Posted by: sulaiman on: Februari 9, 2009
انا لله وانا اليه راجعون
Telah berpulang ke Rahmatullah Ketua DPRD SUMATERA UTARA, Bapak Abdul Azis Angkat, Semoga semua amal ibadah beliau, diterima dan menerima tempat yang layak disisiNya. Dan semoga semua sanak keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kesabaran dalam menerima musibah ini.
Tragedi wafatnya Bapak Abdul Azis Angkat akibat demonstrasi anakhis, selasa 3 Februari 2009 telah meninggalkan duka dan kesedihan pada seluruh anggota DPR dan seluruh bangsa Indonesia. Bangsa ini kehilangan seorang kader politik terbaiknya dari partai Golkar, seorang politikus yang mapan dan matang dalam berpolitik. (Beliau dipercaya dan dipilih sebagai ketua DPRD dan tidak tertutup kemungkinan karir jabatan politiknya bisa meningkat lagi)
Dengan tragedi meninggalnya seorang pejabat publik/pejabat negara/ketua DPRD, maka kita semua harus mengevaluasi diri, atas apa yang sebenarnya sedang terjadi pada bangsa ini, untuk itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
1. Para demonstran telah bertindak anakhis, brutal dan di luas batas. Apakah para demonstran mengetahui bakal ada korban? Sungguh celaka jika para demonstran hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui tujuan yang sebenarnya dari demonstrasi ini dan hanya berfikir imbalannya sebesar + Rp 25.000,-
2. Para penggerak/dalang/propokator dari sebelum demonstrasi tidak mengarahkan secara benar dan ketika sedang berlangsungnya tidak mengendalikan mereka agar tidak anakhis, tidak bertindak brutal dan tidak melampaui batas.
3. Setiap usaha untuk mendikte, mengendalikan dan memaksakan kehendak kepada parlemen/DPR/DPRD melalui demonstrasi adalah suatu tindakan kolonialisme dalam bentuk lain. Di jaman penjajahan parlemen didikte, diarahkan dan dikendalikan oleh kekuatan penjajah untuk kepentingan pihak penjajah, sehingga parlemen menjadi arena “Komedi Omong”, isi parlemen saat itu hanyalah debat kusir, adu pendapat untuk menang sendiri serta semakin banyak anggota parlemen yang munafik dan hipokrit. Apakah saat ini masih terdapat mental anggota parlemen yang munafik dan hipokrit?
4. Terjadinya perubahan yang demikian cepat dari demonstrasi damai menjadi demonstrasi anakhis, perlu didiskusikan, dipelajari dan dikaji oleh semua pihak, karena inilah penyebab utama terjadinya tragedi tersebut. Sungguh tidak adil jika menyalahkan sepenuhnya kepada POLRI atas terjadinya tragedi ini.
5. Para mahasiswa dan para akademisi seharusnya berpandangan jauh ke depan, tapi kenyataannya mahasiswa yang melakukan demonstrasi melakukan anarkhis, kurang menghormati lambang negara, simbol negara dan instansi yang seharusnya dihormati oleh seluruh warga negara. (Apa artinya membawa bendera merah putih kalau melakukan demonstrasi anarkhis dan melakukan perusakan gedung DPRD?) Gambaran mereka seperti “Kuda yang ditutup matanya dan ditunggangi”. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan untuk generasi muda dalam menanamkan jiwa kebangsaan dan perasaan kebangsaan kurang optimal, bahkan lebih banyak menunjukkan nasionalisme sempit.
Penutup. Memang perlu dibiasakan demonstrasi yang beretika yang penuh dengan kesopanan dan kesantunan, bukan kekerasan, tetapi selama para penggerak tidak bisa mengarahkan para demonstran secara benar dan selama para demonstran berpaham nasionalisme sempit, maka selama itu pula akan selalu terjadi demonstrasi anarkhis.
Saran. Kepada semua ketua DPRD, jika ada demonstrasi, ajaklah berdialog dengan beberapa orang utusan mereka agar tercipta pengertian yang benar tentang masalah yang didemonstrasikan, tetapi jika jumlah demonstran ribuan orang, cepat “ambil langkah seribu” agar tragedi ini tidak terulang lagi.
“Sungguh celaka jika para demonstran hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui tujuan yang sebenarnya dari demonstrasi ini dan hanya berfikir imbalannya sebesar + Rp 25.000,-”
Parah banget ini mental pendemonstaran. Rp 25.00,00 untuk mencabut nyawa seseorang atas nama demokrasi. Maaf, itu bukan demokrasi, itu democrazy..!!
Februari 9, 2009 pada 12:14 pm
Beginilah klo demonstrasi ga dari hati nurani….