tugu-tugu dan monument-monumen, yang selanjutnya perlu dirawat secara rutin dan dilestarikan.

    Semua peristiwa dijaman penjajahan merupakan kejadian tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan. Dan untuk mengenangnya tidaklah cukup hanya dengan melaksanakan kegiatan “mengheningkan cipta” pada setiap tujuh belasan (yang hanya berlangsung sejenak dan sepintas), yang selanjutnya perlu dijadikan tradisi nasional dan dibudayakan.

    Mengenang peristiwa dijaman penjajahan yang telah dialami rakyat ini, tidaklah cukup hanya untuk bernostalgia, atau hanya untuk mengingatnya kembali lembaran lama, tetapi lebih dari itu, untuk lebih peka berempati dan dapat merasakan dan menghayati suasana dan keadaan rakyat pada masa itu, antara lain :

1.     Merasakan betapa sakitnya dan pedihnya, diperlakukan tidak manusiawi dan menerima perlakuan di luar batas, dengan kerja paksa, kerja rodi, romusha yang disertai tindakan semena-mena dan sewenang-wenang.

2.     Merasakan betapa sakitnya dan terperangahnya, tiba-tiba masuk penjara dan disiksa, karena disangka dan dituduh membantu para ektrimis. (para ekstrimis adalah para pejuang kemerdekaan)

3.     Merasakan betapa sakitnya dan tidak percayanya, dengan adanya keputusan hukum yang berbeda-beda, dan mendapatkan perlakuan yang berbeda di muka pengadilan. Dalam kasus yang sama, seperti mencuri seekor ayam, ada yang dihukum 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan, 2 bulan, bahkan ada yang dihukum sampai 2 tahun.

4.     Merasakan betapa sakitnya dan memuakkannya, dibatasi kesempatan berusaha (bagi pribumi), dipersulit semua urusan yang berkenaan dengan pemerintahan atau birokrasi, dan mengurusnya selalu bertemu dengan para petugas yang bersikap garang dengan wajah angker.

5.     Merasakan betapa sakitnya dan sengsaranya diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, yang dikurangi berbagai haknya, anak pribumi tidak boleh bersekolah, kurang mendapatkan pelayanan kesehatan yang sewajarnya, dan hanya mendapatkan pelayanan yang minimal dalam semua bidang.

6.     Merasakan betapa sakitnya dan hancurnya, mengalami banyaknya permusuhan, perselisihan, dan perpecahan, bahkan pembunuhan. Semua itu disebabkan banyaknya orang yang terhasut oleh penjajah, sehingga menjadi kaki tangan mereka dan memusuhi bangsanya sendiri, sukunya sendiri, masyarakatnya sendiri, sanak keluarganya sendiri, dan teman-temannya sendiri.

7.     Merasakan betapa sakitnya dan prihatinnya, melihat rakyat yang selalu menjadi bulan-bulanan atau pesakitan, jika salah sedikit langsung dihukum. Tukang sado yang memecut kudanya dihukum, orang yang membawa ayam terbalik dengan memegang kaki ayam ke atas dihukum dan sebagainya. Semua itu bertujuan membuat rakyat semakin tidak percaya pada diri sendiri dan semakit takut kepada para penjajah.

8.     Merasakan betapa sakitnya dan menyayangkannya, menyaksikan perubahan tingkah laku dari sebagian besar anak-anak bangsawan yang berpendidikan, yang bertingkah laku mirip “londo”. Semua ini terjadi karena mereka “dicekoki” untuk lebih mencintai kemewahan, kemegahan dan glamor kehidupan; dari pada lebih mencintai kemerdekaan, keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan.

9.     Merasakan betapa sakitnya dan tersiksanya, sebagai pribumi dan ahli waris tanah air ini, diperlakukan sebagai seorang warga dunia yang tidak bernegara, dianggap tidak punya hak, yang hanya selalu menjadi parasit pada pemerintahan kolonial yang ada.

      Berbincang-bincang  tentang jaman penjajahan, ada sebagian orang mengatakan, bahwa pada masa penjajah tidak pernah ada kelaparan, kebanjiran atau bencana alam, semua perencanaan tata kota sangat baik, semua barang serba murah dan kehidupan lebih senang dibandingkan masa kemerdekaan sekarang, yang semakin kesini semakin sulit. Ini adalah ungkapan yang jujur dari orang-orang yang “dekat” dengan para pejabat pemerintahan kolonial.

     Satu semboyan yang menjadi tekad akhir dari seluruh rakyat Indonesia dalam menentang penjajahan, yang yang merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi, yakni : “MERDEKA ATAU MATI”, karena seluruh rakyat menyadari bahwa penjajahan tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

     Dengan mengenang  penjajahan di Indonesia,  membuat semua orang yang berfikir,  merenung sejenak, untuk lebih mawas diri dan introspeksi, dan timbul pertanyaan : apakah kita termasuk orang yang tidak peduli dengan semua tugu dan monument karena tidak mengerti nilai sejarahnya? Bagaimana yang terbaik dalam kita berbuat dan bersikap  terhadap bangsa ini, negara ini, rakyat ini?

9 Tanggapan ke "Mengenang Penjajahan di Indonesia"

Perduli terhadap lingkungan harus diutamakan.
Barang milik publik (umum) harus dijaga dan jangan dirusak saat marah atau demo.
Cintailah produk Indonesia.
Yang pahit jangan dikenang tapi diambil hikmahnya sebagai pengalaman. Pengalaman merupakan ilmu yang sangat berharga.

Ass.wr.wb Jayyid ? Ana min Libanon, di sini juga bekas jajahan Prancis, tp lebih maju Pak leman.
Maju terus pantang mundur.

@ cenya95, banyak orang indonesia yang kurang rasa memiliki tanah airnya, sehingga tidak menjaga fasilitas umum, bahkan dibisniskan atau dirusak, harusnya ditingkatkan budaya gorong royong untuk ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, bukan berat kamu yang pikul tapi ringan saya yang jingjing.
@ Krisna, semua negara bekas jajahan belanda umumnya bodoh-bodoh dan tidak bisa kompak karena politik pecah belah (Devede at empera), oleh karena itu sulit maju. Salam buat semua yang ada di Lebanon. semoga sukses dan lebih maju.

Di masa penjajahan,
banyak anak bangsa berjiwa merdeka jadi pahlawan …
Mereka terus melawan,
rela berkorban meski nyawa harus jadi taruhan …
Namun pada masa kemerdekaan,
justeru banyak anak bangsa berjiwa budak belian …
Mereka menjadi beban,
tak ada kemauan hanya menunggu perintah majikan ….

Hanya bagi mereka yang berjiwa merdeka kemerdekaan itu punya arti ….
Karena bagi mereka kemerdekaan adalah hak dan sekaligus harga diri ….
Merdeka tidak menjamin apa-apa kecuali menentukan nasib sendiri ….
Dulu kita rebut kemerdekaan, maka sekarang kita harus mengisi ….
Karena merebut kemerdekaan adalah memindahkan beban tanggung jawab kepundak sendiri ….
Semua dengan ikhlas berdasar keyakinan bahwa kemerdekaan adalah karunia Illahi Robbi ….

Bagi mereka yang berjiwa budak belian ….
Tak ada beda alam merdeka atau penjajahan ….
Tak ada kesadaran ….
Tak ada pengorbanan ….
Tak ada kebanggaan ….

Apa kabar Pak Sulaeman? Semoga selalu sukses dan dalam lindungan Allah Swt. Wassalam … w w.

Semua urusan kepentingan orang banyak haruslah dimusyawarahkan, celakanya kalau yang dijadikan dasar dalam bermusyawarah adalah “memaksakan pendapat untuk kepentingan pribadi atau golongan/kelompok” tentu akan berakibat konflik kepentingan dan pertikaian yang berkepanjangan dan semakin meruncing, lalu timbul masalah : (1) Haruskan TNI dan Polri bertindak sebagai pemadam kebakaran yang memadamkan “api konflik” (2)Biaya Negara yang seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, melindungi tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan peran dalam perdamaian dunia terpakai dan dampak lain adalah negara kita semakin mundur. Seharusnya seluruh rakyat, seluruh pejabat, seluruh tokoh, berpegang teguh pada dasar yang sama yakni: “Bagaimana berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, negara ini, dan kepentingan masyarakat banyak. Saya kira tak ada masalah yang tak dapat dipecahkan jika kita memiliki dasar yang sama dalam praktek bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sadarkah kita betapa nikmatnya hidup rukun, aman dan damai? Semoga pertikaian antar suku apapun tidak pernah terjadi lagi! Semoga pertikaian suku madura dan suku dayak tidak akan pernah terjadi lagi! Semoga semua ini membuat kita menjadi semakin arif, semakin bijaksana, dan semakin mencintai kemerdekaan bangsa ini.

@ Anton H Biantoro, Alhamdulillah baik-baik,semoga bapak Anton juga dalam lindunganNya dan selalu sehat dan bahagia..Amin..!

kNpa dimata masyarakat indonesia jaman kolonialisme selalu dipandang dari segi negatif saja??
saya ingin bertanya pada siapapun yang disana, benarkah kalau negara kita ini dulunya tidak dijajah belanda adakah INDONESIA yang kita kenal saat ini???
harap drespon.

Sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan penderitaan, dijaman kolonialisme, terutama ketika kerja rodi yang meninggal mungkin lebih dari seratus ribu orang, karena penyiksaan, kelaparan dan penyakit. — walau belum ada penelitian dengan data yang pasti berapa jumlahnya — (untuk lebih lengkapnya, silahkan baca : “Dampak Penetrasi Budaya”)
Karena politik balas budi Belanda, lalu memberi kesempatan kepada anak-anak para inlander, anak-anak pribumi. terutama yang jabatan orang tuanya paling rendah “Wedana”.
Pertemuan seluruh pemuda dari berbagai suku bangsa ini, melahirkan “Sumpah Pemuda” . Mulai masa Sumpah pemuda, maka bentuk perjuangan secara nasional bukan kedaerahan lagi. Dan kemudian berkembang menjadi berdirinya Negara Indonesia.
Pertemuan, dialog dan diskusi semua pemuda antar suku dari momen sumpah pemuda ini, yang seharusnya dilestarikan, dan diselenggarakan secara berkala, untuk membahas permasalahan tantangan masa depan bangsa ini. Tetapi sangat disayangkan para pemuda sekarang, sudah kehilangan arah, yang ditandai semakin banyaknya tawuran sampai di pelosok nusantara.

Tinggalkan Balasan

 

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

sudah

  • 8,331 orang