SULAIMAN Weblog

Archive for the ‘pendidikan’ Category

Kita mengenal “Komunikasi” yang bersifat multidisipliner yang sangat luas, yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dengan berbagai pendekatan ilmiah dari berbagai sudut pandang keilmuan. Jadi tidak mengherankan, jika pada hampir semua cabang ilmu pengetahuan terdapat penggunaan istilah komunikasi.

Pembahasan mengenai komunikasi berikut ini, tentang komunikasi dalam pelaksanaan pekerjaan dan dampaknya jika komunikasi tidak terjalin dengan lancar atau jika terjadi miskomunikasi.

Batasan ‘komunikasi pelaksanaan pekerjaan’,  ialah : “Interaksi antar manusia, meliputi proses hubungan yang dinamis antara atasan dan bawahan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, berupa pertukaran informasi sesuai jenis pekerjaan masing-masing, selama berlangsungnya pelaksanaan suatu pekerjaan, dengan tujuan efektifitas, efisiensi dan keselamatan.”

Pada praktik komunikasi pelaksanaan pekerjaan oleh siapapun, terbagi dua :

1.         Komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan berjalan dengan lancar, sehingga akan mencapai tujuannya, jika :

1.1.         Antara atasan dan bawahan dalam jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, terjadi saling memahami selama proses pertukaran informasi tersebut.

1.2.         Sifat informasi yang disampaikan oleh bawahan pelaksana kepada atasan, berupa semua perkembangan dan kejadian apapun selama melaksanakan pekerjaannya.

1.3.         Sifat informasi yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan pelaksana, berupa petunjuk yang lengkap, terinci, jelas dan mudah difahami oleh bawahan pelaksana dan juga disertai perintah yang jelas.

1.4.         Dinamika pertukaran informasi sesuai dengan dinamika perkembangan pekerjaan yang sedang dilaksanakan, terutama yang bersifat mobilitas seperti kendaraan, jika kecepatan rendah maka ‘ukuran pertukaran informasi per-tiga  detik’ mungkin cukup memadai, tetapi jika pada kecepatan tinggi ukurannya harus ’per-setengah detik’ ukuran ini bersifat relatif karena disesuaikan dengan medan dan sifat dari pekerjaan yang sedang dilaksanakan.

1.5.         Adanya aktifitas dari semua orang yang terlibat dengan pelaksanaan pekerjaan untuk menyampaikan informasi secara reaktif dan terus menerus selama pelaksanaan pekerjaan.

1.6.          Adanya kebersamaan momentum waktu dalam penyampaian informasi dari semua bawahan pelaksana kepada atasan dan dari atasan kepada semua bawahan pelaksana serta tidak ada yang menunda waktu untuk penyampaian informasi.

1.7.        Adanya sikap peduli dan partisipasi dari semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing,  sehingga proses akselerasi pelaksanaan pekerjaan semuanya berjalan secara serempak atau bersamaan waktunya.

1.8.         Dinamika proses pertukaran informasi selama berlangsungnya pekerjaan tidak terhenti walau sesaat, dan selalu berjalan dengan lengkap, tepat, dan akurat

2.         Komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan tidak berjalan lancar atau terjadi miskomunikasi, sehingga tidak akan mencapai tujuannya, jika :

2.1.         Antara atasan dan bawahan tidak saling memahami selama proses pertukaran informasi tersebut, mungkin karena beda bahasa, beda pola pikir, beda intelegensia dan lain-lain.

2.2.         Bawahan pelaksana, tidak menyampaikann informasi, tidak memberitahukan atasannya tentang perkembangan dan kejadian saat ini (atau detik ini) selama melaksanakan pekerjaannya, mungkin karena dianggap tidak berarti dan hanyalah kerjadian yang kecil sekali sehingga merasa tidak perlu untuk disampaikan.

2.3.         Atasan tidak menyampaikan informasi cukup, sehingga petunjuknya tidak lengkap, tidak terinci, tidak jelas dan sulit difahami oleh bawahan pelaksana,  dan juga disertai perintah yang tidak jelas, sehingga bawahan pelaksana bingung harus mengerjakan apa.

2.4.         Dinamika pertukaran informasi tidak sesuai dengan dinamika perkembangan pekerjaan yang sedang dilaksanakan, sehingga terjadi keterlambatan dalam proses pertukaran informasi yang dibutuhkan.

2.5.         Terhentinya aktifitas dan partisipasi dari beberapa orang atau semua orang yang terlibat dengan pelaksanaan pekerjaan, sehingga mereka tidak menyampaikan informasi dan bersikap pasif.

2.6.          Tidak adanya kebersamaan waktu dalam penyampaian informasi dari tiap bagian kepada atasan, sehingga atasan tidak dapat dengan segera untuk mengubah kebijaksanaan dalam proses pelaksanaan pekerjaan, karena kurangnya informasi yang dibutuhkan.

2.7.         Adanya sikap tidak peduli dan tidak berpartisipasi dari sebagian atau semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan,  sehingga proses akselerasi pelaksanaan pekerjaan tidak serempak atau tidak  bersamaan waktunya.

2.8.         Dinamika proses pertukaran informasi selama berlangsungnya pekerjaan terhambat atau terhenti walau sesaat, dan berjalan dengan tidak lengkap, kurang tepat, dan kurang akurat.

Kapal Titanic

Terjalinnya komunikasi oleh semua pelaksana pekerjaan, harus  selalu berlangsung dan tidak boleh berhenti dan tidak boleh terjadi miskomunikasi baik di daratan, dilautan maupun di udara. Dan  haruslah disadari oleh semua orang, bahwa terjalinnya komunikasi ini tidak boleh terganggu oleh sinyal apapun.

Miskomunikasi adalah salah satu sumber bencana, contoh kasus : Tragedi yang menimpa  kapal laut terbesar dan termewah yakni kapal “Titanic”

Kapal Titanic dengan panjang 269 meter (882 kaki 9 inci) dan 28 meter (92 kaki 6 inci) lebar, berat mati 46.328 ton, dan ketinggian dari permukaan air ke geladak setinggi 18 meter (60 kaki). Kapal Titanic mampu membawa 3.547 penumpang dan awak kapal dan  memulai pelayaran pertamanya dari Southampton, Inggris, dalam perjalanan ke New York City, New York, pada Rabu, 10 April 1912, saat itu suhu menurun sampai tahap hampir beku dan laut tenang, bulan tidak keluar dan langit cerah. Kapal ini di bawah kendali Kapten Kapal : Edward J. Smith.

bongkahan gunung es

Kapten Smith, mendapat  peringatan adanya bongkahan gunung es melalui komunikasi nirkabel semenjak beberapa hari lalu, maka dia telah mengubah haluan Titanic lebih jauh ke arah selatan.

Kapal Titanic Mulai Tenggelam

Tiba-tiba dunia dikejutkan saat tersebar berita, bahwa kapal Titanic yang dilengkapi dengan teknologi yang maju telah tenggelam dengan jumlah korban tewas yang begitu tinggi. Dari sejumlah 2.223 orang penumpang, hanya 706 orang penumpang yang selamat; 1.517 orang penumpang tewas. Kebanyakan penumpang tewas disebabkan karena korban terkena hypothermia dalam air 28 °F (−2 °C).

Saat-saat Kapal Titanic Tenggelam

Hanya dua dari 18 perahu skoci penyelamat yang kembali untuk menyelamatkan korban dari dalam air selepas kapal tenggelam.

Penyebab tenggelamnya kapal Titanic, karena kapal membentur bongkahan gunung es pada  haluan depan kanan kapal, sampai lambung kanan kapal setelah kapal berusaha berbelok ke arah kiri.

Hasil investigasi terakhir, menemukan penyebab terjadinya bencana tersebut, ialah telah  terjadi miskomunikasi selama pelaksanaan pekerjaan, sebagai berikut :

1.         Petugas operator radio komunikasi (Jack Phillips dan Harold Bride) pada kapal Titanic, menangkap sinyal yang tidak jelas, dia telah mencoba untuk mencari gelombang dan memperjelas sinyal tersebut, tapi ternyata sinyal semakin tidak jelas. Hal ini membuat dia stress, dan dia tidak tahu bahwa kapal pada saat itu sedang melaju dengan sangat cepat. Maka dia telah melakukan kesalahan, sebagai berikut :

a.       Dia tidak menyampaikan informasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai tertangkapnya sinyal yang tidak jelas.

b.       Dia merasa seperti di daratan karena dia memang saat itu berada dalam ruangan tertutup di dalam kapal Titanic, Padahal saat itu dia sedang berada di lautan lepas, yang tidak mungkin ada sinyal yang tidak jelas dengan peralatan yang ada.

c.        Menurut pengalamannya jika menangkap sinyal yang tidak jelas, adalah perbuatan dari orang-orang iseng yang hanya mengganggu. Dia merasa tersinggung dan emosi, karena merasa tugasnya diganggu, maka dia menjawab sinyal yang masuk tersebut dengan nada tinggi dan marah-marah.

2.         Petugas penjaga menara kapal, merasakan perubahan udara menjadi sangat dingin dalam waktu singkat, dan tiba-tiba terlihat di depan kapal banyak gumpalan kabut, tentu saja hal ini akan membatasi jarak pandangnya. Setelah kapal menerobos kabut, tiba-tiba dia melihat gunung es di depan kapal. Dan dia tidak tahu bahwa kapal pada saat itu sedang melaju dengan sangat cepat. Maka dia telah melakukan kesalahan sebagai berikut :

a.       Dia tidak menyampaikan infomasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai terjadi suhu udara yang berubah dengan cepat menjadi sangat dingin di luar kapal. Dia hanya sibuk mengenakan pakaian lebih tebal untuk mengatasi rasa dingin dan agar tidak beku.

b.       Dia tidak menyampaikan informasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai terdapat banyak gumpalan kabut di depan kapal. Dia hanya berusaha menggunakan teropong yang ada secara maksimal tetapi gagal dan kegagalan inipun tidak dilaporkan kepada kapten kapal.

c.        Dia menyampaikan informasi kepada kapten kapten kapal yang terlambat beberapa menit, mengenai terlihatnya bongkahan gunung es diantara gumpalan kabut. Karena dia ragu-ragu dan semula tidak percaya, mengapa tiba-tiba muncul gunung es di depan kapal. Padalah dalam kecepatan tinggi, terlambat beberapa menit pasti membahayakan pelayaran.

d.       Dia terlambat menyadari bahwa kapal yang demikian besar sedang melaju dengan kecepatan tinggi, maka dalam keadaan stress berat hanya bisa berteriak berkali-kali :”Kapal kita akan menabrak gunung es”.  Tentu saja teriakan ini membuat kepanikan, pada siapa yang mendengarnya, akhirnya menjadi kepanikan umum serta kekacauan dan hiruk pikuk pada sebagian besar penumpang.

3.         Kapten kapal, selaku penguasa tertinggi yang merasa sangat percaya diri, karena kapal Titanic yang dipimpinnya adalah kapal terbesar yang dilapisi oleh plat baja yang tebal dan sedang melaju di lautan lepas.  Kalau  gelombang sertinggi lima belas meter saja tidak terasa apa-apa, maka dia merasa tidak akan terjadi apa-apa. Dia bergabung dengan para bangsawan dan hartawan yang sedang menghormatinya, dalam acara pesta-pora, bersenang-senang. Tiba-tiba dia mendapat laporan dari penjaga menara kapal bahwa di depan kapal ada gunung es, tentu saja hal ini membuat dia sangat kaget dan stress berat. Dia baru menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, yakni :

a.       Bahwa telah terjadi miskomunikasi dari bawahannya, tidak mungkin secara tiba-tiba ada gunung es di depan kapal di lautan lepas seperti ini, pasti ada informasi yang tidak disampaikan kepadanya dari sebelumnya.

b.       Dia telah lalai untuk melakukan control kepada bawahan-bawahannya karena telah terlena oleh kesenangan dengan para bangsawan dan hartawan, sehingga dia tidak mendapatkan informasi yang akurat setiap menit. (jika semakin cepat kapal, maka frekwensi pelaksanaan kontrol harus semakin sering dan semakin rapat waktunya)

c.        Dia tidak mengantisipasi kemungkinan terburuk, seperti : Jumlah baju pelampung yang terbatas, jumlah perahu sekoci  yang terbatas, jumlah ban yang terbatas, dan lain-lain.

d.       Dia terlambat memerintahkan untuk menurunkan sekoci, karena semula menyangka bahwa kapal tidak mungkin tenggelam, sehingga terjadi hiruk pikuk yang luar biasa saat penurunan skoci, akhirnya beberapa  sekoci tidak berfungsi karena ulah para penumpang yang sudah tidak bisa diatur karena hiruk-pikuk kepanikan massa.

e.       Dia tidak mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebarakan dan ledakan yang membuat kapal terbelah dua. (mungkin karena kontruksi kapal yang tidak memungkinkan, sehingga hal ini tidak bisa dilakukan)

f.         Berbagai upaya yang mungkin dapat dilaksanakan telah diusahakan, tetapi momennya sudah terlambat, maka bencana besar yang menimpa kapal Titanic benar-benar terjadi, upaya-upaya tersebut, antara lain :

1)          Memerintahkan bagian mesin untuk menghentikan laju kapal, tetapi kapal yang demikian besar dan panjang tidak mungkin menurunkan kecepatannya dalam waktu singkat.

2).         Memerintah bagian kemudi untuk merubah haluan agar tidak menubruk gunung es, tapi kapal yang masih melaju dalam kecepatan tinggi, jadi tidak mungkin membelokkan kapal sembilan puluh derajat, walaupun kemudi kapal sudah diputar habis.

3)          Memerintahkan seluruh teknisi untuk menutup seluruh kebocoran, setelah bagian kanan depan kapal dan lambung kanan kapal membentur bongkahan gunung es,  tetapi tekanan air yang masuk sangat kuat karena bobot kapal sangat berat, akhirnya banyak teknisi yang meninggal kelelep.

4)         Memerintahkan petugas operator radio komunikasi untuk meminta bantuan, tetapi kapal terletak di tengah-tengah samudra yang jauh dari mana-mana, tidak mungkin bantuan datang dengan segera.

5)          Kapten masih terus berfikir untuk menyelamatkan kapalnya, tapi kapal mulai oleng dan mulai miring ke kanan,  akhirnya dia memutuskan untuk tidak meninggalkan kapal. Sebab kalau dia menyelamatkan diri sendiri, diapun sudah tua dan dia akan dituntut di pengadilan atas kelalaiannya. (keputusan yang diambil atas dasar rasa tanggung jawab yang sangat besar, bukan karena takut diadili)

Analisa kejadian saat itu pada kapal Titanic,  jika komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan berjalan dengan lancar dan tidak ada miskomunikasi, ialah :

1.         Kapten Kapal memperhatikan bawahannya, untuk ikut bergabung sesuai dengan kesenangan yang dipilih bawahannya, maka bawahannya tidak akan stess. Karena manusia tidak sama dengan mesin, manusia akan stress dan depresi jika diperlakukan seperti mesin dalam waktu yang cukup lama. (faktor “human error” karena kelelahan mental, harus diperhitungkan pada setiap pekerjaan)

2.         Petugas operator radio komunikasi, segera melaporkan kepada Kapten Kapal (pada detik itu juga), bahwa ada sinyal yang tidak jelas. Kapten Kapal pasti mengetahui bahwa sinyal yang tidak jelas pasti terhalang. Di lautan bebas seperti ini, besar halangannya pasti sebesar gunung. Maka kapten kapal akan memerintahkan kepada petugas operator radio komunikasi :

a.       Cek peralatan radio apakah ada spare part atau onderdilnya yang rusak, hasilnya laporkan pada menit pertama.

b.       Cek sumber sinyal arahnya dari mana, hasilnya laporkan pada menit kedua.

3.         Petugas penjaga menara kapal segera melaporkan kepada Kapten Kapal (pada detik itu juga), bahwa tiba-tiba suhu udara berubah menjadi sangat dingin, dan jauh di depan terdapat kabut yang menghalangi jarang pandang. Kapten Kapal pasti mengetahui hal ini tidak mungkin terjadi tiba-tiba di lautan lepas, maka kapten kapal pasti :

a.       memerintahkan kepada petugas penjaga menara kapal untuk mencek cuaca, apakah terlihat semacam taufan yang kemungkian kecepatannya di atas seratus kilometer per-jam,  dan laporakan segera.

b.       memerintahkan kepada petugas kemudi dan navigasi, apakah kapal sudah berubah arahnya dari rencana semula. Laporkan segera.

4.         Berdasarkan semua informasi yang diterima dari  semua petugas tersebut, kapten kapal berpengalaman di lautan puluhan tahun pasti sudah dapat memperkirakan bahwa :

a.       Jika peralatan radio tidak rusak, maka sinyal yang masuk tidak jelas pasti terhalang dan besarnya halangan di lautan lepas pasti sebesar gunung.

b.       Jika arah sinyal dari depan, maka yang menghalangi sinyal ada di depan kapal yang besarnya benda tersebut sebesar gunung.

c.        Jika suasana sekitar kapal tidak berubah dan tidak ada semacam taufan, maka udara sangat dingin itu berasal dari es atau salju di depan.

d.       Gumpalan kabut di depan kapal adalah semacam uap dingin dari es atau salju, maka di depan kapal terdapat bongkahan es sebesar gunung.

d.       Jika laporan bagian kemudi dan navigasi, bahwa kapal berjalan sesuai jalur yang direncanakan, berarti kapal tidak menuju ke arah kutub selatan tapi menuju bangkahan gunung es yang mengambang.

e.       Berarti saat ini, bongkahan gunung es yang mengambang ditiup angin menuju ke  arah kapal,  antara kapal dengan gunung es ke arah yang saling bertumburan.

f.         Kapten kapal pasti akan segera memerintahkan untuk mengurangi kecepatan, membelokkan arah kapal dan segera mencari  jalur alternatif lain, agar semuanya selamat. (cara berpikir yang cepat dari kapten berpengalaman, pasti tidak diketahui oleh siapapun bawahannya)

Kesimpulan

1.         Kapten Kapal Titanic Edward J. Smith bukan satu-satunya orang yang paling bersalah,  pasti dia tidak mau bersikap melepas tanggungjawab kepada bawahan dan mempersalahkan bawahan karena terjadinya miskomunikasi. Terbukti dari upayanya yang sangat gigih untuk mengatasi permasalahan sangat besar yang sedang dihadapinya dan dia tidak meninggalkan kapal sampai akhir hayatnya.

2.         Kapten kapal Titanic yang pandai dan sangat berpengalaman puluhan tahun dalam perjalanan di laut lepas, akhirnya tidak dapat mempergunakan seluruh kepandaiannya dan pengalamannya secara maksimal, disebabkan telah terjadi miskomunikasi.

3.        Semua peralatan teknologi maju yang terdapat pada kapal Titanic, seolah-olah sudah tidak mampu mengatasi permasalahan dan kesulitan yang ada, permasalahan utamanya karena telah terjadi miskomunikasi.

4.         Pelaksana pekerjaan, selaku bawahan, memang seharusnya juga tidak boleh lalai dan selalu berpedoman pada arahan atasan, maka sikap lalai bawahan dengan tidak menyampaikan informasi yang benar  dan lengkap dari saat-saat  awal, bukan hanya akan membebani atasan dengan permasalahan (sangat) besar, tetapi juga dapat menimbulkan bencana dan bahaya bagi masyarakat umum.

5.       Kapten kapal sebagai penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan dengan mobilitas tinggi, sama sekali tidak boleh lalai walau sesaat dan para penumpang sebaiknya tidak merayu kapten kapal untuk ikut bersenang-senang yang dapat mengakibatkan kapten menjadi  lalai akan tugas pokoknya.

6.     Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, hendaklah setiap orang berhati-hati dalam menggunakan alat komunikasi (seperti : handphone, laptop, handy talki, komputer dan lain-lain) jangan sampai mengganggu jalur komunikasi pelaksanaan pekerjaan siapapun, baik di darat, di laut atau di udara.

7.       Jika dalam era kemajuan teknologi yang demikian cangkih sekarang ini, masih terdapat atasan yang mengalami miskomunikasi; maka atasan seperti ini, sungguh membahayakan masyarakat umum yang harus menggunakan jasa pelayanannya.

8.       Atasan atau bawahan pelaksana, yang tidak professional, cenderung untuk mengkambinghitamkan “permasalahan miskomunikasi” ini, sebagai pembenaran kekeliruannya, terutama yang telah mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materil. (sikap permohonan maaf kiranya tidak cukup, karena kejadian serupa pasti akan terulang lagi dan akan jatuh korban lagi, akan terjadi kerugian meteril lagi)

Penutup

Masih adakah orang yang memiliki rasa tanggung jawab yang demikian besar seperti Kapten Kapal Titanic Edward J. Smith dan masih adakah orang-orang yang berusaha terjalinnya komunikasi dengan lancar selama melaksanakan pekerjaan, masih banyakkah orang yang memperhatikan masalah keselamatan, sehingga kejadian seperti kapal Titanic tidak terulang lagi.

Semoga permasalahan miskomunikasi yang menimbulkan bencana akan menjadi perhatian kita semua dan semoga kisah tenggelamnya kapal Titanic, akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. (pelajaran ini diambil dari film “Titanic” yang penuh dengan fiksi, jika penasaran – – – silahkan tonton filmnya)

Iklan

Suatu bahasa yang dikenal sebagai sarana untuk berkomunikasi dalam bersosialisasi, mengalami dinamika perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu, berikut akan dibahas secara sepintas mengenai : a) Manusia dan Bahasa, b) Perkembangan Bahasa, c) Bentuk Bahasa dan perkembangannya, d) Bahasa Standar dan bahasa Prokem, e) Bahasa Hidup, Mati atau Punah, f) Kecenderungan dan Tuntutan bagi Perkembangannya.

A.      Manusia dan Bahasa

Manusia normal selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk keperluan itu digunakan bahasa.  Upaya untuk menguasai suatu bahasa tertentu, tidak terpisahkan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dan untuk memperoleh keunggulan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tersebut, seperti : nilai ekonomis, nilai politis, nilai sosio-kultural dan lain-lain.

Seorang manusia sejak lahir telah memiliki kemampuan untuk menguasai suatu bahasa, kemampuan ini terus berkembang seiring dengan bertambahnya kematangan kepribadiannya, sehingga manusia dapat menciptakan dan menggunakan lambang-lambang dan simbol-simbol yang menggambarkan arti dan pengertian tertentu, maka manusia disebut “animal simbolicum” atau “al hayawanun naatiq”.

B.      Perkembangan Bahasa

Sebagai makhluk sosial, seseorang akan mengalami proses interaksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik berkomunikasi antar pribadi, intern kelompoknya, atau dengan kelompok lainnya. Proses ini akan mengembangkan suatu bahasa pada sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah, sesuai dengan kebiasaan, adat istiadat, dan budaya pada kelompok masyarakat tersebut.

Berkembangnya suatu bahasa dalam suatu wilayah dan penyebarannya ke wilayah lain, akan berproses secara alamiah dalam waktu yang cukup lama. Pertumbuhan dan perkembangannnya ke wilayah-wilayah lain, ditentukan oleh banyaknya jumlah penutur yang tersebar. Banyak bahasa yang perkembangannya sudah mendunia, yakni bahasa-bahasa yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain-lain.

C.      Bentuk Bahasa Dan Perkembangannya

Secara umum bentuk bahasa terbagi dua, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Adapun Bahasa isyarat adalah penjabaran atau bersumber dari bahasa lisan yang dipergunakan oleh tunawicara. Perkembangan dari masing-masing bentuk bahasa tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, lebih banyak ditentukan oleh tuntutan dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam bermasyarakat.

Perkembangan bahasa lisan mendahului bahasa tulisan, terutama ketika manusia belum mengenal tulis-baca. Maka dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial lebih banyak dipergunakan bahasa lisan, karena lebih praktis dan tidak memerlukan media selain dari  berfungsinya alat pengucapan, suara yang dihasilkan, dan alat pendengar dari tubuh manusia sendiri. (mulut yang dapat bicara dan telinga yang dapat mendengar)

Perkembangan bahasa tulisan mulai dikenal sejak abad kelima, sejak manusia menuliskan simbol-simbol pada lempengan tanah liat yang dikeringkan, lalu ditemukan papyrus, kertas dan sekarang komputer, digital dan internet. Bentuk bahasa tulisan lebih banyak mempergunakan bahasa standar, terutama untuk dokumen-dokumen resmi dan dokumen-dokumen ilmiah yang mengandung “pengertian yang tinggi”. Bahasa tulisan akan terus berkembang seiring berkembangnya istilah-istilah resmi dan istilah-istilah semua disiplin keilmuan.

D.      Bahasa Standar Dan Bahasa Prokem

Bahasa standar adalah bahasa yang baik dan benar, bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata bahasanya, mempergunakan kata-kata baku yang umum, mempergunakan kalimat-kalimat efektif, dalam paragraf-paragraf yang sistematis, seluruhnya menjelaskan suatu makna dan pengertian secara jelas dan gamblang.

Memerhatikan seorang anak dalam menangkap dan menguasai suatu bahasa yang menjadi bahasa ibu (atau bahasa pertama yang dikuasainya), kerapkali terjadi kesalahan pengucapan suatu kata,  dalam pelafalan hurufnya, beda pelafalan ini  tanpa membedakan arti atau mengandung arti yang berbeda. Pada pelafalan baru disertai susunan kata baru dengan arti baru.  Bahasa baru ini lebih berkembang karena dipengaruhi oleh sekelompok orang di lingkungannya, disebut bahasa prokem, atau bahasa slang, atau bahasa ‘amiyah.

Bahasa prokem dianggap menyalahi aturan tata bahasa, dan merusak bahasa baku dan oleh sebagian orang dianggap sebagai “kemunduran” dalam berbahasa, bahkan menggunakan bahasa prokem dianggap “tidak sopan”. Karena suatu anggapan, bahwa bertutur yang sopan-santun itu, tidak menggunakan bahasa prokem. Akhirnya penggunaan bahasa prokem terbatas pada sekelompok orang tertentu. Apakah bahasa prokem semuanya mengandung kata-kata yang “jelek”? Bagaimana bertutur dengan menggunakan bahasa yang standar dan sopan, tapi menyinggung perasaan pendengarnya dan menyakitkan hati pendengarnya? (Dimana letaknya sopan santunnya?)

Bahasa prokem adalah bukti dari kreatifitas sekelompok orang yang merupakan pecahan atau pengembangan dari bahasa standar. Tanpa bahasa standar bahasa prokem tidak pernah ada. Berkembangnya bahasa prokem merupakan tuntutan dalam berkomunikasi pada sekelompok masyarakat, dengan menggunakan bahasa prokem, pergaulan menjadi lebih akrab, lebih komunikatif, dan lebih efektif. Jadi pada sekelompok masyarakat tertentu lebih banyak menggunakan bahasa prokem, maka siapapun yang berupaya memusnahkan bahasa prokem adalah upaya yang sia-sia.

E.      Bahasa Hidup, Mati Atau Punah

Siklus pertumbuhan dan perkembangan suatu bahasa, seperti siklus suatu makhluk, ada yang hidup, mati atau punah. Gejala suatu bahasa yang hidup, mati atau punah dapat diketahui, perubahan dari bahasa yang hidup menjadi mati atau punah tidak dapat diprediksi dan tidak dapat diukur kapan waktunya dengan tepat.

Pada bahasa yang hidup, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut terjadi penyebaran ke wilayah lain, walaupun sedikit/kecil.

2.  Jumlah penuturnya relatif stabil, atau bertambah dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya cenderung bertambah, kosa kata baru yang terpakai, lebih banyak dari kosa kata lama yang tidak terpakai.

Pada bahasa yang mati, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut tidak terjadi penyebaran ke wilayah lain.

2.  Jumlah penuturnya berkurang dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya tidak bertambah dan penggunaannya sedikit, seperti:Bahasa Latin hanya dipakai dalam istilah-istilah bidang kedokteran, Bahasa Sanskerta hanya dipakai pada nama-nama bangunan di Indonesia, Bahasa Yunani hanya dipakai pada nama produk-produk teknologi terbaru, dan lain-lain.

Pada bahasa yang punah, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Penuturnya sangat jarang hanya beberapa orang, atau mungkin tidak ada lagi.

2.  Perbendaharaan katanya banyak yang hilang dari penutur yang ada/tersisa.

3.  Tidak ada dokumentasi berupa tulisan apapun, sehingga tidak dapat dipelajari kembali.

Perubahan dari bahasa yang hidup menjadi bahasa yang mati, bukan disebabkan tidak memiliki kaidah bahasa yang lengkap, atau tidak memiliki tata bahasa yang sempurna, tapi lebih banyak ditentukan oleh kecenderungan-kecenderungan yang berubah dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidup pada masyarakat tertentu. Kerapkali bahasa yang mati yang tertinggal hanya dokumen tertulis, atau mungkin tidak ada lagi orang yang mengerti tentang maksud dan arti dari tulisan tersebut.

Perubahahan dari bahasa hidup menjadi bahasa yang punah, disebabkan oleh penuturnya yang tidak lagi mempergunakannya, dan tidak terdapat dokumentasi tertulis apapun. Dengan punahnya suatu bahasa, maka semua nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa tersebut juga ikut punah. Kepunahan tersebut menyebabkan kemanusiaan  mengalami kerugian, yakni manusia modern akan menjadi “semakin miskin nilai-nilai luhur”.

Semua bahasa prokem dari semua bahasa, besar kemungkinan untuk punah, terutama bila ada tidak upaya mendokumentasikannya, baik berupa buku, film, CD, DVD atau lain-lain. Apakah pengkajian terhadap bahasa prokem, merupakan penurunan kualitas ilmiah, kiranya  perlu dikaji kembali?

Banyak bahasa-bahasa daerah di Nusantara yang hilang, mungkin akibat dampak kebijakan memperkuat Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Walaupun ada kebijakan memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal pada pendidikan, tetapi bahasa-bahasa daerah masih tidak berkembang, bahkan tetap banyak yang hilang. Janganlah beranggapan bahwa pada bahasa-bahasa masyarakat yang tinggal di kepulauan Nusantara tersebut tidak terdapat nilai-nilai budaya yang luhur.

F.      KECENDERUNGAN DAN TUNTUTAN BAGI PERKEMBANGANNYA.

Kecenderungan umum, semua orang untuk memilih hal-hal yang lebih praktis, lebih mudah dan lebih sederhana, dari pada sebaliknya. (Kalau ada yang praktis, mudah dan sederhana, mengapa pilih yang ribet, sulit dan rumit?)  Kecenderungan ini berlaku pula dalam pemilihan bahasa. Maka kebanyakan orang beranggapan, bahwa bahasa ibunya adalah bahasa yang paling mudah, sebelum mempelajari bahasa lainnya.

Tuntutan pekerjaan, sering memaksa seseorang untuk mempelajari bahasa tertentu, terutama jika lowongan pekerjaan dipersyaratkan demikian. Tuntutan untuk mencapai kesuksesan di suatu tempat kerja, sering memaksa seseorang untuk belajar suatu bahasa, contohnya : Seseorang yang akan bertugas di Prancis atau di Cina, maka dia harus belajara bahasa Prancis atau bahasa Mandarin.

Tuntutan akan kebutuhan ilmu pengetahuan dan budaya, akan menambah jumlah orang yang belajar suatu bahasa, sehingga bahasa tersebut semakin menyebar. Contohnya: siapapun yang ingin belajar dan mengetahui budaya Jawa, maka dia akan belajar bahasa Jawa lalu datang ke pulau Jawa (ke tempat asalnya) . Mungkin budaya jawa masih menarik perhatian sebagian orang belanda sehingga sampai sekarang masih berkembang bahasa jawa di Belanda.(bahasa jawa yang halus, atau kromo inggil)

Pergaulan internasional dalam interaksi perdagangan, lebih cepat menyebarkan suatu bahasa, contohnya penutur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di Jedah, Mekah dan Madinah semakin bertambah, di pasar-pasar pada setiap musim haji di sana. Penuturnya bukan hanya dari bangsa arab tapi juga dari bangsa-bangsa lain yang berada di sana.

Kesimpulan

1.     Penggunaan istilah-istilah keilmuan, atau suatu terminologi haruslah tepat, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Hal ini  sering membingungkan orang awam, yang tidak bermaksud untuk mendalami “pengetian yang tinggi” tentang suatu masalah dari suatu disiplin ilmu pengetahuan.

2.    Masyarakat umum lebih mementingkan bahasa yang sifatnya praktis dari pada bahasa standar, karena tingkat kemampuan berbahasa seharusnya tidak menghambat dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Walau tingkat kemampuan berbahasa yang rendah sering ditandai dengan kesalahan baik dalam pelafalan/pengucapan atau penulisan. 

3.    Setiap orang dari penutur asli bahasa apa saja akan merasa bergembira jika bahasanya dipergunakan oleh orang lain/asing, serta akan memberikan pujian dan penghargaan yang tinggi, jika bahasanya diucapkan dan atau ditulis dengan benar.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, meresmikan program rintisan pembelajaran berbasis teknologi informatika dan komunikasi (TIK) di tiga SMP Terbuka Perintis

Ketiga SMP Terbuka Perintis berbasis TIK yang diresmikan Mendiknas tersebut adalah SMP Terbuka 55 Tanjung Priuk Jakarta, SMP Terbuka 1 Malang, dan SMP Terbuka Kadanghaur Indramayu

Peresmian pencanangan Program Pembelajaran Berbasik TIK pada SMP Terbuka, di Gedung A, Plaza Depdiknas, Kamis (20/8).  1)

Ini adalah suatu langkah maju yang mulai dirintis oleh pemerintah, akan tetapi untuk mencapai ”Kemandirian yang akan mengantarkan siswa siswi pada daya saing, inovasi, meningkatkan kreativitas”  masih perlu diikuti oleh langkah-langkah berikut  :

1.  Tutorial lengkap sesuai dengan kebutuhan siswa

Dalam upaya menjadikan peserta didik subyek pembelajaran bukan obyek pengajar, pada usia smp harus dipertimbangkan masak-masak, bahwa mereka “sangat mudah meniru” dan “sangat mudah ikut-ikutan”.  Contohnya :  Dalam kasus Tawuran mereka tetap ikut-ikutan, walaupun sudah banyak yang meninggal dunia, tapi tetap terjadi, potensi untuk terjadinya tawuran terdapat pada setiap sekolah, dimana-mana.

Dalam pencarian di alam maya, mereka bisa kesasar kemana-mana, atau malah membuka situs-situs yang tidak mendidik, kemungkinan besar mereka meniru dan ikut-ikutan, oleh karena itu sangat diperlukan adanya tutorial yang lengkap, arahan yang pasti, dan instruksi yang jelas, harus bagaimana, dan harus mengerjakan apa, agar mereka tidak kesasar dan kebutuhan meningkatkan pengetahuan dan berbagai keterampilan dapat terpenuhi.

Perhitungan antara beban pelajaran pada kurikulum, waktu mereka belajar dan dampak negatif dari informasi komunikasi harus dipertimbangkan, monitoring pihak guru atas setiap hasil pekerjaan setiap anak harus diperiksa dengan ketat, tentu mereka harus berfikir orisinil bukan copy-paste, bukan plagiat,  agar tujuan pendidikan tercapai dengan terarah, efektif dan efisien sehingga menjadi pribadi yang mandiri, berinovasi, berdaya saing dan berkreatifitas.

2.  Tersedianya “perpustakaan alam maya” (E-library) terpusat, yang dapat diakses setiap saat

Dalam setiap pelajaran diperlukan adanya referensi dan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pendidikan, yang dapat diakses setiap saat, dan semua ini tentu sangat membantu peserta didik, sehingga dapat belajar lebih mandiri.

Manfaat dari E-library terpusat, antara lain :

a.    Mereka tidak usah membeli buku,yang setiap tahun selalu berubah. Dan hal ini tentu merupakan penghematan biaya pendidikan.

b.   Mereka tidak perlu memimjam buku ke perpustakaan setiap dibutuhkan, tapi cukup mengakses di internet, hal ini tentu menghemat waktu dan tidak ada resiko keterlambatan mengembalikan buku yang dipinjam.

c.    Semua hasil karya siswa, berupa hasil penelitian, penemuan dan lain-lain, dapat dijadikan bahan untuk memperkaya E-library dan dengan adanya E-library terpusat, maka akan mudah memonitor jika adanya plagiat, atau adanya upaya copy-paste.

3.  Kegiatan selingan (ekstra kurikuler) sekaligus sosialisasi.

Menjadikan peserta didik sebagai subyek pembelajaran adalah memperlakukan mereka sebagai manusia, yang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan, serta memiliki intelek dan berbagai emosi.  Kalau mereka selalu bekutat di depan komputer, tentu mereka  akan mengalami kebosanan dan kejenuhan, maka diperlukan adanya kegiatan selingan, berupa kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti, yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, antara lain meliputi :

a.    Adanya kerjasama dengan media televisi, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan menonton televisi dari suatu stasiun televisi, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

b.   Adanya kerjasama dengan media radio,  sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan mendengarkan radio dari suatu stasiun radio, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

c.    Adanya kerjasama dengan bioskop, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk menonton di suatu bioskop, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

d.    Adanya kerjasama dengan suatu kelompok masyarakat, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk ikut melaksanakan praktek kerja lapangan, dan berbaur dengan masyarakat, untuk menanamkan jiwa sosial dan melatih kemampun bersosialisasi pada tiap individu, sebab umumnya mereka yang berkutet dengan di depan komputer kurang bersosialisasi.

e.    Adanya kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, seperti museum, tempat-tempat napak tilas, atau meninjau peninggalan-peninggalan perjuangan, untuk menanamkan jiwa kebangsaan, dan rasa nasionalisme, tentu didampingi oleh guru pendamping yang mampu menjelaskan semuanya secara  lengkap. Kegiatan kunjungan ini tentu harus didukung oleh semua pihak, sehingga biayanya lebih murah khusus untuk mereka, dan diawasi dengan ketat oleh semua pihak, agar jangan sampai ada yang nebeng atau numpang pelesiran.  (jangan sampai mereka pandai dan trampil tapi jiwa kebangsaannya rendah, dan nasionalismenya rendah)

Semua kegiatan selingan ini adalah sekaligus merupakan kegiatan sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat umum, apalagi bila selalu dipublikasikan, sehingga masyarakat bisa mengikuti perkembangan program ini, yang lebih penting adalah masyarakat lebih mengetahui, lebih mengenal dan diharapkan akan ikut partisipasi dalam memajukan program SMP Terbuka Berbasis TIK ini.

–  –  Semoga sukses program ini dan bertambah maju negara kita  – –

1) lihat :  http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=10699&Itemid=700

Peresmian IKIP oleh Presiden

Peresmian IKIP oleh Presiden

Kita sering kagum akan hasil pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal, baik klasikal maupun individual, baik secara kurikuler maupun autodidak, banyak muncul nama-nama besar, mereka berhasil dalam pengabdian di bidang ilmunya,  juga menjadi orang yang berjasa bagi negara kita, antara lain : K.H. Agus Salim, Jenderal Sudirman, Ir. Soekarno, Prof DR. Hamka, Prof DR. Habibi, dan lain-lain.

Setiap orang ingin mempunyai anak, adik, saudara, yang sepandai dan sehebat beliau-beliau, tentu pendidikannya tidak cukup satu hari, perlu waktu yang cukup lama, maka pendidikan adalah investasi jangka panjang yang cukup mahal. Pada negara miskin yang income perkapitanya rendah, rakyat  tidak akan mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pihak pemerintah harus berusaha keras untuk memajukan pendidikan, sebab tanpa pendidikan yang memadai, negara ini tidak akan menjadi negara yang maju. Masalah lain, mutu  pendidikan tidak hanya menjadi isu dalam wacana internasional, tapi juga telah menjadi lahan bisnis, sehingga kelompok orang kaya berlomba menyekolahkan anaknya ke luar negeri yang mutunya dianggap lebih tinggi dari dalam negeri.

Pembahasan berikut ini, hanya mengenai pendidikan secara umum ditinjau dari kepentingan masyarakat, yang  meliputi :  1) Pendidikan formal dan informal;  2) Lingkungan pendidikan;  3) Keteladanan  dan  4) Pengaruh pendidikan masa kecil; serta dampaknya, baik positif maupun negatif,  sebagai berikut :

I.      PENDIDIKAN FORMAL DAN INFORMAL

A.        Dampak positifnya:

1.      Dampak positif bagi alumni :     Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil serta menjadi lulusan siap kerja dan siap berprestasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.

2.    Dampak positif bagi masyarakat  :  Kepandaian dan keterampilan para alumni yang bekerja keras mengamalkan ilmunya, ditambah dengan hasil penelitian dan penemuan-penemuan ilmiah, mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat, masyarakat merasa diuntungkan olehnya, dan masyarakat membanggakannya dengan rasa senang.

B.        Dampak negatifnya  :

1.     Dampak negatif  bagi alumni :     Alumni yang mendapat pekerjaan dan karir, yang karena keberhasilannya, dapat mencapai jabatan yang lebih tinggi dari gurunya, berakibat tidak lagi menghargai/ menghormati gurunya,  atau bahkan menjadi bersikap sombong, angkuh dan menganggap remeh semua orang disekitarnya. (mudah-mudahan tidak semua alumni demikian)

2.     Dampak negatif bagi masyarakat :    Masyarakat memberikan praduga berlebihan pada kemampuan alumni, umpama alumni hanya belajar A, B, C. baru sampai C tapi masyarakat menduga kemampuannya sudah sampai Z. sehingga alumni tersebut dibebankan dengan berbagai persoalan, beban kerja, yang di luar batas  kemampuannya. Akhirnya, alumni tersebut frustasi dan stress dan  masyarakat  kecewa dengan prestasinya yang rendah atau di bawah standar.(Munculnya praduga masyarakat tersebut  bisa disebabkan karena masyarakat tidak tahu atau karena tuntutan kebutuhan sesaat).

II.      LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Lingkungan pendidikan demikian luas, meliputi : rumah tangga, pergaulan antar teman, hubungan dengan masyarakat, dan lainnya. Dengan kemajuan teknologi informasi, maka pihak orang tua dan guru tidak dapat lagi membatasi lingkungan pendidikan yang semakin luas dan semakin mendunia. Akhirnya perkembangan anak didik menajdi semakin sulit diprediksi, baik  oleh gurunya maupun orang tuanya.

Lingkungan pendidikan banyak berpengaruh terhadap prestasi belajar anak didik, dan akhirnya pihak guru dan orang tua/wali menjadi “kurang mengenalnya lagi” atau merasa “ada sesuatu yang berubah”, terutama pada siswa yang memiliki “kepribadian tertutup” .

A.        Dampak positifnya:

1.      Dampak positif bagi siswa :     Seorang siswa akan mengalami kemajuan yang pesat dalam hasil belajarnya, jika semua lingkungan pendidikan saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : Kesibukan belajarnya di sekolah diikuti dengan berpartisipasi dalam kelompok ilmiah remaja, di luar sekolahnya,  dan didorong dengan motivasi dan fasilitas dari keluarganya, sehingga siswa dapat mengaplikasikan semua pengetahuannya secara nyata.

2.      Dampak positif bagi masyarakat :     Dengan banyaknya kelompok ilmiah remaja, dan kelompok lainnya yang melaksanakan kegiatan yang bersifat positif dan konstruktif, maka diprediksi angka  kenakalan remaja akan menurun, bukan saja masyarakat akan lebih tenang, tapi juga akan muncul  calon tokoh masyarakat di masa depan dari remaja-remaja yang berprestasi.

B.        Dampak negatifnya  :

1.     Dampak negatif  bagi siswa  :    Seorang siswa akan mengalami kesulitan belajar, jika semua lingkungannya tidak saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : keluarganya pecah/broken home dan urakan, lingkungan pergaulannya rusak dengan narkoba dan dekadensi moral, dan pelajarannya dianggap kurang sesuai dengan tuntutan suasana kerja, dan lain-lain. Jika pihak orang tua mengharapkan segalanya dari pendidikan formal/sekolah adalah harapan yang kurang tepat, dan kemungkinan akan mengalami kekecewaan, karena semua lingkungan pendidikan yang tidak saling mendukung, akan menghambat hasil belajar yang maksimal dari setiap anak didik.

2.      Dampak negatif bagi masyarakat :     Masa remaja yang sedang mecari identitas diri, jika salah pergaulan dalam lingkungannya, akan menyusahkan masyarakat. Jika mereka bergaul dengan kelompok pencandu narkoba, mereka akan menjadi pecandu narkoba. Jika bergaul dengan kelompok teroris, mereka akan menjadi teroris, dan lain-lain.   Sedangkan mereka belum mampu berfikir kritis, dan belum mampu untuk menolak ajakan/rayuan/jebakan dari kelompok-kelompok tersebut. Tidak adanya kepedulian serta sikap tidak mau tahu, dan acuh dari anggota masyarakat, terhadap kegiatan kelompok remaja, akan memperburuk situasi. Sikap menyalahkan remaja juga bukan sikap yang bijaksana, tetapi akhirnya tetap saja masyarakat sendiri yang akan menanggung resiko yang mahal.

III.      KETELADANAN (PANUTAN)

Keteladanan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dari pendidikan, walaupun keteladanan  juga merupakan bagian dari kepemimpinan. Setiap pemimpin apapun haruslah menyadari bahwa dirinya telah  jadi teladan. Seorang bapak dan seorang ibu dalam rumah tangga keduanya menjadi teladan bagi anak-anak dan keluarga mereka.  Rumah tangga adalah pendidikan awal bagi anak-anak, setelah itu di usia sekolah maka keteladanan guru menjadi lebih besar pengaruhnya, lalu di masyarakat mereka melihat keteladanan para tokoh, para pemimpin, para pembesar dan demikian seterusnya.

A.        Dampak positifnya:

1.      Dampak positif bagi alumni :     Teladan yang baik dalam tingkah laku sehari-hari dari kedua orangtua, para guru, para tokoh, para pemimpin, membuat para alumni merasa pasti dan yakin akan masa depannya, dan tidak ragu untuk mengambil keputusan yang tepat, karena pelajaran dan teori yang mereka terima ada kesesuaian dengan kenyataannya.

2.    Dampak positif bagi masyarakat  :     Ketika para alumni tersebut berkiprah di masyarakat dan kemungkinan menjadi tokoh yang memberikan keteladanannya yang baik dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi lebih kompak, lebih bersatu, lebih bekerjasama dalam segala hal, dan akhirnya lebih memiliki daya hidup, daya saing dalam kehidupan global mendatang dan akhirnya menjadi masyarakat lebih maju.

B.        Dampak negatifnya  :

1.     Dampak negatif  bagi alumni :     Siswa akan mengalami pertentangan batin jika yang dipelajarinya tidak sesuai dengan kenyataan, tidak adanya teladan yang dijadikan panutan akan membuat siswa ragu-ragu untuk berkiprah dalam menghadapi kehidupannya. Umpama : pengembangan ilmu pengetahuan menuntut suasana berdiskusi yang sehat dengan kritis dan rasional, tapi orang tua jaman dulu melarang berdiskusi dalam bentuk apapun dengan tujuan hanya untuk menghindari pertengkaran dan permusuhan.  Siswa menjadi serba salah, jika berada dalam situasi ini. Kalau pertentangan batin berlangsung lama dan tidak terselesaikan, maka akan berdampak banyaknya alumni yang kurang mampu untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya ketika menjadi alumni/setelah lulus.

2.     Dampak negatif  bagi masyarakat :     Ketiadaan alumni yang mampu bersosialisasi dalam mengamalkan ilmu dan keterampilannya, membuat masyarakat kehilangan calon tokoh yang baik, menimbulkan krisis kepemimpinan, terutama dalam bidang informal.  Kepincangan ini akan berakibat rendahnya daya juang masyarakat, dan daya saing masyarakat  dan berkurangnya partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan pemerintah. Akhirnya anggota masyarakat sendiri yang akan menanggung biaya tinggi dalam semua urusannya, karena pengaturan dalam segala hal tanpa social control lagi. (Dalam bidang formal terdapat  pendidikan penjenjangan, seperti :  Spada, Spama, Spala, Sespa, diklatpim dan lain-lain)

IV. PENGARUH PENDIDIKAN MASA KECIL

Pendidikan masa kecil mengendap di alam bawah sadar, dan mempengaruhi  pola tingkah laku seseorang ketika dewasa dalam hidup bermasyarakat. Walaupun banyak yang berdampak positif dalam kehidupan pribadi kita, tapi tdiak tertutup kemungkinan yang berdampak negatif, sebagai salah satu ilustrsi untuk  bahan tinjauan, adalah syair lagu “SiKancil” yang sering dinyanyikan oleh anak-anak TK/SD, sebagai berikut : (guru perlu memberikan penjelasan terlebih dahulu, untuk menghindari kemungkinan dampak negatifnya)

1.      “Si Kancil anak nakal” = Jika anak-anak beranggapan kancil saja sebagai binatang yang tidak berakal bisa berkelakuan nakal, dan mungkin kenakalan itu dibenarkan.  Dampaknya akan banyak calon anak nakal, calon berandalan, calon preman, calon bajingan dan lain-lain. Akibatnya guru sendiri akan sulit mengajar anak usil, nakal yang tidak ada lagi sopan santunnya, yang kurang menunjukkan minat belajar dan seolah-olah tidak punya harapan dan tidak punya hari depan. (padahal nasehat guru lainnya : anak-anak jangan nakal, jadilah anak yang penurut, turuti nasehat gurumu, berbaktilah pada orang tuamu, dan rajin-rajinlah belajar)

2.     “Suka mencuri ketimun” = jika anak-anak beranggapan bahwa perbuatan mencuri bisa dijadikan hobi, selingan, kesenangan, atau kesukaan.  Dampaknya akan banyak calon maling, calon pencuri, calon koruptor, calon penyerobot semua fasilitas sosial, yang tidak menghargai hak milik orang lain, hak milik Negara, hak milik orang banyak. Akibatnya penjara akan banyak diisi oleh maling, koruptor dan lainnya. (padahal nasehat guru lainnya : mencuri itu dosa, jangan dilakukan dan kalau pinjam apapun kembalikan pada pemiliknya, hargailah milik orang lain)

3.     “Ayo lekas dikurung = jika anak-anak beranggapan bahwa melakukan pengurungan maksudnya adalah  penghukuman dengan segera, boleh dilakukan di luar pengadilan.  Dampaknya masyarakat akan mudah menghukum, walaupun kesalahannya sangat kecil, akan banyak calon eksekutor pelaksana hukum yang tidak sah.  Dan  justru akan banyak pelanggaran hukum terhadap orang yang belum tentu bersalah. Akibatnya masyarakat menjadi mudah menyalahkan orang lain, mudah menghukum, mudah menjatuhkan tangan dengan segera, berakibat mudah diadu domba, mudah terjadi tawuran dan sebagainya. (padahal nasehat guru lainnya : jangan menyakiti orang lain, jangan melanggar hukum, jadilah warga Negara yang taat hukum, tegakkan azas praduga tak persalah)

4.      “Jangan diberi ampun = jika anak-anak beranggapan bahwa tidak memberi ampunan kepada yang melakukan bersalah adalah suatu kebenaran.  Dampaknya masyarakat menjadi sangat kejam, salah sedikit tidak ada ampun, keliru sedikit tidak ada ampun, mengakibatkan banyaknya fitnah yang belum tentu bersalah juga dihukum.  Akibatnya siapapun yang berusaha untuk “bersikap jujur dan terbuka” menjadi tidak ada artinya, sebab niat semula untuk menciptakan saling pengertian dengan bersikap “terus terang”,  akan sering dianggap bersalah, dan berakhir dengan salah pengertian dan salah paham. Atau bersikap jujur sering ditanggapi dengan sikap permusuhan.  (padahal nasehat gurul lainnya : jadilah orang penyayang, jadilah orang pemaaf, berkawanlah sebanyak mungkin teman dengan siapa saja, dan hilangkanlah buruk sangka)

KESIMPULAN

1.    Komunikasi antara siswa-guru-orang tua/wali murid/orang tua, harus selalu terjalin dengan intensif, sebagai upaya antisipasi dini terhadap semua dampak negatif.

2.    Faktor waktu memegang peranan penting, perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk suatu pendidikan harus tepat, Jika terlalu waktu singkat, maka dampak negatifnya akan jauh  lebih besar dari dampak positifnya (apapun jenjangnya), tetapi jika telalu lama, masyarakat rugi, perusahaan/instansi yang menyeponsorinya juga rugi, karena menanggung biaya yang lebih besar.

3.    Setiap remaja dan anak didik haruslah berusaha untuk “bersikap terbuka” dengan mau berterus terang kepada orang tuanya/walinya dan gurunya (yang dipercaya) untuk membicarakan masalah pribadinya dan mendiskusikannya, sehingga ditemukan jalan keluar sebaik-baiknya, bersikap tertutup untuk “masalah-masalah yang berat” adalah kurang tepat. Dengan ditemukannya jalan keluar terbaik, maka semua beban pikiran dan beban mental akan terasa sangat ringan (plong rasanya) dan akan mampu lebih berkonsentrasi kepada pelajaran.

SARAN

1.    Kepada pemerintah (Depdiknas) dan pengelola pendidikan, hendaklah selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan dan meneliti kembali penyelenggaraan pola pendidikan yang telah diselenggarakannya, agar terhindar dari dampak negatif.

2.    Perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam bicara dan menulis, karena hukum kejam masyarakat tidak pilih-pilih, memang tidak adil jika karena salah bicara, dengan kesalahan satu kata-dua kata, lalu dihukum berat, tapi terkadang kenyataan demikian adanya. (mungkin saja ada orang yang berusaha mencari kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadinya sendiri)

3.    Kepada semua anggota masyarakat dan semua pihak, mari kita ciptakan lingkungan pendidikan yang saling mendukung dengan semampu kita, agar anak-cucu kita kehidupannya menjadi lebih baik dimasa depan.     – Semoga —

ILMU  MATEMATIKA

Perkalian Negatif dan Positif hasilnya Positif

Contohnya :

-A  X  -B  =  +AB

-2   X  -3  =  +6

+A  X  +B  =  +AB

2  X   3   =  6

(selanjutnya berapa angkanya?)

ILMU  SOSIAL

Pembuktian dalam Ilmu Sosial

Patokannya :

Faktor Alam sekitar dihadapkan dengan Faktor Tingkah laku manusia

Tentukan dulu :

Nilai positif dan negatifnya

Pendahuluan.

Ilmu matematika adalah suatu ilmu yang telah diakui kebenarannya, yang akan kita buktikan dalam kehidupan kita adalah perkaliannya, baik perkalian yang bernilai positif maupun perkalian yang bernilai negatif seperti dalam kotak sebelah kiri di atas.

Kita sering ditentukan oleh alam sekitar kita dalam berupaya mencapai sesuatu;  atau kita kadang-kadang mengalami kegagalan dalam mencapai sesuatu, karena dibatasi oleh  alam sekitar kita.  Maka yang dijadikan bahan perkalian adalah faktor alam, berupa kesuburan, tersedianya sarana dan lain-lain dihadapkan dengan faktor tingkah laku manusia  yang berupa motif kepentingan duniawi dan motif kepentingan ukhrowi. (penjelasan tentang kedua motif ini silahkan baca : Pertarungan tiada akhir bagian kedua)

Penentuan Nilai Positif dan Negatif

Baik faktor alam maupun faktor tingkah laku, terlebih dahulu kita tentukan nilai positif dan negatifnya, sebagai berikut :

1.         Bernilai Positif

a.         Faktor Alam, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika tersedia semua sarana dan lingkungan mendukung  untuk pemenuhan kebutuhan hidup, maka  bernilai positif.

b.         Faktor Tingkah Laku, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika dengan motif kepentingan duniawi, maka bernilai positif.

2.         Bernilai Negatif

a.         Faktor alam, jika tidak tersedia sarana dan lingkungan yang mendukung  pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, maka  bernilai negatif.

b.         Faktor Tingkah laku, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika dengan motif kepentingan ukrowi, maka bernilai negatif

Sedangkan penentuan berapa besarnya nilai kuantitatif dari setiap faktor tersebut,  terserah penilaian pembaca : apakah 2 atau 3 atau 5 dan seterusnya, pembaca bisa memperkirakannya, untuk pembahasan selanjutnya, besaran angkanya tidak ditulis.

Terjadinya Perkalian Negatif

Jika Faktor alam adalah (A).      Dengan kondisi dan keadaan alam sekitar yang gersang, kering kerontang, yang hanya terdiri dari pasir dan batu-batu karang cadas yang keras, tanpa ada sumber air, tanpa ada tanaman, sehingga sepintas tidak terlihat adanya harapan untuk hidup disini, maka dapat kita katakan minus (-A),

Jika Faktor tingkah laku adalah (B).     Dengan motivasi kepentingan ukhrowi, yakni kepentingan jangka sangat panjang sehingga sulit diukur, dan berorientasi untuk kehidupan yang lebih/sangat kekal, bukan kehidupan nyata sekarang, motivasi ini kurang disenangi menjadi kurang dimengerti, karena  hanya dianggap pemborosan, maka dapat kita katakan minus (-B)

Maka terjadilah perkalian minus/negatif sebagai berikut : -A  X  -B  =  +AB  (besaran angka pada +AB tidak terhitung karena tidak diketahui  –A  dan  –B  nya.

Semua ini bertentangan dengan asumsi nalar kita tentang kehidupan ini :

1.         Alam akan semakin rusak, karena akan dieksploitasi habis-habisan, sebagai  upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apapun akan dilakukannya, termasuk perusakan lingkungan, dan setelah rusak parah akan ditinggalkan.

2.         Manusia tidak akan berkembang, dan akan punah di  alam yang demikian keras, kejam, dan sadis, maka tidak ada satu orangpun akan menempati alam yang demikian.

Pembuktian kebenaran ini, adalah kejadian Abraham (Nabi Ibrohim AS.) dengan isterinya Hagar (Siti Hajar) yang menempati suatu daerah yang semula hanyalah gunung berbatu-batu yang berwarna hitam keabu-abuan, yang ada hanya pasir panas tanpa pohon, sumber tanpa sumber air, dan sekarang daerah Mekah.

Kita dapat membuat tinjauan, bahwa faktor alamnya ketika mereka datang pertama kali bernilai minus (-A), dan faktor motivasi mereka berdua adalah minus (-B), maka terjadilah perkalian minus diatas.  Dan sekarang kota Mekah menjadi tempat beribadah haji bagi orang islam serta orang yang berkunjung atau transit untuk umroh,  maupun yang berasimilasi (perkawinan campuran antar suku, antar ras,antar etnis) di kota Mekah semuanya  cenderung selalu meningkat.

Dan mungkin pola perkalian sejenis dapat menjelaskan.  mengapa ada orang yang hidup di daerah puncak gunung yang tinggi, di kutub utara atau selatan, atau disuatu pulau terpencil yang gersang,  atau di daerah ekstrim lainnya.

Terjadinya Perkalian Positif

Jika Faktor alam  (A). mendukung untuk pemenuhan kebutuhan harian, dengan tanah yang subur seperti di Indonesia, kecuali di Indonesia bagian timur yang sedikit kurang subur dibandingkan di daerah barat Indonesia, berarti bernilai positif (+A)  dan jika faktor tingkah laku   (B), dengan motivasi kepentingan duniawi, dan pelaksanaan investasi yang matang dalam segala bidang, maka berarti bernilai positif (+B)   Maka terjadilah perkalian positif  :  +A  X  +B  =  +AB

Contoh perkalian positif ini seharusnya terjadi di Indonesia, mengapa tidak demikian, jawabnya mungkin besaran angka pada (+B)-nya adalah 0,0001.  Dan kalau besaran angkanya melebihi 10  saja, didukung alam Indonesia mengandung sumber daya alam yang kaya, ada kemungkinan Indonesia menjadi tempat singgah, berkunjung atau transit untuk rekreasi, maupun untuk berasimilasi (perkawinan campuran antar suku, antar ras,antar etnis) yang (ada kecenderungan) melebihi daerah  manapun di dunia ini.

Faktor keindahan alam Indonesia adalah bernilai plus satu (+1) dari pariwisata, kalau benar-benar dikelola, semua daerah pulau  menjadi tujuan wisata laut di dunia, jadi tidak hanya Pulau Bali yang sudah terkenal, tetapi kalau tidak dikelola nilainya jadi nol  dan kemungkinan bisa minus sebab semuanya bisa berubah jadi daerah “sempit dan kumuh” seperti Tanjung Periuk.

Penutup.     Semua perkalian ini mungkin dapat menjelaskan kegagalan dari beberapa orang yang mengikuti Program Proyek Transmigrasi pemerintah Republik Indonesia, walaupun sebagian besar mereka berhasil. (lebih dari 98% mereka berhasil/betah disana dan tidak kembali ke daerah asalnya). Silahkan direnungkan.

Bisakah kita memanfaatkan ini semua untuk kesejahteraan kita bersama.

3. Pertarungan antara Kepentingan Duniawi dengan Kepentingan Ukhrowi.

Setiap orang, dalam setiap tingkah lakunya, baik disadari atau tidak disadarinya, dipengaruhi oleh suatu motif perbuatan, ada kemungkinan pada perbuatan yang sama, tapi motifnya berbeda. Yang menjadi motif suatu perbuatan adalah berupa suatu kepentingan atau beberapa kepentingan secara berbarengan. Semua kepentingan tersebut dapat kita bagi menjadi dua, yakni kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrowi. Terjadinya pertarungan antara dua kepentingan tersebut adalah berupa persaingan untuk terpenuhinya keduanya dalam waktu, detik, tempat, situasi, dan keadaan yang bersamaan. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dibahas : (a) Motif tingkah laku manusia, (b) Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi, (c) Akibat dari kurangnya memahami  pengertian duniawi dan ukhrowi, (c) Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.

a. Motif tingkah laku manusia.

Menurut teori Abraham H Maslow tentang hierarkhi dari lima tingkat kebutuhan manusia dan teori ERG Clayton Alderfer tentang tiga tingkat kebutuhan manusia, bahwa kebutuhan yang paling rendah adalah pemenuhan kebutuhan fisik. Walaupun kedua teori ini mengandung kebenaran; tetapi tidak dijelaskan bagaimana cara pemenuhannya, dan pada praktiknya apa motif dari suatu perbuatan. Sebenarnya suatu kepentingan atau beberapa kepentingan yang tidak bisa kita prediksi begitu saja, demikian pula jenjangnya sampai hierarkhi yang mana, dan tidak bisa diprediksi pertumbuhan semua motifnya secara progresiv. Kenyataannya semua kepentingan yang menjadi motif tingkah laku demikian kompleks. Contoh berikut mencoba menjelaskan perbedaan motif dari suatu perbuatan yang sama :

1). Orang yang lapar, harus makan untuk mempertahankan hidupnya, ketika tidak punya uang untuk membeli makanan, dia merebut makanan orang lain dan atau mencuri makanan orang lain. Maka motif perbuatan merebut dan atau mencuri adalah lapar.

2). Ketika semua orang sedang kelaparan dan kehausan, maka pada waktu itu terjadi perubahan nilai, yakni nilai makanan dan minuman menjadi lebih mahal dari emas, dan emas nilainya turun, sehingga banyak orang yang mau menukarkan emasnya dengan makanan dan minuman. Terjadilah perebuatan dan atau pencurian makanan dan minuman, walaupun mereka sudah kenyang, walaupun mereka sudah kaya. Maka motif perbuatan merebut dan mencuri adalah perubahan nilai.

Dari contoh di atas, secara sekilas, kita hanya melihat terjadinya perbuatan yang sama yakni perebutan dan pencurian makanan. Tetapi jika kita teliti apa yang menjadi latar belakang kepentingannya, maka kita baru bisa membedakan motifnya, bahwa kedua contoh perbuatan di atas motifnya berbeda.

b. Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Meneliti dan memperhatikan yang melatarbelangi dan atau menjadi motif setiap tingkah laku, yang berupa berbagai kepentingan, serta untuk dapat mengklasifikasikan semua kepentingan, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, terlebih dahulu kita tentukan batasannya, sebagai berikut :

1). Batasan kepentingan duniawi.

Bahwa orientasi kepentingan duniawi bersifat serba dunia yang nyata dalam kehidupan sehari-hari ini, awalnya pelaksanaannya lebih bertitik berat pada kepentingan dan kebutuhan yang bersifat fisik semata, semua kepentingan duniawi lebih sejalan dengan hawa nafsu dan terkadang bertentangan dengan hati nurani. Perumpamaan upaya untuk kepentingan duniawi seperti investasi untuk kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat jangka pendek. Terpenuhinya kepentingan duniawi dapat dilihat secara nyata, seringkali dianggap berhasil dalam hidup ini, dipuji dan disanjung, dielu-elukan dan dipandang terhormat oleh orang banyak.

2). Batasan kepentingan ukhrowi.

Bahwa orientasi dari kepentingan ukhrowi, adalah bersifat persiapan untuk kehidupan yang lebih langgeng, lebih kekal dan lebih abadi di masa mendatang, awalnya pelaksanaannya lebih betitik berat pada pengabdian yang tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kekal, semua kepentingan ukhrowi lebih sejalan dengan hati nurani dan terkadang bertentangan dengan hawa nafsu. Perumpamaan upaya untuk kepentingan ukhrowi seperti investasi untuk kehidupan kekal yang bersifat jangka (sangat) panjang. Terpenuhinya kepentingan ukhrowi tidak dapat dilihat secara nyata, Seringkali orang yang berhasil dalam kepentingan ukhrowi diabaikan dan tidak diperhatikan, karena tidak secara langsung dapat dilihat oleh orang lain.

Dengan kedua batasan di atas, maka kita dapat membuat perbandingan, dan tinjauan tentang semua tingkah laku kita, yang kemungkinan bisa merupakan refleksi dari kepentingan duniawi atau kepentingan ukhrowi.

c. Akibat dari kurangnya memahami pengertian tentang kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Kurangnya pengertian dan pemahaman yang menyeluruh tentang kedua kepentingan duniawi dan ukhrowi, mengakibatkan terjadinya :

1). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan duniawi, berakibat :

a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan duniawi dalam hidupnya, adalah sekuler, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena isinya hanya kepentingan dunia saja, lalu memisahkan agama dari dunia.

– Apakah mereka yang bekerja siang malam mencari makan bertentangan dengan agama?

– Apakah akhirnya mereka meninggalkan ajaran-ajaran agama?

b). Pengaruh dari kepentingan duniawi yang berlebihan, akan bersifat negatif pada kehidupan seseorang sehari-hari. Contoh sederhananya : “orang yang materilistis” akan cenderung hidupnya menjadi egoistis dan mengabaikan nilai-nilai luhur lainya, walaupun hal ini tidak terjadi pada semua orang, Akan tetapi pengabaikan terhadap hak kepemilikan dan pripacy seseorang akan membuat kehidupan secara umum menjadi kacau balau.

2). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan ukhrowi, berakibat :

a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan ukhrowi dalam hidupnya, adalah teroris, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena hanya berpegang pada dogma-dogma agama yang kaku secara membabi-buta, atau secara taklid buta, lalu merasa paling benar dan menganggap siapa saja yang di luar lingkungan kelompok agamanya dianggap salah, dan dianggap musuh dan harus diperangi.

– Apakah perbedaan pendapat adalah musuh? (termasuk perbedaan mazhab, perbedaan aliran dalam agama)

– Apakah perbedaan menganut agama adalah musuh?

– Apakah akhirnya agama dijadikan alat pembenaran atas tindakan biadab, atas tindakan tidak berperikemanusiaan atas tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia?

b). Setiap orang yang berupaya untuk kepentingan ukhrowi, dianggap melakukan hal yang tidak mungkin, lalu dicaci dan dicemoohkan sebagai “orang yang bego, orang tolol” karena ada kesempatan maling dan korupsi tetapi tidak dilakukannya. Padahal sebenarnya, bahwa “orang yang berusaha hidup jujur”, kehidupannya akan lebih tenang dan tidak akan masuk penjara karena ketidakjujuran. Tetapi sebaliknya pengabaikan kepentingan duniawi akan bertentangan dengan hukum alam, seperti seseorang yang melakukan pengabdian seumur hidupnya untuk Tuhannya, tanpa makan (puasa atau bertapa non stop), tanpa kawin (membujang seumur hidup), tanpa tidur (siang malam beribadah). Karena menurut hukum alam, setiap orang perlu makan, perlu tidur, perlu kawin dan lain-lain.

c). Adanya anggapan bahwa kepentingan ukhrowi adalah kepentingan surgawi, oleh karena itu ada sebagian orang mencoba menciptakan “semacam surga” pada kehidupan nyata sekarang ini, tetapi upayanya hanyalah menciptakan kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Karena kehidupan di dunia sekarang ini tetap ada penderitaan dan kesengsaraan. Akhirnya usahanya tidak pernah berhasil, kegagalannya, antara lain ditandai dengan lingkungan alam kita semakin rusak, polusi udara dan lingkungan yang semakin buruk tentu semuanya berakibat buruk bagi kesehatan kita, disamping berkembangnya berbagai penyakit baru seperti HIV AIDS, Flu Burung, Flu babi, dan lainya lagi, serta bertambahnya jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

D. Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.

Jika ditinjau dari kedua batasan kepentingan di atas, maka teori Maslow dan ERG Clayton Alderfer, hanyalah kepentingan duniawi semata, maka koreksi adanya sutau tujuan yang lebih tinggi merupakan kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama, (Stephen R. Covey dalam bukunya First Things First) bukan hanya kebutuhan spiritual, tetapi yang lebih spesifiknya adalah kepentingan ukhrowi.

Bagaimana praktik pemenuhan kedua kepentingan di atas, agar tidak terjadi tumpang tindih atau bahkan bertentangan, terlalu banyak kendala untuk membuat formula yang tepat bagi setiap orang, karena situasi, kondisi dan keadaan setiap orang berbeda-beda, jadi apa yang dilakukan orang lain belum tentu sesuai untuk pribadi kita, dan sebaiknya kita tidak menilai tingkah laku seseorang hanya dari luarnya saja. Dan kemungkinan nasehatpun belum tentu sesuai benar dengan kenyataan yang dihadapi. (walaupun kita tahu bahwa nasehat yang baik dan bermutu selalu berguna)

Catatan : Kesulitan dalam meninjau perbuatan kita sendiri, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, biasanya disebabkan karena kepentingan duniawi lebih mudah untuk dimengerti dari pada kepentingan ukhrowi. Kesulitan ini ditandai dengan adanya anggapan bahwa semua tingkah laku kita adalah kepentingan duniawi saja.

Apakah dunia ini panggung sandiwara? Mengapa kita demikian terlena dan terpesona dengan kehidupan ini, sehingga kita lupa waktu? Menyaksikannya tapi sesungguhnya saat ini, detik ini sedang berlangsung pertarungan tiada akhir, yang sering tidak kita sadari. Apa dan bagaimana sebenarnya pertarungan itu? Inilah jawabannya :

1. Pertarungan antara hati nurani dengan hawa nafsu.

Dalam diri setiap orang saat ini sedang terjadi pertarungan antara hati nuraninya dengan hawa nafsunya, pertarungan ini tidak pernah berakhir selama hidupnya. Apa akibatnya jika hati nuraninya yang menang atau hawa nafsunya.

Jika hati nuraninya yang menang, berakibat

Jika hawa nafsunya yang menang, berakibat

1. Hati nuraninya akan mendorong terbitnya semua niat yang baik dan akalnya dikendalikan oleh hati nuraninya, sehingga akalnya menjadi pelita hati, mencari jalan untuk melakukan semua hal yang baik.

2. Jiwa dan perasaannya tenang, karena semua tingkah lakunya sesuai dengan hati nuraninya, jadi lebih tahu diri, lebih introspeksi dan lebih sesuai dengan keadaan.

3. Hidupnya menjadi terpuji dan terhormat, karena hati nurani akan selalu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, selalu menghindari maksiat dan hal-hal tercela.

4. Hati yang bersih dari dosa dan noda akan membuat pikiran lebih jernih, lebih obyektif, akan lebih banyak pertimbangan dan lebih bisa menerima nasehat.

5. Hati nurani mengajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, selalu bersyukur jika mendapat nikmat dan selalu bersabar jika dapat musibah, selalu bersikap rendah hati kepada siapa saja dan selalu menyayangi semua makhlukNya.

1. Hawa nafsunya akan mendorong terbitnya semua niat jelek/jahat, dan akalnya akan dikendalikan oleh hawa nafsunya, sehingga akalnya akan selalu mencari jalan untuk melakukan semua hal yang jelek/jahat.

2. Jiwa dan perasaannya selalu gelisah, karena dorongan hawa nafsu selalu menuntut pelampiasan dan pemuasan, tak tahu diri, tak tahu malu, tak ada introspeksi dan tidak sesuai dengan keadaan.

3. Tiada kehormatan dalam hidupnya, karena hawa nafsu mengendalikannya untuk selalu berbuat kejahatan, dan hal-hal tercela, terhina lainnnya.

4. Orang yang dikendalikan hawa nafsu seperti orang yang sedang mabuk, tidak bisa berfikir jernih dan tidak lagi obyektif, dan tidak bisa lagi menerima nasehat.

5. Hawa nafsu mengajak untuk melupakan/ mengabaikan Tuhannya, melakukan semua hal yang dimurkainya, berlaku sombong, angkara murka, sewenang-wenang dengan mengabaikan semua hokum, aturan dan nilai dan norma yang baik.

2. Pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan.

Antara kebaikan dan kejahatan terjadi pertarungan yang tak pernah terhenti mungkin sampai hari kiamat, contoh konkritnya adalah pertarungan antara polisi dengan maling. Polisi mengembangkan ilmu pengetahuannya agar dapat menangkap maling, sebaliknya maling mengembangkan ilmu pengetahuannya agar tidak tertangkap oleh polisi.

Dalam spektrum pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan secara umum, sebenarnya kita dihadapkan untuk memilih satu dari dua alternatif tersebut, apapun pilihan kita tetap ada resikonya. Bersikap tidak memilih atau masa bodoh/apatis juga ada resikonya sebagai berikut :

a. Bersikap apatis, tidak mendukung kepada kebaikan, berarti telah berpihak kepada kejahatan.

b. Bersikap apatis, tidak mencegah kepada kejahatan, berarti telah berpihak kepada kejahatan.

c. Bersikap apatis, tidak menarik diri, jika melihat dalam kebaikan ada kejahatan, berarti telah berpihak kepada kejahatan. (umpama : jika ada yang mengajak melaksanakan kebenaran suatu agama, tetapi dalam tindakannya menyusahkan dan meresahkan orang lain, apalagi sampai membunuh orang yang tidak bersalah, berarti terdapat penyimpangan dan pembohongan terhadap agama, atau yang mengajak telah jadi teroris) – maka jauh-jauh hari harus menarik diri-

d. Bersikap apatis, tidak menjauhkan diri terhadap urusan samar-samar, hal-hal yang tidak jelas baik atau jahat, berarti telah berpihak kepada kejahatan. (salah satu tanda dari tindak kejahatan adalah membuat yang jelas menjadi samar-samar, memutar-balikkan fakta dan data, mencampur adukkan yang halal dengan yang haram, membuat orang bingung dan ragu-ragu)

Apapun pilihan kita pasti ada sanksinya dan akibatnya, sebaiknya kita memilih untuk berpihak kepada kebaikan, karena jika kebaikan yang menang atas kejahatan maka kehidupan menjadi lebih aman, lebih tenteram dan lebih damai.

Bersambung ……


November 2017
S S R K J S M
« Jan    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 214,065 orang