SULAIMAN Weblog

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Posted on: Maret 7, 2009


Semua upaya penyelengaraan Pemilu, melibatkan pihak pemerintah dan Warga Negara, pemilu akan sukses jika semua usaha dan kegiatan penyelenggaraannya berjalan seiring.

Usaha dari pihak pemerintah antara lain, menjamin sebagian hak-hak Warga Negara dan kewajiban Warga Negara, terutama di bidang politik dengan disahkannya Undang-Undang Pemilu. Dan berusaha terselenggaranya Pemilu yang jujur melalui Komisi Pemilihan Umum.

Usaha dari setiap Warga Negara, antara lain :

1. Mengawasi jalannya Pemilu, jika terdapat kecurangan segera melaporkannya.

2. Mengawasi segala persiapan penyelengaraan Pemilu, jika terjadi penyelewengan atau tindak korupsi, segera melaporkannya.

3. Mengawasi penetapan calon legislative dari tingkat rapat parpol, jika ada yang kurang pantas, maka dalam pemilu jangan dipilih. (Pilihlah calon yang tepat)

4. Semua Warga Negara perlu “rasa legowo” dengan membuang ras kecewa, jika tokoh/calon kita tidak terpilih, hargai suara terbanyak, karena kita satu bangsa, satu Negara, satu pemerintahan. (Rasa fanatik golongan yang berlebihan yang disertai pengangungan berlebihan terhadap tokoh, tentu akan bertentangan dengan makna dan penyelenggaraan demokrasi)

5. Berusaha agar sebelum Pemilu, tidak ada lagi pemaksaan kehendak, atau intimidasi, dari parpol manapun. Dan berusaha agar tidak ada lagi slogan kampanye yang bersifat menyesatkan, seperti : Ini adalah Partai Kiai Indonesia, Ini adalah Partai warisan nabi, dan lain-lain.

Mengingat dijaman penjajahan, berkumpul dan berserikat dilarang sama sekali, apalagi membicarakan Negara dan pemerintahan. Padahal membina Negara/pemerintahan yang baik adalah salah satu hak asasi setiap warga. Karena hanya pemerintahan yang baik, yang akan dapat merubah keadaan menjadi semakin baik. Untuk itu, peran serta setiap warga sangat diharapkan, hilangkan prasangka buruk, dan jangan lagi beranggapan bahwa Pemilu direkayasa. Kalau ada pihak yang tidak transparan tentang hasil pemilu harus dituntut di muka pengadilan.

Sebelum Arief Budiman yang didampingi para aktivis mahasiswa, memproklamirkan gerakan yang mereka namakan “Golongan Putih” tanggal 3 Juni 1971 di Gedung Balai Budaya Jakarta. Gejala dan wacana dari (sikap) tidak memilih dalam pemilu sudah ada sejak tahun 1955, Seruan Golput pada hakekatnya bukan gerakan moral, melainkan suatu usaha agar masyarakat “buta politik”  dan agar masyarakat “tidak lagi mengenal” negaranya/pemerintahannya.

Golput bukan gerakan moral, tapi gerakan kebudayaan peninggalan penjajahan kolonial, merupakan “semacam gerakan amuk massa yang menentang sistim yang berlaku” Keberadaan gerakan yang  tidak berpartisipasi dalam sistim yang berlaku ini, bisa ditandai dengan adanya beberapa parpol yang melakukan gerakan “walk out”,  secara terang-terangan sebagian besar anggota parpol meninggalkan ruang sidag DPR (ketika membahas suatu undang-undang, karena sikap tidak setuju) kejadian ini berlangsung sampai sebelum tahun 1987. (untuk lebih jelasnya silahkan baca :”Dmpak Pnetrasi Budaya”)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang golput adalah haram hukumnya, haruslah dihormati oleh seluruh umat islam, dengan alasan :

1. Fatwa ini hanya menyangkut kepentingan rakyat banyak, bukan kepentingan agama, agar kehidupan di Indonesia semakin baik dimasa mendatang. (untuk memaslahan umat, tentu berpahala, semoga pahalanya ditambahkan oleh Yang Maha Kuasa)

2. Ulama salaf yang wara’ seperti tingkat sufi, selalu berusaha menjaga diri mereka agar tidak melakukan dosa, karena memilih pemimpin yang salah. Maka fatwa ini tentu berguna dan dijadikan acuan. (kalau tidak ada fatwa ini kemungkinan mereka semuanya menjadi golput)

3. MUI harus tetap milik umat dan untuk kepentingan agama semata, serta tidak pernah bersifat duniawi. Jadi bukan untuk kepentingan parpol atau pemerintah, dan keluarnya fatwa bukan pesanan parpol.

Kurang mengenal parpol dan para caleg, karena jumlahnya demikian banyak, bukan alasan yang kuat untuk menjadi golput. Maka pilihlah yang telah dikenal, tentu tidak ada masalah jika banyak bintang film yang menjadi caleg karena lebih terkenal.

Kesimpulan : Golput tidak ada urgensinya, bahkan tidak bermanfaat sama sekali bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, karena :

1. Golput menjadi golongan eksklusif yang berdiri sendiri, yang mengabaikan kepentingan orang banyak, hanya memperhatikan kepentingan golongannya dan pribadinya. (Mengapa jadi demikian, padahal semua orang sama derajatnya ?)

2. Lebih baik memilih yang terbaik dari semua yang terjelek (jika semua caleg dianggap jelek) Atau menyalurkan aspirasi kepada partai yang ada, atau mendirikan parpol baru. Lebih baik ada seribu parpol dari pada ada golput. (akhirnya para parpol akan berkoalisi). Karena golput tidak pernah memberi solusi apapun dalam berbagai permasalahan yang ada.

3. Tidak menggunakan hak pilih dalam pemilu, dengan anggapan bukan merupakan dosa politik adalah keliru, justru dengan membiarkan pemerintahan yang semakin bobrok, karena pejabatnya terlalu lama berkuasa, adalah merupakan suatu dosa. (Kekuasaan sering menjerumuskan seseorang, sehingga ada ungkapan bahwa “ perbedaan pejabat dengan penjahat sangat tipis” – ungkapan ini penulis tidak mengerti karena penulis bukan pejabat public)

4. Kalau tujuan kelompok golput (maksudnya kelompok golput intelektual) adalah menurunkan partisipasi masyarakat sampai tingkat nol, berarti suatu usaha perampasan demokrasi dan mengembalikan Indonesia ke jaman batu, yang tidak ada demokrasi. Akhirnya akan timbul kekacauan, kesewenangan, dan kekerasan dimana-mana di seluruh daerah, yang berujung dengan runtuhnya NKRI.

Penutup. Warga Negara yang baik, tentu tidak menjadi golput, karena berusaha memperbaiki keadaan. Dan kemerdekaan bukan hanya untuk berfoya-foya pesta demokrasi, dengan pemilihan-pemilihan ulang, tapi semua pihak hendaklah berfikir untuk melakukan penghematan, dan membangun ekonomi yang sedang morat-marit.

10 Tanggapan to "Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?"

Seharusnya MUI tidak hanya mengharamkan golput, tapi juga mengharamkan memilih pemimpin yang akan menjalankan hukum dan tatanan masyarakat sekuler dan liberal yang tidak diberkahi Allah.

Silahkan lihat di:
http://sinauislam.wordpress.com/2009/03/01/keutuhan-dan-kesempurnaan-islam/

semoga tidak bangun kesiangan, biar tidak golput saat nyontreng nanti.

@ pedyanto, kalau banyak masyarakat yang mengusulkan MUI demikian mungkin akan dipertimbangkan, yang lebih penting memilih orang yang sangat bertanggung jawab dalam berbangsa dan bernegara, dan berlaku adil (siapapun orangnya)
@ pengendara, pemilu libur, kesiangan dikit masih keburu, betul?

Di mata dunia GOLPUT hanyalah sebuah kerikil yang mengganggu perkembangan politik di lembaga legislatif di NKRI ini karena banyaknya anggota golput menandakan bahwa masyarakat belum sadar politik.
Bagaimana mo maju, jika rakyatnya belum sadar.

Assalamu’alaikum pa Leman,

udah lama nih saya tidak berkunjung…makin OK aja blognya.
Saya ngga akan GOLPUT pa Leman, semoga saya tidak salah menentukan pilihan.
Pa Leman, kalo ada waktu mampir ke blog saya ya, sudah bangun dari mati suri nih hehehe😆

assalamu alaikum wr. wb.

Saudaraku tersayang…
Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

wassalamu alaikum wr. wb.

INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha.
Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
Sebaliknya, putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal
di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasimelakukan suap di Polda Jateng.
Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’. Maka benarlah statemen KAI : “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap”. Bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah sangat jauh sesat terpuruk dalam kebejatan.
Quo vadis hukum Indonesia?

David
(0274)9345675

Besar harapan kita semua, agar para anggota legislatif yang terpilih benar-benar mendukung penegakan hukum demikian pula presiden dan wapres terpilih beserta semua pejabat baru, sehingga hukum di Indonesia semakin baik, sehat, dan benar-benar menegakkan keadilan.

dengan menggunakan hak pilih berarti anda telah ikut andil dalam melanggengkan sistem tata negara yang korup!

sistim tata negaranya mungkin tidak salah, yang korup orangnya. kalau ada peraturan yang membuka peluang untuk korup, peraturannya harus dirubah oleh anggota legislatif pilihan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2009
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 174,033 orang
%d blogger menyukai ini: