SULAIMAN Weblog

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

Posted on: Januari 4, 2010


Telah berpulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, mantan presiden Republik Indonesia keempat, KH. Abdurahman Wahid, pada hari Rabu 30 Desember 2009 jam 18.45 WIB. di Jakarta  dan dimakamkan tanggal 31 Desember 2009 jam 13.35 WIB. di Jombang, Jawa Timur.

Saat pemakaman beliau, banyak dihadiri oleh para pelayat dari berbagai kalangan sampai masyarakat bawah, dari semua elemen masyarakat dan dari semua pemuka agama. Semua pelayat tidak sanggup menahan kesedihan, karena haru dan duka yang mendalam, mengiringi kepergian beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Prosesi pemakamannya dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara protokoler kenegaraan dengan upacara militer, maka   keluarga dan masyarakat merasakan “ada batas dan ada jarak”,  karena mereka semua ingin ikut mengurusnya dan menguburkannya secara langsung.

Pelaksanaan pemakaman dengan upacara resmi kenegaraan seperti ini, biasanya dilaksanakan  di tempat pemakaman “Taman Makam Pahlawan”, tetapi pelaksanaan pemakaman  kali ini dilaksanakan di komplek Pondok Pesantren Tebuireng.   Pelaksanaan di pondok pesantren ini merupakan kejadian langka  dan baru pertama kali.

Pada malam jum’at tanggal 31 Desember 2009, dilaksanakan tahlilan dan doa setelah sholat magrib, di depan makam KH Abdurrahman Wahid, suasana sedih tidak hanya terasa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang,tetapi juga di pondok-pondok pesantren di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang melaksanakan kegiatan serupa. Dan selanjutnya kagiatan tahlilan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut.    Pada tanggal 1 Januari 2010 dilaksanakan sholat gaib dan doa bersama untuk al marhum setelah pelaksanaan sholat jum’at di masjid-masjid, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Saat pergantian tahun baru 2010 ini, walaupun semua warga Indonesia berantusias ingin ikut “merayakan tahun baruan”, sebagai “Tradisi Tahunan” di Indonesia dengan berbagai acara termasuk adanya kembang api yang meriah, tapi tetap masih terasa suasana berkabung atas wafatnya mantan Presiden Republik Indonesia keempat KH. Abdurrahman Wahid.

Seluruh rakyat, warga dan bangsa Indonesia bersedih, berduka, berkabung dan merasa kehilangan atas wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, momentum ini dijadikan “Hari Berkabung Nasional” yang ditandai dengan menaikkan bendera merah putih  setengah tiang, selama tujuh hari diseluruh wilayah Republik Indonesia.

Bukan hanya umat islam yang merasa kehilangan, tapi juga umat dari agama lain, ribuan orang lintas agama mendoakan KH Abdurrahman Wahid pada malam kamis itu di berbagai tempat. Dan selanjutnya doa yang dipanjatkan untuk beliau, tidak hanya di masjid-masjid, tapi juga di gereja-gereja, di vihara-vihara, di klenteng-klenteng, atau di tempat-tempat ibadah lainnya. (Didoakan oleh umat dari agama lain ini adalah kejadian yang langka dan luar biasa)

Pribadi yang unik

KH. Abdurrahman Wahid yang lebih akrab dipanggil “Gus dur” terkenal memiliki pribadi yang unik sejak masa santrinya, anatara lain :

1.    Beliau terkenal sebagai santri yang “kutu buku” (suka membaca), tapi suka bergaul.   Beliau tidak sama dengan kutu buku lainnya, yang umumnya bersifat pendiam dan lebih suka menyendiri.

2.   Kebiasaan beliau  setiap pagi membaca surat kabar harian (koran), tentu saja kebiasaan ini berbeda dengan kebiasaan santri di pondok pesantren yang setiap pagi membaca kitab suci Al Qur’an.

3.   Beliau lebih gemar bermain dari pada ikut mengaji atau ikut pelajaran di kelas, tetapi yang membingungkan para gurunya, walaupun jarang mengikuti pelajaran di kelas, beliau dapat menjawab semua pertanyaan dan menguasai semua pelajaran dengan baik. (Beliau terkenal pandai dan brillian)

4.   Beliau bergaul dengan siapa saja, tanpa membedakan agama, tidak seperti para santri yang  umumnya membatasi pergaulan dengan orang-orang di luar islam.

5.   Beliau menyenangi musik, sering mendegarkan lagu-lagu dan berjiwa seni, tidak seperti para santri yang umumnya tidak menyenangi musik, bahkan ada kiai yang mengharamkan musik.

Tokoh Kharismatik

Kiai Gusdur adalah  ulama yang negarawan, dan budayawan yang intelek, juga dikenal sebagai seorang tokoh masyarakat yang berwibawa dan karismatik. Pribadi beliau demikian mengagumkan, masyarakat merasakan bahwa pesonanya, wibawanya, kharismanya dan daya tariknya demikian kuat, sehingga pengagumnya, pengikutnya dan pencintanya selalu bertambah.

Beberapa orang berpendapat, bahwa wibawa dan kahrisma yang dimiliki oleh Kiai Gusdur hampir sama seperti wibawa dan kharisma yang dimiliki oleh presiden pertama Republik Indonesia  Ir. Soekarno.

Sikap dan tutur katanya menjadi panutan, ditaati dan diikuti oleh masyarakat umum, mungkin karena jiwa kepemimpinannya dan leadershipnya yang demikian menonjol, disamping beliau adalah manajer yang baik. Beliau adalah tempat bertanya, bagi siapa saja yang mengalami kesulitan.  (Beliau mampu memberikan jalan keluar dan solusi mengatasi suatu permasalahan sulit)

Pengikut yang fanatik

Tidaklah mengherankan, jika  masyarakat umum yang mengidolakan Kiai Gusdur berusaha untuk selalu dekat dengannya dan akhirnya menjadi pengikutnya yang taat. Tetapi umumnya mereka yang jadi pengikut yang taat,  tidak mengerti atas semua ucapan, pernyataan, dan sikap Kiai Gusdur atau mereka sebenarnya telah menjadi fanatik.  Jadi mereka adalah para pengikutnya yang mencintainya secara berlebihan.  (menurut para pengikut  yang fanatik, apapun yang dikatakan Gusdur pasti benar)

Kelompok masyarakat yang fanatik terhadap Kiai Gusdur ini, kadangkala berlebihan  dalam mengagungkannya dan memujanya, sampai mengkultuskannya sebagai wali, atau setengah dewa. Padahal Kiai Gusdur sendiri, tidak ingin dirinya dikultuskan demikian. (Dari semua perkataan dan pernyataan Kiai Gusdur, tidak ada yang menunjukkan bahwa dirinya ingin dikultuskan)

Besar kemungkinan, bahwa jumlah pengikutnya yang fanatik akan selalu bertambah, terutama setelah menyebarnya isu bahwa “Gusdur adalah wali”.  Sekarang mereka “kehilangan pegangan” dengan wafatnya Kiai Gusdur, mereka “seperti anak ayam yang kehilangan induknya”,  seiring  berjalannya waktu, tidak tertutup kemungkinan mereka melakukan “semacam improvisasi atau semacam sublimasi” dengan menuhankan Gusdur atau akhirnya  mereka beranggapan bahwa ruh Gusdur adalah tuhan.

Awal gejala menuhankan Gusdur, ditandai dengan banyaknya peziarah yang mengambil atau membawa pulang, secuil tanah atau benda apapun dari sekitar kuburan Kiai Gusdur, untuk dijadikan “semacam jimat”.  Maka pihak pengurus kuburan  dari pesantren, menjadi sangat kerepotan karena para peziarah banyak yang berprilaku seperti ini.  Maka prilaku para  peziarah yang tiada henti setiap hari, mengakibatkan pengurus kuburan harus menguruk dan merapikan kembali tanah sekitar makam.

Memang tidak semua peziarah adalah pengikut fanatik Kiai Gusdur, karena berziarah ke kuburan siapapun adalah perintah agama untuk mendoakan almarhum, untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar diampuni dosanya, dan agar diangkat derajatnya di sisiNya. Kesalahan para pengikut yang fanatik karena berdoanya salah, bukan mendoakan almarhum, tapi memohon hal-hal lain, atau mungkin karena niatnya salah.

Kelompok fanatik Kiai Gusdur ini, selalu merasakan adanya ikatan emosional dengan Kiai Gusdur, hal ini ditandai dengan :

1.    Mereka mendukung siapa saja yang berusaha untuk lebih memuji dan lebih mengharumkan nama baik Kiai Gusdur, contohnya : kelompok pengikut fanatik,  mendukung usulan agar Kiai Gusdur dijadikan pahlawan nasional, usaha mereka dari mengumpulkan tanda tangan, sampai mereka melakukan demonstrasi dengan membubuhkan “Cap jempol darah” seperti terjadi  di Cirebon, Jawa Barat.

2.   Mereka memprotes siapa saja yang berusaha menjelekkan nama baik Kiai Gusdur, atau menyinggung perasaan Kiai Gusdur, contohnya : Pelawak Miing pernah  didemonstrasi, karena  salah satu lawakannya, dinilai menjelekkan nama baik dan menyinggung perasaan Kiai Gusdur. (padahal Kiai Gusdur sendiri bersikap terbuka, dan menerima kritik apapun. Sikap Kiai Gusdur ini bertentangan dengan sikap para pengikutnya yang fanatik, yang bersikap tertutup dan tidak dapat menerima kritik apapun)

Tokoh kontroversil

Kepribadian Kiai Gusdur yang sederhana, dan kebiasaannya yang tetap tidak berubah, dari masa santri sampai menjadi pejabat tinggi negara, telah menjadikan beliau sebagai tokoh kontroversil.

Hal-hal yang menarik perhatian masyarakat umum dari sikap kontroversilnya, antara lain :

1.   Beliau tetap suka humor, membuat suasana menjadi hidup dimanapun beliau berada, dan  kalau beliau ditanya dengan pertanyaan yang bersifat rumor, beliau menjawab dengan nada ringan : “Gitu aja, kok repot”. (masyarakat merasa  kaget dan aneh, mengapa pejabat tinggi negara, berbicara ceplas-ceplos dan asal jadi bicara seperti ini?)

Menurut beliau, sikap suka berkelakar dan suka bercanda dengan siapa saja, tidak akan menjatuhkan mana baik dan wibawanya. Sikap ini membuat kisruh atau salah tingkah para pejabat bawahannya. Karena sikap para pejabat pada umumnya, tidak suka bercanda dengan yang tidak selevel, hal ini dianggap akan berakibat  menjatuhkan pamor, nama baik dan wibawa. (Kebiasaan beliau bertentangan dengan kebiasaan umum para bawahannya)

2.    Umumnya para pejabat,  pada level apapun, bersikap angker, seram, keras, tegang, dan sangat menjaga jarak dengan siapapun, demi menjaga pamor, nama baik dan wibawa, bila perlu dengan berbagai upaya, akting dan improvisasi. (yang mengherankan, mengapa tidak bersikap menjaga jarak, dan sikap kontroversil Kiai Gusdur bukanlah dibuat-buat, bukan akting, bukan improvisasi dan bukan kepura-puraan, semuanya terjadi dan berjalan secara alamiah?)

3.   Terjadinya perbedaan pendapat yang tajam antara beliau : (a) dengan para ulama Nahdatul Ulama (NU), (b) dengan para intelektual dan cendekiawan, (c) dengan para politisi, serta (d) dengan beberapa kelompok kecil masyarakat. (jika berbeda pendapat dengan begitu banyak orang, mana yang benar?)

3.   Semua pernyataan dan sikap Kiai Gusdur sendiri yang di luar dugaan, tentu saja menarik perhatian umum, dan selalu menjadi bahan berita yang menarik bagi media massa, banyak berita di media masa yang bercampur aduk antara rumor dan kenyataan,  Beliau sendiri tidak mau menjelaskannya atau mengklarifikasikannya. Maka masyarakat umum, ada yang merasa kecewa, gemes, gregetan, ngeselin, dan juga yang ikut “merasa pusing”, dan ada yang merasakan “kok suasana tambah semrawut” , sehingga ada juga yang menjadi kurang menghargainya.

Mempelajari sikap kontroversilnya

Semua sikap kotroversil Kiai Gusdur selama memimpin bangsa ini, sepatutnya dipelajari demi kebaikan bangsa ini mendatang, dan untuk itu dalam mempelajarinya haruslah dengan kritis, logis, dan rasional bukan dengan tahayul atau  khurafat, dan bukan pula dengan hal-hal yang tidak logis dan tidak rasional.

Tujuan mempelajari sikap kontroversil Kiai Gusdur, yakni :

1.  Menggali, menemukan dan memahami nilai-nilai yang menjadi dasar sikap kontroversilnya, bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk pembenaran dari sikap kotroversilnya, tapi sebagai upaya untuk mencari nilai apa yang mendasari  dari setiap sikap kontroversilnya.

2.  Mendapatkan suatu pengertian dan pemahaman yang benar dari sikap kontroversil Kiai Gusdur, yang kemungkinan dapat menghindari kesalahpahaman dan  meredam munculnya suatu paham “Gusdurisme yang keliru”.

Bila diteliti, nilai-nilai yang mempengaruhi dan mendasari sikap kontroversilnya  tersebut, dapatlah disimpulkan, bahwa nilai-nilai yang dimaksudkan merupakan gabungan atau kristalisasi kaidah-kaidah pokok sebagaimana tersurat dalam kitab-kitab “atsar” 1),  antara lain :

Kaidah Pertama : “lisanul hal afshohu min lisanil maqol wa ahammu min ‘ibadah binafsih”

لسان الحال افصح من لسان المقال و أهمّ من عبادة بنفسه

“Pengamalan agama secara realitas lebih fasih dari penjelasan yang gamblang dan lebih penting dari pelaksanaan ibadah secara pribadi.”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.   Kiai Gusdur tidak sependapat dengan siapa saja yang banyak teori atau banyak rencana, tapi kurang atau sedikit praktiknya secara substantial, beliau tidak sependapat dengan pengamalan agama secara kaku dan kurang proporsional. Dalam hal ini terkadang beliau bersikap tegas. Jika ada kelompok kecil umat islam yang masih berpandangan kolot dan kaku yang sempat menerima sikap tegas dari Kiai Gusdur ini, mereka menjauhi Kiai Gusdur. (mereka merasa tidak mau dimarahi lagi oleh Kiai Gusdur, padahal Kiai Gusdur bukan marah tapi menjelaskan hal-hal yang substantial  secara tegas, sayangnya penjelasannya sering disampaikan secara ringkas, sehingga yang terkesan hanya marah-marahnya)

2.   Memicu terjadinya pertentangan yang tajam antara Kiai Gusdur dengan para ulama Nahdatul Ulama (NU), karena para ulama NU. lebih mementingkan pada pelaksanaan ibadah secara pribadi, mereka sama sekali tidak mau terlibat dengan urusan kekuasaan (yang bersifat duniawi).  Kiai Gusdur justeru sebaliknya, malah  berambisi kekuasaan dan selalu ingin menjadi orang yang berkuasa.  (kata Kiai Gusdur : “masih mau jadi presiden, enak jadi presiden”)

3.   Umat islam secara umum  menjadi bingung, karena para ulama NU  yang dipimpin oleh Kiai Gusdur berbeda pendapat tentang Kiai Gusdur, bahkan ada yang mengatakan Kiai Gusdur sebagai seorang kiai yang aneh dan nyeleneh, tapi ada juga ulama yang setuju dengan semua yang dilakukan oleh Kiai Gusdur.

Kaidah Kedua :  “Laisa tadbiir wa taqoodum li tafakhoom wa takabbur, walakin limashlahatil Ummah”.

ليس تدبير و تقدّم لتفاخر و تكبّر ولكن لمصلحة الأمة

“Segala upaya dan kemajuan bukan dimaksudkan untuk bermegah-megahan dan berbuat yang kurang sesuai dengan keadaan, tetapi dimaksudkan untuk kebaikan umat.”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Memicu terjadinya pertentangan yang tajam antara Kiai Gusdur dengan kaum intelektual. Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengajak Kiai Gusdur untuk bergabung, maka Kiai Gusdur menolaknya dengan tegas. Seharusnya ICMI melakukan introspeksi ke dalam, Ada apa yang salah dengan ICMI?  Apakah mengambil sikap menjauhi Kiai Gusdur merupakan sikap yang tepat dari para intelektual? Kiranya semua ini perlu dikaji ulang? Ataukah kaidah yang menjadi dasar pada Kiai Gusdur yang keliru?

2.  Memicu terjadinya petentangan yang tajam  antara Kiai Gusdur dengan para politisi, karena Kiai Gusdur menilai para politisi telah “bermegah-megahan, berbuat yang kurang sesuai dengan keadaan serta kurang terarah untuk kebaikan umat”, terutama ketika Kiai Gusdur melontarkan pernyataan : “DPR dulu TK sekarang playgroup”. (Tentu saja, pernyataan ini dianggap menghina lembaga tinggi Negara dan banyak para politisi merasa tersinggung)

3.   Masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak mengerti, kalau kaum terpelajar saja banyak yang tidak mengerti atas pernyataan dan sikap Kiai Gusdur, kalau kaum cendekiawan saja bingung dengan sikap dan pernyataan Kiai Gusdur, apalagi masyarakat umum dan orang awam, tentu lebih bingung lagi.

4.   Presiden dengan para politisi yang seharusnya bekerjasama dalam membangun bangsa ini disegala bidang, tapi kenyataannya justeru berseteru dan bertentangan dengan sangat sengit, maka seluruh rakyat jadi bingung, mau jadi apa negara ini?

Kaidah Ketiga : “Arroiis khodimul Ummah”

الرئيس خادم الأمّة

“Pemimpin adalah pelayan masyarakat umum”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Istana yang selama ini tertutup bagi rakyat  biasa, berubah menjadi semakin terbuka bagi rakyat kecil, karena sikap Kiai Gusdur yang tidak berubah sikapnya seperti sikap pelayan masyarakat, atau lebih bersikap seperti santri yang biasa melayani masyarakat yang didasari oleh jiwa pengabdian yang ikhlas, itulah jiwanya para alim ulama (ruuhul  ‘ulama-ul mukhlishin). Tentu rakyat merasa janggal, bila melihat presidennya di istana melambaikan tangan dengan memakai celana kolor.

2.  Ketika beliau berkunjung ke teman-temannya  atau  berkunjung ke pesantren-pesantren, beliau  tidak mau dikawal, membuat protokoler kepresidenan dan Paspampres menjadi sangat kerepotan. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan presiden, dan bertentangan dengan kebiasaan pejabat tinggi negara. (mingkin, masih banyak kebiasaan lain yang kurang pas  sebagai pejabat tinggi negara)

Kaidah Keempat : “la tuakhkhiru ‘amalal yaum ilal ghod”

لا تؤخّر عمل اليوم الى الغد

“Jangan menunda pekerjaan detik ini, hari ini untuk dikerjakan besok”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Bertambahnya kesibukan protokoler kepresidenan, disebabkan Presiden Gusdur menyadari banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga banyak acara yang tiba-tiba berubah, dan banyak rute jalan presiden yang tiba-tiba berubah. (sibuknya, karena semua perubahan sering di luar dugaan, dan bagi bawahannya tidak mungkin bersikap masa bodoh, jika presiden sibuk atau kemana-mana tanpa persiapan)

2.  Banyaknya kunjungan ke luar negeri selama masa jabatannya ( 80 kali perjalanan) dengan biaya negara, menimbulkan tuduhan bahwa Presiden Gusdur melakukan pemborosan uang Negara dengan banyaknya “jalan-jalan” ke luar negeri.  (Apakah tujuannya hanya jalan-jalan belaka, kalau beliau sendiri kurang menikmatinya karena cacad fisik?)

Kaidah Kelima :  “Hubbul wathon minal imaan”

حبّ الوطن من الإيمان

“Cinta pada tanah air sebagian dari keimanan”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.   Berdasarkan cintanya kepada tanah airnya, melahirkan “semangat demokrasi dan pluralisme untuk Indonesia yang bersatu, damai dan sejahtera”. Maka Kiai Gusdur mendapat gelar sebagi guru demokrasi dan bapak pluralisme. Semua ini sesuai dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang bagi beliau tidak hanya  sebuah semboyan yang mati, tetapi menjadikan semboyan ini benar-benar diamalkan.

2.   Berdasarkan cintanya pada tanah air, mendorongnya untuk selalu berpegang teguh pada cita-cita luhur bangsa, kesepakatan bangsa, maka Kiai Gusdur mempunyai komitmen yang kuat pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta selalu berusaha menciptakan Indonesia yang bersatu, dan berupaya mencegah perpecahan apapun, berusaha mengangkat semua golongan minoritas yang tertidas atau terabaikan, merangkul semua kolompok masyarakat tersisihkan atau terhinakan, menciptakan persamaan harkat dan derajat semua suku dan semua kelompok masyarakat di Indonesia, dan berusaha menciptakan kerukunan beragama dan kebersamaan dengan hidup berdampingan secara damai. (cinta pada rakyat yang terbaik adalah berlandaskan cinta pada tanah air.  Dan  rasanya tidak logis, jika tidak mencintai rakyat, tapi ingin dicintai oleh rakyat, atau saat mencintai rakyat hanya saat kampanye saja dengan mengumbar janji-janji)

Kesimpulan

1.   Sebagai manusia biasa, tentu Kiai Gusdur memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya (cacad fisik) banyak membatasi aktifitasnya, akhirnya timbul rumor yang beredar, bahwa sikap kotroversil Kiai Gusdur karena kesalahan “juru bisik Presiden”.  Kiranya semua rumor itu tidak benar, dan kalau kesehatan Kiai Gusdur sempurna secara fisik, mungkin dalam masa jabatannya yang singkat akan lebih banyak prestasi yang dapat diukirnya untuk bangsa ini.

2.  Tidak dapat diprediksi, sikap berlebih-lebihannya dalam penghormatan, penghargaan, pengagungan dari para pengikut fanatik terhadap Kiai Gusdur, dan kemungkinan kalau kuburan Gusdur di pegunungan yang sepi, mungkin dalam sekejap berubah menjadi tempat yang ramai, dengan berdirinya tempat perklenikan atau perdukunan baru. Tentu akan terjadi keributan yang akan merepotkan pihak keamanan.

3.   Jika tidak ada usaha untuk merasionalkan sikap kontroversil Kiai Gusdur. Maka kemungkinan yang akan lebih berkembang adalah asumsi, pikiran-pikiran yang tidak rasional dan tidak logis. Usaha merasionalkan sikap kontroversilnya, tentunya  diarahkan untuk kebaikan bangsa ini mendatang.  Masih banyak sikap kontroversilnya yang belum dapat dijelaskan. (sumbang saran dari pembaca untuk pencapaian tujuan mempelajarinya tersebut di atas sangat dibutuhkan)

4.   Apakah akan terbukti sebuah kaidah dari teori sosiologi: “Jika pemimpinnya aneh, maka masyarakat yang dipimpinnya akan menjadi aneh”.   Apakah masyarakat Indonesia sekarang sedang berkembang menjadi “masyarakat yang aneh”?  Mari kita simak perkembangan masyarakat Indonesia selanjutnya.  Dan semoga saja kaidah ini tidak terbukti.

Penutup

1.   Semoga seluruh amal ibadah Kiai Gusdur diterima, diampuni semua dosanya dan diberikan tempat yang sesuai baginya di sisi Allah SWT. Yang Maha Kekal,  Amin.

2.  Memasuki tahun baru 2010, seluruh warga Indonesia yang mengharapkan adanya perubahan suasana ke arah yang lebih baik, dan menjadi Indonesia lebih maju lagi, semuanya mungkin akan lebih cepat terwujud,  jika melanjutkan tonggak-tonggak sejarah yang belum selesai, yang telah dirintis oleh Presiden keempat kita.

Tulisan ini merupakan kumpulan kutipan dari berbagai sumber.

_____

1) Kitab kumpulan ahaadiits, amtsaal, mahfudzoot, syiir dan sejenisnya.

1 Response to "MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID"

Iya nih, kehilangan tokoh bangsa…. meskipun agak nyleneh tapi jasanya besar buat bangsa Indonesia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 174,033 orang
%d blogger menyukai ini: