SULAIMAN Weblog

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Posted on: Juli 12, 2009


3. Pertarungan antara Kepentingan Duniawi dengan Kepentingan Ukhrowi.

Setiap orang, dalam setiap tingkah lakunya, baik disadari atau tidak disadarinya, dipengaruhi oleh suatu motif perbuatan, ada kemungkinan pada perbuatan yang sama, tapi motifnya berbeda. Yang menjadi motif suatu perbuatan adalah berupa suatu kepentingan atau beberapa kepentingan secara berbarengan. Semua kepentingan tersebut dapat kita bagi menjadi dua, yakni kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrowi. Terjadinya pertarungan antara dua kepentingan tersebut adalah berupa persaingan untuk terpenuhinya keduanya dalam waktu, detik, tempat, situasi, dan keadaan yang bersamaan. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dibahas : (a) Motif tingkah laku manusia, (b) Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi, (c) Akibat dari kurangnya memahami  pengertian duniawi dan ukhrowi, (c) Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.

a. Motif tingkah laku manusia.

Menurut teori Abraham H Maslow tentang hierarkhi dari lima tingkat kebutuhan manusia dan teori ERG Clayton Alderfer tentang tiga tingkat kebutuhan manusia, bahwa kebutuhan yang paling rendah adalah pemenuhan kebutuhan fisik. Walaupun kedua teori ini mengandung kebenaran; tetapi tidak dijelaskan bagaimana cara pemenuhannya, dan pada praktiknya apa motif dari suatu perbuatan. Sebenarnya suatu kepentingan atau beberapa kepentingan yang tidak bisa kita prediksi begitu saja, demikian pula jenjangnya sampai hierarkhi yang mana, dan tidak bisa diprediksi pertumbuhan semua motifnya secara progresiv. Kenyataannya semua kepentingan yang menjadi motif tingkah laku demikian kompleks. Contoh berikut mencoba menjelaskan perbedaan motif dari suatu perbuatan yang sama :

1). Orang yang lapar, harus makan untuk mempertahankan hidupnya, ketika tidak punya uang untuk membeli makanan, dia merebut makanan orang lain dan atau mencuri makanan orang lain. Maka motif perbuatan merebut dan atau mencuri adalah lapar.

2). Ketika semua orang sedang kelaparan dan kehausan, maka pada waktu itu terjadi perubahan nilai, yakni nilai makanan dan minuman menjadi lebih mahal dari emas, dan emas nilainya turun, sehingga banyak orang yang mau menukarkan emasnya dengan makanan dan minuman. Terjadilah perebuatan dan atau pencurian makanan dan minuman, walaupun mereka sudah kenyang, walaupun mereka sudah kaya. Maka motif perbuatan merebut dan mencuri adalah perubahan nilai.

Dari contoh di atas, secara sekilas, kita hanya melihat terjadinya perbuatan yang sama yakni perebutan dan pencurian makanan. Tetapi jika kita teliti apa yang menjadi latar belakang kepentingannya, maka kita baru bisa membedakan motifnya, bahwa kedua contoh perbuatan di atas motifnya berbeda.

b. Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Meneliti dan memperhatikan yang melatarbelangi dan atau menjadi motif setiap tingkah laku, yang berupa berbagai kepentingan, serta untuk dapat mengklasifikasikan semua kepentingan, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, terlebih dahulu kita tentukan batasannya, sebagai berikut :

1). Batasan kepentingan duniawi.

Bahwa orientasi kepentingan duniawi bersifat serba dunia yang nyata dalam kehidupan sehari-hari ini, awalnya pelaksanaannya lebih bertitik berat pada kepentingan dan kebutuhan yang bersifat fisik semata, semua kepentingan duniawi lebih sejalan dengan hawa nafsu dan terkadang bertentangan dengan hati nurani. Perumpamaan upaya untuk kepentingan duniawi seperti investasi untuk kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat jangka pendek. Terpenuhinya kepentingan duniawi dapat dilihat secara nyata, seringkali dianggap berhasil dalam hidup ini, dipuji dan disanjung, dielu-elukan dan dipandang terhormat oleh orang banyak.

2). Batasan kepentingan ukhrowi.

Bahwa orientasi dari kepentingan ukhrowi, adalah bersifat persiapan untuk kehidupan yang lebih langgeng, lebih kekal dan lebih abadi di masa mendatang, awalnya pelaksanaannya lebih betitik berat pada pengabdian yang tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kekal, semua kepentingan ukhrowi lebih sejalan dengan hati nurani dan terkadang bertentangan dengan hawa nafsu. Perumpamaan upaya untuk kepentingan ukhrowi seperti investasi untuk kehidupan kekal yang bersifat jangka (sangat) panjang. Terpenuhinya kepentingan ukhrowi tidak dapat dilihat secara nyata, Seringkali orang yang berhasil dalam kepentingan ukhrowi diabaikan dan tidak diperhatikan, karena tidak secara langsung dapat dilihat oleh orang lain.

Dengan kedua batasan di atas, maka kita dapat membuat perbandingan, dan tinjauan tentang semua tingkah laku kita, yang kemungkinan bisa merupakan refleksi dari kepentingan duniawi atau kepentingan ukhrowi.

c. Akibat dari kurangnya memahami pengertian tentang kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Kurangnya pengertian dan pemahaman yang menyeluruh tentang kedua kepentingan duniawi dan ukhrowi, mengakibatkan terjadinya :

1). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan duniawi, berakibat :

a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan duniawi dalam hidupnya, adalah sekuler, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena isinya hanya kepentingan dunia saja, lalu memisahkan agama dari dunia.

– Apakah mereka yang bekerja siang malam mencari makan bertentangan dengan agama?

– Apakah akhirnya mereka meninggalkan ajaran-ajaran agama?

b). Pengaruh dari kepentingan duniawi yang berlebihan, akan bersifat negatif pada kehidupan seseorang sehari-hari. Contoh sederhananya : “orang yang materilistis” akan cenderung hidupnya menjadi egoistis dan mengabaikan nilai-nilai luhur lainya, walaupun hal ini tidak terjadi pada semua orang, Akan tetapi pengabaikan terhadap hak kepemilikan dan pripacy seseorang akan membuat kehidupan secara umum menjadi kacau balau.

2). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan ukhrowi, berakibat :

a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan ukhrowi dalam hidupnya, adalah teroris, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena hanya berpegang pada dogma-dogma agama yang kaku secara membabi-buta, atau secara taklid buta, lalu merasa paling benar dan menganggap siapa saja yang di luar lingkungan kelompok agamanya dianggap salah, dan dianggap musuh dan harus diperangi.

– Apakah perbedaan pendapat adalah musuh? (termasuk perbedaan mazhab, perbedaan aliran dalam agama)

– Apakah perbedaan menganut agama adalah musuh?

– Apakah akhirnya agama dijadikan alat pembenaran atas tindakan biadab, atas tindakan tidak berperikemanusiaan atas tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia?

b). Setiap orang yang berupaya untuk kepentingan ukhrowi, dianggap melakukan hal yang tidak mungkin, lalu dicaci dan dicemoohkan sebagai “orang yang bego, orang tolol” karena ada kesempatan maling dan korupsi tetapi tidak dilakukannya. Padahal sebenarnya, bahwa “orang yang berusaha hidup jujur”, kehidupannya akan lebih tenang dan tidak akan masuk penjara karena ketidakjujuran. Tetapi sebaliknya pengabaikan kepentingan duniawi akan bertentangan dengan hukum alam, seperti seseorang yang melakukan pengabdian seumur hidupnya untuk Tuhannya, tanpa makan (puasa atau bertapa non stop), tanpa kawin (membujang seumur hidup), tanpa tidur (siang malam beribadah). Karena menurut hukum alam, setiap orang perlu makan, perlu tidur, perlu kawin dan lain-lain.

c). Adanya anggapan bahwa kepentingan ukhrowi adalah kepentingan surgawi, oleh karena itu ada sebagian orang mencoba menciptakan “semacam surga” pada kehidupan nyata sekarang ini, tetapi upayanya hanyalah menciptakan kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Karena kehidupan di dunia sekarang ini tetap ada penderitaan dan kesengsaraan. Akhirnya usahanya tidak pernah berhasil, kegagalannya, antara lain ditandai dengan lingkungan alam kita semakin rusak, polusi udara dan lingkungan yang semakin buruk tentu semuanya berakibat buruk bagi kesehatan kita, disamping berkembangnya berbagai penyakit baru seperti HIV AIDS, Flu Burung, Flu babi, dan lainya lagi, serta bertambahnya jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

D. Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Jika ditinjau dari kedua batasan kepentingan di atas, maka teori Maslow dan ERG Clayton Alderfer, hanyalah kepentingan duniawi semata, maka koreksi adanya sutau tujuan yang lebih tinggi merupakan kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama, (Stephen R. Covey dalam bukunya First Things First) bukan hanya kebutuhan spiritual, tetapi yang lebih spesifiknya adalah kepentingan ukhrowi.

Bagaimana praktik pemenuhan kedua kepentingan di atas, agar tidak terjadi tumpang tindih atau bahkan bertentangan, terlalu banyak kendala untuk membuat formula yang tepat bagi setiap orang, karena situasi, kondisi dan keadaan setiap orang berbeda-beda, jadi apa yang dilakukan orang lain belum tentu sesuai untuk pribadi kita, dan sebaiknya kita tidak menilai tingkah laku seseorang hanya dari luarnya saja. Dan kemungkinan nasehatpun belum tentu sesuai benar dengan kenyataan yang dihadapi. (walaupun kita tahu bahwa nasehat yang baik dan bermutu selalu berguna)

Catatan : Kesulitan dalam meninjau perbuatan kita sendiri, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, biasanya disebabkan karena kepentingan duniawi lebih mudah untuk dimengerti dari pada kepentingan ukhrowi. Kesulitan ini ditandai dengan adanya anggapan bahwa semua tingkah laku kita adalah kepentingan duniawi saja.

4 Tanggapan to "Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)"

bagaimana dengan lingkungan kerja…..
berapa persen yang membela duniawi, berapa persen yang membela ukhrowi ??

Sebeluumnya perlu kita buktikan dua buah aksioma :
Pertama : kalau motif tingkah laku semua orang adalah dua kepentingan (duaniwi dan ukhrowi) tersebut, maka kehidupan ini akan lebih bahagia.
kedua : kepentingan duniawi nyata dapat kita nilai dari hasilnya/outputnya berapa persen, sedangkan menilai motif ukhrowi dari hasilnya tidak bisa diukur berapa persen.
Contohnya dari segi niat : kalau niat kerjanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari berarti 100% duniawi, tapi jika disertai niat untuk ibadah,pengabdian pada tuhan, dan membuat pahala untuk akhirat berarti 100% ukhrowi. Maka dari segi niat, jika kedua niat bersamaan berarti 100% kepentingan duniawi dan 100% kepentingan ukhrowi. Segi lainnya silahkan diperbandingkan.

duniawi dan ukhrowi harus sebanding meskipun apa yang dilakukan berdasarkan duniawi, pasti ukhrowi mengikuti secara paralel. namun perhitungannya tak dapat dibandingkan karena beda alam.😆 tapi kalo mo beda ganti tampilan ajah.
salam superhangat

Hanya kita yang tahu, umpama tentang niat kita (umpama 100% duniawi sekaligus 100% ukhrowi – dalam waktu dan tempat yang bersamaan – ) orang lain tidak tahu, demikian pula kita tidak tahu niat orang lain.
Kita hanya melihat dari luar, umpama tentang mencari uang dengan bekerja.
– ditinjau dari kepentingan duniawi, seharusnya beratnya beban kerja yang sudah dikerjakan – 100% sesuai – dengan besarnya upah yang diterima. (bila tidak sesuai berarti ada pihak yang melakukan penzoliman atau ada pihak yang melakukan pengambilan hak orang lain)
– ditinjau dari kepentingan ukhrowi, seharusnya upah yang diterima – 100% halal sesuai dengan aturan agama. (bila tidak sesuai berarti ada pihak yang melakukan penzoliman atau ada pihak yang melakukan pengambilan hak orang lain)
Masalahnhya bukan beda alam yang tidak bisa dibandingkan, tapi mari kita berfikir dari dua segi kepentingan – kalau hanya dari satu segi, dikhawatirkan kita akan termasuk orang-orang yang merugi. (dikemudian hari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Juli 2009
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 174,033 orang
%d blogger menyukai ini: