SULAIMAN Weblog

Mengenang Penjajahan di Indonesia

Posted on: Januari 19, 2009


 monasjakarta-11

    Rakyat di Nusantara yang hidup pada masa penjajahan dalam waktu yang lama (lebih dari 350 tahun) serta perjuangan mereka menentang penjajahan, dapat dijadikan bahan studi yang menarik. Dan untuk mengenangnya tidaklah cukup hanya dengan mendirikan tugu-tugu dan monument-monumen, yang selanjutnya perlu dirawat secara rutin dan dilestarikan.

    Semua peristiwa dijaman penjajahan merupakan kejadian tragedi kemanusiaan yang sangat menyedihkan. Dan untuk mengenangnya tidaklah cukup hanya dengan melaksanakan kegiatan “mengheningkan cipta” pada setiap tujuh belasan (yang hanya berlangsung sejenak dan sepintas), yang selanjutnya perlu dijadikan tradisi nasional dan dibudayakan.

    Mengenang peristiwa dijaman penjajahan yang telah dialami rakyat ini, tidaklah cukup hanya untuk bernostalgia, atau hanya untuk mengingatnya kembali lembaran lama, tetapi lebih dari itu, untuk lebih peka berempati dan dapat merasakan dan menghayati suasana dan keadaan rakyat pada masa itu, antara lain :

1.     Merasakan betapa sakitnya dan pedihnya, diperlakukan tidak manusiawi dan menerima perlakuan di luar batas, dengan kerja paksa, kerja rodi, romusha yang disertai tindakan semena-mena dan sewenang-wenang.

2.     Merasakan betapa sakitnya dan terperangahnya, tiba-tiba masuk penjara dan disiksa, karena disangka dan dituduh membantu para ektrimis. (para ekstrimis adalah para pejuang kemerdekaan)

3.     Merasakan betapa sakitnya dan tidak percayanya, dengan adanya keputusan hukum yang berbeda-beda, dan mendapatkan perlakuan yang berbeda di muka pengadilan. Dalam kasus yang sama, seperti mencuri seekor ayam, ada yang dihukum 1 minggu, 2 minggu, 1 bulan, 2 bulan, bahkan ada yang dihukum sampai 2 tahun.

4.     Merasakan betapa sakitnya dan memuakkannya, dibatasi kesempatan berusaha (bagi pribumi), dipersulit semua urusan yang berkenaan dengan pemerintahan atau birokrasi, dan mengurusnya selalu bertemu dengan para petugas yang bersikap garang dengan wajah angker.

5.     Merasakan betapa sakitnya dan sengsaranya diperlakukan sebagai warga negara kelas dua, yang dikurangi berbagai haknya, anak pribumi tidak boleh bersekolah, kurang mendapatkan pelayanan kesehatan yang sewajarnya, dan hanya mendapatkan pelayanan yang minimal dalam semua bidang.

6.     Merasakan betapa sakitnya dan hancurnya, mengalami banyaknya permusuhan, perselisihan, dan perpecahan, bahkan pembunuhan. Semua itu disebabkan banyaknya orang yang terhasut oleh penjajah, sehingga menjadi kaki tangan mereka dan memusuhi bangsanya sendiri, sukunya sendiri, masyarakatnya sendiri, sanak keluarganya sendiri, dan teman-temannya sendiri.

7.     Merasakan betapa sakitnya dan prihatinnya, melihat rakyat yang selalu menjadi bulan-bulanan atau pesakitan, jika salah sedikit langsung dihukum. Tukang sado yang memecut kudanya dihukum, orang yang membawa ayam terbalik dengan memegang kaki ayam ke atas dihukum dan sebagainya. Semua itu bertujuan membuat rakyat semakin tidak percaya pada diri sendiri dan semakit takut kepada para penjajah.

8.     Merasakan betapa sakitnya dan menyayangkannya, menyaksikan perubahan tingkah laku dari sebagian besar anak-anak bangsawan yang berpendidikan, yang bertingkah laku mirip “londo”. Semua ini terjadi karena mereka “dicekoki” untuk lebih mencintai kemewahan, kemegahan dan glamor kehidupan; dari pada lebih mencintai kemerdekaan, keadilan, kedamaian, dan kemanusiaan.

9.     Merasakan betapa sakitnya dan tersiksanya, sebagai pribumi dan ahli waris tanah air ini, diperlakukan sebagai seorang warga dunia yang tidak bernegara, dianggap tidak punya hak, yang hanya selalu menjadi parasit pada pemerintahan kolonial yang ada.

      Berbincang-bincang  tentang jaman penjajahan, ada sebagian orang mengatakan, bahwa pada masa penjajah tidak pernah ada kelaparan, kebanjiran atau bencana alam, semua perencanaan tata kota sangat baik, semua barang serba murah dan kehidupan lebih senang dibandingkan masa kemerdekaan sekarang, yang semakin kesini semakin sulit. Ini adalah ungkapan yang jujur dari orang-orang yang “dekat” dengan para pejabat pemerintahan kolonial.

     Satu semboyan yang menjadi tekad akhir dari seluruh rakyat Indonesia dalam menentang penjajahan, yang yang merupakan harga mati yang tidak dapat ditawar lagi, yakni : “MERDEKA ATAU MATI”, karena seluruh rakyat menyadari bahwa penjajahan tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan prikeadilan.

     Dengan mengenang  penjajahan di Indonesia,  membuat semua orang yang berfikir,  merenung sejenak, untuk lebih mawas diri dan introspeksi, dan timbul pertanyaan : apakah kita termasuk orang yang tidak peduli dengan semua tugu dan monument karena tidak mengerti nilai sejarahnya? Bagaimana yang terbaik dalam kita berbuat dan bersikap  terhadap bangsa ini, negara ini, rakyat ini?

12 Tanggapan to "Mengenang Penjajahan di Indonesia"

Perduli terhadap lingkungan harus diutamakan.
Barang milik publik (umum) harus dijaga dan jangan dirusak saat marah atau demo.
Cintailah produk Indonesia.
Yang pahit jangan dikenang tapi diambil hikmahnya sebagai pengalaman. Pengalaman merupakan ilmu yang sangat berharga.

Ass.wr.wb Jayyid ? Ana min Libanon, di sini juga bekas jajahan Prancis, tp lebih maju Pak leman.
Maju terus pantang mundur.

@ cenya95, banyak orang indonesia yang kurang rasa memiliki tanah airnya, sehingga tidak menjaga fasilitas umum, bahkan dibisniskan atau dirusak, harusnya ditingkatkan budaya gorong royong untuk ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, bukan berat kamu yang pikul tapi ringan saya yang jingjing.
@ Krisna, semua negara bekas jajahan belanda umumnya bodoh-bodoh dan tidak bisa kompak karena politik pecah belah (Devede at empera), oleh karena itu sulit maju. Salam buat semua yang ada di Lebanon. semoga sukses dan lebih maju.

Di masa penjajahan,
banyak anak bangsa berjiwa merdeka jadi pahlawan …
Mereka terus melawan,
rela berkorban meski nyawa harus jadi taruhan …
Namun pada masa kemerdekaan,
justeru banyak anak bangsa berjiwa budak belian …
Mereka menjadi beban,
tak ada kemauan hanya menunggu perintah majikan ….

Hanya bagi mereka yang berjiwa merdeka kemerdekaan itu punya arti ….
Karena bagi mereka kemerdekaan adalah hak dan sekaligus harga diri ….
Merdeka tidak menjamin apa-apa kecuali menentukan nasib sendiri ….
Dulu kita rebut kemerdekaan, maka sekarang kita harus mengisi ….
Karena merebut kemerdekaan adalah memindahkan beban tanggung jawab kepundak sendiri ….
Semua dengan ikhlas berdasar keyakinan bahwa kemerdekaan adalah karunia Illahi Robbi ….

Bagi mereka yang berjiwa budak belian ….
Tak ada beda alam merdeka atau penjajahan ….
Tak ada kesadaran ….
Tak ada pengorbanan ….
Tak ada kebanggaan ….

Apa kabar Pak Sulaeman? Semoga selalu sukses dan dalam lindungan Allah Swt. Wassalam … w w.

Semua urusan kepentingan orang banyak haruslah dimusyawarahkan, celakanya kalau yang dijadikan dasar dalam bermusyawarah adalah “memaksakan pendapat untuk kepentingan pribadi atau golongan/kelompok” tentu akan berakibat konflik kepentingan dan pertikaian yang berkepanjangan dan semakin meruncing, lalu timbul masalah : (1) Haruskan TNI dan Polri bertindak sebagai pemadam kebakaran yang memadamkan “api konflik” (2)Biaya Negara yang seharusnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, melindungi tumpah darah, mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan peran dalam perdamaian dunia terpakai dan dampak lain adalah negara kita semakin mundur. Seharusnya seluruh rakyat, seluruh pejabat, seluruh tokoh, berpegang teguh pada dasar yang sama yakni: “Bagaimana berbuat yang terbaik untuk bangsa ini, negara ini, dan kepentingan masyarakat banyak. Saya kira tak ada masalah yang tak dapat dipecahkan jika kita memiliki dasar yang sama dalam praktek bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sadarkah kita betapa nikmatnya hidup rukun, aman dan damai? Semoga pertikaian antar suku apapun tidak pernah terjadi lagi! Semoga pertikaian suku madura dan suku dayak tidak akan pernah terjadi lagi! Semoga semua ini membuat kita menjadi semakin arif, semakin bijaksana, dan semakin mencintai kemerdekaan bangsa ini.

@ Anton H Biantoro, Alhamdulillah baik-baik,semoga bapak Anton juga dalam lindunganNya dan selalu sehat dan bahagia..Amin..!

kNpa dimata masyarakat indonesia jaman kolonialisme selalu dipandang dari segi negatif saja??
saya ingin bertanya pada siapapun yang disana, benarkah kalau negara kita ini dulunya tidak dijajah belanda adakah INDONESIA yang kita kenal saat ini???
harap drespon.

Sebagian besar masyarakat Indonesia merasakan penderitaan, dijaman kolonialisme, terutama ketika kerja rodi yang meninggal mungkin lebih dari seratus ribu orang, karena penyiksaan, kelaparan dan penyakit. — walau belum ada penelitian dengan data yang pasti berapa jumlahnya — (untuk lebih lengkapnya, silahkan baca : “Dampak Penetrasi Budaya”)
Karena politik balas budi Belanda, lalu memberi kesempatan kepada anak-anak para inlander, anak-anak pribumi. terutama yang jabatan orang tuanya paling rendah “Wedana”.
Pertemuan seluruh pemuda dari berbagai suku bangsa ini, melahirkan “Sumpah Pemuda” . Mulai masa Sumpah pemuda, maka bentuk perjuangan secara nasional bukan kedaerahan lagi. Dan kemudian berkembang menjadi berdirinya Negara Indonesia.
Pertemuan, dialog dan diskusi semua pemuda antar suku dari momen sumpah pemuda ini, yang seharusnya dilestarikan, dan diselenggarakan secara berkala, untuk membahas permasalahan tantangan masa depan bangsa ini. Tetapi sangat disayangkan para pemuda sekarang, sudah kehilangan arah, yang ditandai semakin banyaknya tawuran sampai di pelosok nusantara.

hentikan penjajahan merka pd indonesia,

Indonesia Di antara Pertarungan Pengaruh Asing :

Sejak awal Masehi – atau mungkin lebih tua dari itu – wilayah yang kini disebut “NKRI” (Negara Kesatuan Republik Indonesia), bahkan Asia Tenggara telah menjadi wilayah saling silang dan saling padu pengaruh asing semisal Cina, India, Arab, Persia dan Eropa. Hingga abad-16 hal tersebut berlangsung relatif damai, semua untung. Boleh dibilang tidak ada apa yang disebut dengan “penjajahan”.

Suasana damai tersebut berubah pada abad-16, ketika sejumlah bangsa-bangsa Eropa/Barat hadir ke Asia Tenggara – termasuk ke Kepulauan Indonesia. Mereka hadir dengan perilaku yang berbeda dengan bangsa-bangsa sebelumnya, yaitu memaksakan kehendaknya kepada fihak lain sehingga berkobar konflik yang berdarah-darah. Selain bersaing dengan bangsa Asia, mereka juga bersaing sengit dengan sesamanya – juga hingga berdarah-darah. Khusus di Indonesia – waktu itu dikenal dengan “Nederlandsch Indiche”, masuk abad-20 bangsa Eropa yaitu Belanda memastikan diri sebagai pemenang persaingan dan menjadi penguasa/penjajah. Dengan pengecualian di Kalimantan harus berbagi dengan Inggris, di Timor harus berbagi dengan Portugis dan di Papua harus berbagi dengan Jerman dan Australia.

Perang Dunia-2 (1939-45) berakibat sejumlah bangsa-bangsa di Asia Tenggara meraih kemerdekaan, ada yang melalui transisi namun ada yang melalui revolusi semisal Indonesia.

Kemerdekaan yang diraih tersebut ternyata tidak dapat mengembalikan suasana saling silang dan saling padu pengaruh asing untuk berlangsung dengan damai. Sejumlah negara-negara di Asia Tenggara sempat terlibat konflik – yang sedikit banyak dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan di luar wilayah tersebut., mengingat wilayah tersebut bernilai sangat strategis sejak lama. Selat Malaka misalnya, sejak awal Masehi telah menjadi jalur laut penting dan masih demikian walaupun sudah ada pesawat terbang/perhubungan udara. Dengan demikian Asia Tenggara – khususnya Indonesia – masih merupakan wilayah menggiurkan : wilayah luas, letak strategis, alam kaya dan penduduk (umumnya) masih terbelakang. Terlalu berharga diabaikan begitu saja. Akibatnya, kemerdekaan yang diraih ternyata tidak membuat fihak asing berhenti mencari peluang menanamkan pengaruhnya. Supaya negara/bangsa di wilayah Asia Tenggara tetap merasa dekat – kalau perlu terikat/tergantung. Dengan kata lain, penjajahan pada hakikatnya belum mati, ia hanya berganti yaitu cara dan rupa. Penjajahan bukanlah suatu barang antik yang layak masuk museum, ia sukses menembus ruang dan waktu selama dunia masih ada. Bahkan pada zaman kita ini pun penjajahan model zaman batu yaitu pendudukan militer asing di suatu negeri ternyata masih ada semisal Palestina, “Iraq dan Afghanistan. Padahal ketiga negeri tersebut kurang menggiurkan dibanding Asia Tenggara.

Perlu diketahui bahwa penjajahan mencakup 3 hal, dan penjajah berusaha memenuhi keinginannya minimal 1 hal. Adapun 3 hal tersebut adalah :
1. Ekploitasi dibidang ekonomi, inilah motif paling dasar penjajahan. Penjajah berusaha meraih negeri yang sekaya mungkin sumber alamnya untuk mengeruknya dengan memberi pribumi sesedikit mungkin.
2. Dominasi dibidang politik, kekuasaan politik sedapat mungkin dipegang oleh penjajah. Suatu negeri diatur menurut kepentingannya dan pribumi menjadi golongan yang diperintah.
3. Penetrasi dibidang nilai/norma, penjajah sedapat mungkin memasukkan nilai/norma yang mereka anut ke dalam tata hidup pribumi. Nilai/norma tersebut dapat berupa agama atau budaya supaya terdapat kesamaan antara penjajah dengan yang dijajah. Hal tersebut membuat penjajah makin mudah mengatur tanah/warga jajahannya.

Dalam konteks Indonesia pasca Perang Dunia-2 dan perang kemerdekaan/Revolusi 1945 (1945-50), sejumlah kekuatan asing berangsur-angsur kembali menanamkan pengaruh. Hal tersebut begitu tertolong karena ada saja sejumlah anak bangsa yang bersedia menjadi antek, umumnya mereka sudah bermental korup. Demi memperkaya diri, mereka tidak segan-segan menjadi alat fihak asing menggadaikan bangsa dan negaranya dengan sejumlah imbalan. Buat para antek, mereka cenderung tidak peduli apakah sumber daya alamnya dikuasai (dan tentu dikuras) fihak asing. Yang penting dapat bagian.

Yang memprihatinkan, para antek tersebar di segala level – bahkan ada yang menjadi elit di pemerintahan. Jabatan yang mereka sandang serta gaji dari uang rakyat melalui pajak, yang mestinya digunakan untuk mengabdi “habis-habisan” untuk rakyat ternyata diselewengkan untuk tujuan yang berlawanan dengan itu. Melalui mereka, entah sudah berapa banyak sumber daya alam negeri ini yang sudah dikuasai/dikeruk fihak asing. Entah sudah berapa % saham aset nasional yang sudah bukan milik bangsa ini lagi. Indonesia mengalami model penjajahan yang jauh-jauh hari sudah diperingatkan oleh Bung Karno dengan istilah “nekolim” (neo imperialisme/kolonialisme). Tidak perlu ada pendudukan militer asing di Indonesia, negeri ini telah “menyediakan” sejumlah anak bangsa yang menjadi antek yang siap melaksanakan agenda asing.

Selain eksploitasi dibidang ekonomi (yang samar-samar juga disebabkan oleh dominasi dibidang politik yaitu para antek yang menjadi elit), Indonesia juga tanpa terasa juga disusupi oleh berbagai nilai/norma asing : dari yang paling liberal (liberalisme) hingga yang paling radikal/fundamental (radikalisme/fundamentalisme). Setiap kepentingan asing ada anteknya. Negeri ini menjadi lahan pertarungan sengit sejumlah kekuatan asing tanpa kita sadari. Kita jalani hidup sehari-hari semisal pergi ke sekolah, ke kantor, ke pasar atau ke tempat wisata seakan-akan tidak terjadi hal-hal yang krusial di negeri ini.

Pertanyaan yang mungkin muncul, siapakah fihak asing yang turut “bermain” di negeri ini? Siapa yang bertekad meraih minimal sepotong atau secuil pengaruh di negeri ini? Penulis menilai banyak, mungkin sulit dihitung atau dideteksi. Karena itu penulis coba batasi menyebut “para pemain” pada 4 fihak saja, dengan pertimbangan mereka relatif besar berpengaruh di negeri ini.

1. Barat, sudah penulis sebut mereka yang pertama mengenalkan penjajahan pada abad-16. Dimulai sejak penaklukan Kesultanan Malaka oleh Portugis, bangsa Potugis adalah bangsa Barat pertama hadir bukan hanya sebagai pedagang, pelaut atau perantau namun juga sebagai penjajah. Kehadiran Portugis kemudian diikuti bangsa-bangsa Barat lain dengan tujuan serupa semisal Spanyol, Inggris, Belanda dan Perancis. Kehadiran mereka mengundang perlawanan dari pribumi dan juga bangsa-bangsa Asia lainnya. Bangsa-bangsa Asia kelak terpancing untuk berbuat serupa. Perang Dunia-2 yang berakibat harus melepas wilayah jajahan termasuk Indonesia tidak membuat mereka “kapok” untuk hadir kembali (tetap sebagai penjajah) dalam bentuk lain yang sesamar mungkin. Di atas telah disebut peran para antek yang membuat mereka masih punya pengaruh di Indonesia, antara lain faham liberalisme dengan berbagai dalil (atau dalih?) hak azazi manusia dan demokrasi.
2. Jepang, bangsa Asia yang mungkin pertama paling sukses merebut pengaruh dengan cara gerakan militer. Jepang merasa sesak menyaksikan sekitar 80% planit ini dikuasai Barat dengan berbagai istilah : koloni, protektorat atau mandat. Muncul ide bahwa “Asia untuk orang Asia” – yang dapat (dan memang) diartikan bahwa penjajahan di Asia hanya boleh dilakukan oleh orang Asia, dan bangsa Asia yang paling canggih adalah Jepang. Pada awal Perang Pasifik (1941-5) banyak wilayah jajahan Barat di Asia-Pasifik sempat direbut oleh pasukan Jepang. Setelah melalui perang yang dahsyat kekuatan Barat – dengan istilah “Sekutu” – dapat memaksa Jepang menyerah, namun warisan pendudukan Jepang yaitu semangat anti imperialisme Barat memaksa mereka melepas wilayah jajahannya. Dan Jepang sendiri sanggup bangkit dari puing-puing Perang Dunia-2 dan menjadi raksasa ekonomi selama beberapa dekade. Larangan mengembangkan kekuatan militer oleh Sekutu mengalihkan seluruh energi bangsa untuk menjadi kekuatan ekonomi – yang sempat mengalahkan para pemenang perang dunia. Produk-produk Jepang membanjiri seantero dunia. Dan mimpi lamanya yaitu “Kawasan Sekemakmuran Asia Timur Raya” yang gagal dicapai dengan penaklukan militer agaknya tercapai melalui ekonomi. Indonesia kembali menjadi wilayah penyedia bahan baku sekaligus pasar bagi produk Jepang. Kesepakatan kedua negera yang tertuang dalam “IJEPA” (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement) 2007 dinilai sejumlah anak bangsa adalah “penjajahan Jepang jilid-2”, antara lain karena dalam kesepakatan tersebut Indonesia menjamin ketersediaan pasokan energi Jepang dengan LNG. Yang berarti dapat mengancam ketahanan atau kedaulatan energi dalam negeri. Selain itu sejumlah warisan buruk penjajahan Jepang saat Perang Dunia-2 dinilai sejumlah anak bangsa belum tuntas. Perjanjian pampasan perang yang mengawali hubungan diplomatik Indonesia-Jepang pada 1958 hanya mencakup kerusakan materi dan belum mencakup penderitaan lahir batin rakyat Indonesia.
3. Cina, setelah susah payah bangkit dari Perang Dunia-2 dan revolusi yang berbentuk perang saudara yang lama dan kejam, akhirnya terhitung menjadi kekuatan raksasa. Kebangkitan ekonominya berdampak pada kebangkitan militernya. Selain terlibat sengketa dengan Taiwan (Republik Cina) – yang dinilai sebagai provinsi pemberontak, juga terlibat sengketa dengan Jepang, Brunei, Vietnam, Filipina dan Malaysia terkait dengan klaim batas wilayah. Kesepakatan dalam bidang ekonomi yang berwujud perdagangan bebas dengan perhimpunan bangsa-bangsa Asia Tenggara – lazim disebut “ASEAN” – dengan nama “ACFTA” (Asean-China Free Trade Agreement), ternyata berdampak besar bagi Indonesia. Banjir barang produk Cina bagai tsunami membuat para produsen negeri ini meratap dan tiarap, produk dalam negeri ternyata kalah bersaing dengan produk Cina. Hal tersebut berdampak pada kebangkrutan dan pemutusan hubungan kerja. Cina seakan siap menjadi kompetitor Jepang dalam hal ini. Dengan kata lain, Cina mendapat peluang berpengaruh di negeri ini dibidang ekonomi. “Ekspor” faham komunis dan manuver militer agaknya (masih) “jauh panggang dari api”. Indonesia tidak berbatasan langsung dengan Cina dan faham komunis masih dinyatakan terlarang di Indonesia.
4. Arab, agaknya ini kurang diperhatikan padahal usaha meraih pengaruh di negeri ini untuk atau dengan cara bertarung dengan fihak asing lain relatif sudah lama. Sejauh yang penulis tahu, pada akhir abad-18 atau awal abad-19 masuk faham pemurnian agama Islam yang disebut dengan “Muwwahid” namun kelak lebih dikenal dengan “Wahhabi”, nama yang dikaitkan dengan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab. Di Sumatera – tepatnya Minangkabau – sempat muncul revolusi yang awalnya melawan para tokoh adat lokal kemudian melawan penjajah, yang disebut dengan “Perang Paderi”(1821-37). Walau gerakan Paderi dapat ditumpas namun fahamnya tetap hidup hingga kini.

Ada lagi masalah, sebagai akibat cara-cara indoktrinasi ala Orde Baru melestarikan nilai-nilai kebangsaan atau menjadi penafsir tunggal terhadap Pancasila, rakyat trauma dengan segala simbol atau identitas bangsa semisal Pancasila, lagu “Indonesia Raya” – atau pelajaran sejarah bangsa yang disesuaikan dengan penguasa dengan maksud melegitimasi kekuasaan. Pemerintahlah yang menetapkan “siapa yang pahlawan” dan “siapa yang pengkhianat atau musuh bangsa/negara” dalam pelajaran sejarah.Akibatnya ketika rezim Orde Baru tumbang, pelajaran “Pendidikan Moral Pancasila” dan “Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa” dihapus dan dimasukkan ke dalam “Pendidikan Kewarganegaraan”. Inilah yang kelak dinilai sejumlah kalangan menjadi penyebab lunturnya nilai-nilai kebangsaan. Korupsi, kolusi, nepotisme, radikalisme, ekstrimisme, terorisme dianggap sebagai akibat dari lunturnya rasa identitas bangsa.

1. Bangsa ini perlu memperkuat rasa identitasnya sebagai bangsa dengan cara menyajikan kembali pelajaran sejarah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian bangsa ini tahu asal muasal atau proses terbentuknya bangsa dan negara ini. Metoda hafalan (nama orang, nama tempat, nama peristiwa dan tanggal peristiwa) harus diganti dengan metoda renungan atau analisa peristiwa yang dapat ditemukan relevansinya dengan zaman kini. Jadi, terasa ada kesinambungan antara masa lalu dengan masa kini.
2. Jika pelajaran Pancasila harus disajikan kembali, metodanya juga diubah. Jangan pakai metoda hafalan atau indoktrinasi, tapi pakai juga renungan atau analisa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
3. Segala dinamika yang terjadi pada masyarakat segera disimak dan dicari solusinya, jangan terkesan ada pembiaran oleh pemerintah atau menjadi komoditas politik. Hal tersebut perlu untuk memperkecil peluang fihak asing masuk dan bermain di negeri ini sesuai dengan agenda mereka.
4. Kurangi ketergantungan dengan fihak asing, Indonesia memiliki banyak hal yang tak dimiliki sejumlah fihak luar : alam kaya, wilayah luas dan letak strategis sungguh dapat memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat jika dikelola dengan tepat. Kriterianya adalah selalu mengutamakan kepentingan nasional, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.
5. Bangsa ini perlu suatu standar penyaring yang dapat mencegah faham-faham yang merugikan kepentingan nasional masuk ke negeri ini. Dengan demikian segala faham luar dapat memperkaya dan bukan memperdaya bangsa, atau keragaman di dalam adalah kekayaan dan bukan kerawanan bangsa.

Usulan yang disajikan penulis masih dapat dibahas dan bukan satu-satunya kebenaran mutlak, artinya masih terbuka untuk penyempurnaan.

i love indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 174,033 orang
%d blogger menyukai ini: