SULAIMAN Weblog

Posts Tagged ‘komunikasi

Kita mengenal “Komunikasi” yang bersifat multidisipliner yang sangat luas, yang menyangkut berbagai aspek kehidupan dengan berbagai pendekatan ilmiah dari berbagai sudut pandang keilmuan. Jadi tidak mengherankan, jika pada hampir semua cabang ilmu pengetahuan terdapat penggunaan istilah komunikasi.

Pembahasan mengenai komunikasi berikut ini, tentang komunikasi dalam pelaksanaan pekerjaan dan dampaknya jika komunikasi tidak terjalin dengan lancar atau jika terjadi miskomunikasi.

Batasan ‘komunikasi pelaksanaan pekerjaan’,  ialah : “Interaksi antar manusia, meliputi proses hubungan yang dinamis antara atasan dan bawahan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing, berupa pertukaran informasi sesuai jenis pekerjaan masing-masing, selama berlangsungnya pelaksanaan suatu pekerjaan, dengan tujuan efektifitas, efisiensi dan keselamatan.”

Pada praktik komunikasi pelaksanaan pekerjaan oleh siapapun, terbagi dua :

1.         Komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan berjalan dengan lancar, sehingga akan mencapai tujuannya, jika :

1.1.         Antara atasan dan bawahan dalam jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, terjadi saling memahami selama proses pertukaran informasi tersebut.

1.2.         Sifat informasi yang disampaikan oleh bawahan pelaksana kepada atasan, berupa semua perkembangan dan kejadian apapun selama melaksanakan pekerjaannya.

1.3.         Sifat informasi yang disampaikan oleh atasan kepada bawahan pelaksana, berupa petunjuk yang lengkap, terinci, jelas dan mudah difahami oleh bawahan pelaksana dan juga disertai perintah yang jelas.

1.4.         Dinamika pertukaran informasi sesuai dengan dinamika perkembangan pekerjaan yang sedang dilaksanakan, terutama yang bersifat mobilitas seperti kendaraan, jika kecepatan rendah maka ‘ukuran pertukaran informasi per-tiga  detik’ mungkin cukup memadai, tetapi jika pada kecepatan tinggi ukurannya harus ’per-setengah detik’ ukuran ini bersifat relatif karena disesuaikan dengan medan dan sifat dari pekerjaan yang sedang dilaksanakan.

1.5.         Adanya aktifitas dari semua orang yang terlibat dengan pelaksanaan pekerjaan untuk menyampaikan informasi secara reaktif dan terus menerus selama pelaksanaan pekerjaan.

1.6.          Adanya kebersamaan momentum waktu dalam penyampaian informasi dari semua bawahan pelaksana kepada atasan dan dari atasan kepada semua bawahan pelaksana serta tidak ada yang menunda waktu untuk penyampaian informasi.

1.7.        Adanya sikap peduli dan partisipasi dari semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing,  sehingga proses akselerasi pelaksanaan pekerjaan semuanya berjalan secara serempak atau bersamaan waktunya.

1.8.         Dinamika proses pertukaran informasi selama berlangsungnya pekerjaan tidak terhenti walau sesaat, dan selalu berjalan dengan lengkap, tepat, dan akurat

2.         Komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan tidak berjalan lancar atau terjadi miskomunikasi, sehingga tidak akan mencapai tujuannya, jika :

2.1.         Antara atasan dan bawahan tidak saling memahami selama proses pertukaran informasi tersebut, mungkin karena beda bahasa, beda pola pikir, beda intelegensia dan lain-lain.

2.2.         Bawahan pelaksana, tidak menyampaikann informasi, tidak memberitahukan atasannya tentang perkembangan dan kejadian saat ini (atau detik ini) selama melaksanakan pekerjaannya, mungkin karena dianggap tidak berarti dan hanyalah kerjadian yang kecil sekali sehingga merasa tidak perlu untuk disampaikan.

2.3.         Atasan tidak menyampaikan informasi cukup, sehingga petunjuknya tidak lengkap, tidak terinci, tidak jelas dan sulit difahami oleh bawahan pelaksana,  dan juga disertai perintah yang tidak jelas, sehingga bawahan pelaksana bingung harus mengerjakan apa.

2.4.         Dinamika pertukaran informasi tidak sesuai dengan dinamika perkembangan pekerjaan yang sedang dilaksanakan, sehingga terjadi keterlambatan dalam proses pertukaran informasi yang dibutuhkan.

2.5.         Terhentinya aktifitas dan partisipasi dari beberapa orang atau semua orang yang terlibat dengan pelaksanaan pekerjaan, sehingga mereka tidak menyampaikan informasi dan bersikap pasif.

2.6.          Tidak adanya kebersamaan waktu dalam penyampaian informasi dari tiap bagian kepada atasan, sehingga atasan tidak dapat dengan segera untuk mengubah kebijaksanaan dalam proses pelaksanaan pekerjaan, karena kurangnya informasi yang dibutuhkan.

2.7.         Adanya sikap tidak peduli dan tidak berpartisipasi dari sebagian atau semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan,  sehingga proses akselerasi pelaksanaan pekerjaan tidak serempak atau tidak  bersamaan waktunya.

2.8.         Dinamika proses pertukaran informasi selama berlangsungnya pekerjaan terhambat atau terhenti walau sesaat, dan berjalan dengan tidak lengkap, kurang tepat, dan kurang akurat.

Kapal Titanic

Terjalinnya komunikasi oleh semua pelaksana pekerjaan, harus  selalu berlangsung dan tidak boleh berhenti dan tidak boleh terjadi miskomunikasi baik di daratan, dilautan maupun di udara. Dan  haruslah disadari oleh semua orang, bahwa terjalinnya komunikasi ini tidak boleh terganggu oleh sinyal apapun.

Miskomunikasi adalah salah satu sumber bencana, contoh kasus : Tragedi yang menimpa  kapal laut terbesar dan termewah yakni kapal “Titanic”

Kapal Titanic dengan panjang 269 meter (882 kaki 9 inci) dan 28 meter (92 kaki 6 inci) lebar, berat mati 46.328 ton, dan ketinggian dari permukaan air ke geladak setinggi 18 meter (60 kaki). Kapal Titanic mampu membawa 3.547 penumpang dan awak kapal dan  memulai pelayaran pertamanya dari Southampton, Inggris, dalam perjalanan ke New York City, New York, pada Rabu, 10 April 1912, saat itu suhu menurun sampai tahap hampir beku dan laut tenang, bulan tidak keluar dan langit cerah. Kapal ini di bawah kendali Kapten Kapal : Edward J. Smith.

bongkahan gunung es

Kapten Smith, mendapat  peringatan adanya bongkahan gunung es melalui komunikasi nirkabel semenjak beberapa hari lalu, maka dia telah mengubah haluan Titanic lebih jauh ke arah selatan.

Kapal Titanic Mulai Tenggelam

Tiba-tiba dunia dikejutkan saat tersebar berita, bahwa kapal Titanic yang dilengkapi dengan teknologi yang maju telah tenggelam dengan jumlah korban tewas yang begitu tinggi. Dari sejumlah 2.223 orang penumpang, hanya 706 orang penumpang yang selamat; 1.517 orang penumpang tewas. Kebanyakan penumpang tewas disebabkan karena korban terkena hypothermia dalam air 28 °F (−2 °C).

Saat-saat Kapal Titanic Tenggelam

Hanya dua dari 18 perahu skoci penyelamat yang kembali untuk menyelamatkan korban dari dalam air selepas kapal tenggelam.

Penyebab tenggelamnya kapal Titanic, karena kapal membentur bongkahan gunung es pada  haluan depan kanan kapal, sampai lambung kanan kapal setelah kapal berusaha berbelok ke arah kiri.

Hasil investigasi terakhir, menemukan penyebab terjadinya bencana tersebut, ialah telah  terjadi miskomunikasi selama pelaksanaan pekerjaan, sebagai berikut :

1.         Petugas operator radio komunikasi (Jack Phillips dan Harold Bride) pada kapal Titanic, menangkap sinyal yang tidak jelas, dia telah mencoba untuk mencari gelombang dan memperjelas sinyal tersebut, tapi ternyata sinyal semakin tidak jelas. Hal ini membuat dia stress, dan dia tidak tahu bahwa kapal pada saat itu sedang melaju dengan sangat cepat. Maka dia telah melakukan kesalahan, sebagai berikut :

a.       Dia tidak menyampaikan informasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai tertangkapnya sinyal yang tidak jelas.

b.       Dia merasa seperti di daratan karena dia memang saat itu berada dalam ruangan tertutup di dalam kapal Titanic, Padahal saat itu dia sedang berada di lautan lepas, yang tidak mungkin ada sinyal yang tidak jelas dengan peralatan yang ada.

c.        Menurut pengalamannya jika menangkap sinyal yang tidak jelas, adalah perbuatan dari orang-orang iseng yang hanya mengganggu. Dia merasa tersinggung dan emosi, karena merasa tugasnya diganggu, maka dia menjawab sinyal yang masuk tersebut dengan nada tinggi dan marah-marah.

2.         Petugas penjaga menara kapal, merasakan perubahan udara menjadi sangat dingin dalam waktu singkat, dan tiba-tiba terlihat di depan kapal banyak gumpalan kabut, tentu saja hal ini akan membatasi jarak pandangnya. Setelah kapal menerobos kabut, tiba-tiba dia melihat gunung es di depan kapal. Dan dia tidak tahu bahwa kapal pada saat itu sedang melaju dengan sangat cepat. Maka dia telah melakukan kesalahan sebagai berikut :

a.       Dia tidak menyampaikan infomasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai terjadi suhu udara yang berubah dengan cepat menjadi sangat dingin di luar kapal. Dia hanya sibuk mengenakan pakaian lebih tebal untuk mengatasi rasa dingin dan agar tidak beku.

b.       Dia tidak menyampaikan informasi pada detik itu juga kepada kapten kapal, mengenai terdapat banyak gumpalan kabut di depan kapal. Dia hanya berusaha menggunakan teropong yang ada secara maksimal tetapi gagal dan kegagalan inipun tidak dilaporkan kepada kapten kapal.

c.        Dia menyampaikan informasi kepada kapten kapten kapal yang terlambat beberapa menit, mengenai terlihatnya bongkahan gunung es diantara gumpalan kabut. Karena dia ragu-ragu dan semula tidak percaya, mengapa tiba-tiba muncul gunung es di depan kapal. Padalah dalam kecepatan tinggi, terlambat beberapa menit pasti membahayakan pelayaran.

d.       Dia terlambat menyadari bahwa kapal yang demikian besar sedang melaju dengan kecepatan tinggi, maka dalam keadaan stress berat hanya bisa berteriak berkali-kali :”Kapal kita akan menabrak gunung es”.  Tentu saja teriakan ini membuat kepanikan, pada siapa yang mendengarnya, akhirnya menjadi kepanikan umum serta kekacauan dan hiruk pikuk pada sebagian besar penumpang.

3.         Kapten kapal, selaku penguasa tertinggi yang merasa sangat percaya diri, karena kapal Titanic yang dipimpinnya adalah kapal terbesar yang dilapisi oleh plat baja yang tebal dan sedang melaju di lautan lepas.  Kalau  gelombang sertinggi lima belas meter saja tidak terasa apa-apa, maka dia merasa tidak akan terjadi apa-apa. Dia bergabung dengan para bangsawan dan hartawan yang sedang menghormatinya, dalam acara pesta-pora, bersenang-senang. Tiba-tiba dia mendapat laporan dari penjaga menara kapal bahwa di depan kapal ada gunung es, tentu saja hal ini membuat dia sangat kaget dan stress berat. Dia baru menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan, yakni :

a.       Bahwa telah terjadi miskomunikasi dari bawahannya, tidak mungkin secara tiba-tiba ada gunung es di depan kapal di lautan lepas seperti ini, pasti ada informasi yang tidak disampaikan kepadanya dari sebelumnya.

b.       Dia telah lalai untuk melakukan control kepada bawahan-bawahannya karena telah terlena oleh kesenangan dengan para bangsawan dan hartawan, sehingga dia tidak mendapatkan informasi yang akurat setiap menit. (jika semakin cepat kapal, maka frekwensi pelaksanaan kontrol harus semakin sering dan semakin rapat waktunya)

c.        Dia tidak mengantisipasi kemungkinan terburuk, seperti : Jumlah baju pelampung yang terbatas, jumlah perahu sekoci  yang terbatas, jumlah ban yang terbatas, dan lain-lain.

d.       Dia terlambat memerintahkan untuk menurunkan sekoci, karena semula menyangka bahwa kapal tidak mungkin tenggelam, sehingga terjadi hiruk pikuk yang luar biasa saat penurunan skoci, akhirnya beberapa  sekoci tidak berfungsi karena ulah para penumpang yang sudah tidak bisa diatur karena hiruk-pikuk kepanikan massa.

e.       Dia tidak mengantisipasi kemungkinan terjadinya kebarakan dan ledakan yang membuat kapal terbelah dua. (mungkin karena kontruksi kapal yang tidak memungkinkan, sehingga hal ini tidak bisa dilakukan)

f.         Berbagai upaya yang mungkin dapat dilaksanakan telah diusahakan, tetapi momennya sudah terlambat, maka bencana besar yang menimpa kapal Titanic benar-benar terjadi, upaya-upaya tersebut, antara lain :

1)          Memerintahkan bagian mesin untuk menghentikan laju kapal, tetapi kapal yang demikian besar dan panjang tidak mungkin menurunkan kecepatannya dalam waktu singkat.

2).         Memerintah bagian kemudi untuk merubah haluan agar tidak menubruk gunung es, tapi kapal yang masih melaju dalam kecepatan tinggi, jadi tidak mungkin membelokkan kapal sembilan puluh derajat, walaupun kemudi kapal sudah diputar habis.

3)          Memerintahkan seluruh teknisi untuk menutup seluruh kebocoran, setelah bagian kanan depan kapal dan lambung kanan kapal membentur bongkahan gunung es,  tetapi tekanan air yang masuk sangat kuat karena bobot kapal sangat berat, akhirnya banyak teknisi yang meninggal kelelep.

4)         Memerintahkan petugas operator radio komunikasi untuk meminta bantuan, tetapi kapal terletak di tengah-tengah samudra yang jauh dari mana-mana, tidak mungkin bantuan datang dengan segera.

5)          Kapten masih terus berfikir untuk menyelamatkan kapalnya, tapi kapal mulai oleng dan mulai miring ke kanan,  akhirnya dia memutuskan untuk tidak meninggalkan kapal. Sebab kalau dia menyelamatkan diri sendiri, diapun sudah tua dan dia akan dituntut di pengadilan atas kelalaiannya. (keputusan yang diambil atas dasar rasa tanggung jawab yang sangat besar, bukan karena takut diadili)

Analisa kejadian saat itu pada kapal Titanic,  jika komunikasi yang terjalin antara atasan dan bawahan berjalan dengan lancar dan tidak ada miskomunikasi, ialah :

1.         Kapten Kapal memperhatikan bawahannya, untuk ikut bergabung sesuai dengan kesenangan yang dipilih bawahannya, maka bawahannya tidak akan stess. Karena manusia tidak sama dengan mesin, manusia akan stress dan depresi jika diperlakukan seperti mesin dalam waktu yang cukup lama. (faktor “human error” karena kelelahan mental, harus diperhitungkan pada setiap pekerjaan)

2.         Petugas operator radio komunikasi, segera melaporkan kepada Kapten Kapal (pada detik itu juga), bahwa ada sinyal yang tidak jelas. Kapten Kapal pasti mengetahui bahwa sinyal yang tidak jelas pasti terhalang. Di lautan bebas seperti ini, besar halangannya pasti sebesar gunung. Maka kapten kapal akan memerintahkan kepada petugas operator radio komunikasi :

a.       Cek peralatan radio apakah ada spare part atau onderdilnya yang rusak, hasilnya laporkan pada menit pertama.

b.       Cek sumber sinyal arahnya dari mana, hasilnya laporkan pada menit kedua.

3.         Petugas penjaga menara kapal segera melaporkan kepada Kapten Kapal (pada detik itu juga), bahwa tiba-tiba suhu udara berubah menjadi sangat dingin, dan jauh di depan terdapat kabut yang menghalangi jarang pandang. Kapten Kapal pasti mengetahui hal ini tidak mungkin terjadi tiba-tiba di lautan lepas, maka kapten kapal pasti :

a.       memerintahkan kepada petugas penjaga menara kapal untuk mencek cuaca, apakah terlihat semacam taufan yang kemungkian kecepatannya di atas seratus kilometer per-jam,  dan laporakan segera.

b.       memerintahkan kepada petugas kemudi dan navigasi, apakah kapal sudah berubah arahnya dari rencana semula. Laporkan segera.

4.         Berdasarkan semua informasi yang diterima dari  semua petugas tersebut, kapten kapal berpengalaman di lautan puluhan tahun pasti sudah dapat memperkirakan bahwa :

a.       Jika peralatan radio tidak rusak, maka sinyal yang masuk tidak jelas pasti terhalang dan besarnya halangan di lautan lepas pasti sebesar gunung.

b.       Jika arah sinyal dari depan, maka yang menghalangi sinyal ada di depan kapal yang besarnya benda tersebut sebesar gunung.

c.        Jika suasana sekitar kapal tidak berubah dan tidak ada semacam taufan, maka udara sangat dingin itu berasal dari es atau salju di depan.

d.       Gumpalan kabut di depan kapal adalah semacam uap dingin dari es atau salju, maka di depan kapal terdapat bongkahan es sebesar gunung.

d.       Jika laporan bagian kemudi dan navigasi, bahwa kapal berjalan sesuai jalur yang direncanakan, berarti kapal tidak menuju ke arah kutub selatan tapi menuju bangkahan gunung es yang mengambang.

e.       Berarti saat ini, bongkahan gunung es yang mengambang ditiup angin menuju ke  arah kapal,  antara kapal dengan gunung es ke arah yang saling bertumburan.

f.         Kapten kapal pasti akan segera memerintahkan untuk mengurangi kecepatan, membelokkan arah kapal dan segera mencari  jalur alternatif lain, agar semuanya selamat. (cara berpikir yang cepat dari kapten berpengalaman, pasti tidak diketahui oleh siapapun bawahannya)

Kesimpulan

1.         Kapten Kapal Titanic Edward J. Smith bukan satu-satunya orang yang paling bersalah,  pasti dia tidak mau bersikap melepas tanggungjawab kepada bawahan dan mempersalahkan bawahan karena terjadinya miskomunikasi. Terbukti dari upayanya yang sangat gigih untuk mengatasi permasalahan sangat besar yang sedang dihadapinya dan dia tidak meninggalkan kapal sampai akhir hayatnya.

2.         Kapten kapal Titanic yang pandai dan sangat berpengalaman puluhan tahun dalam perjalanan di laut lepas, akhirnya tidak dapat mempergunakan seluruh kepandaiannya dan pengalamannya secara maksimal, disebabkan telah terjadi miskomunikasi.

3.        Semua peralatan teknologi maju yang terdapat pada kapal Titanic, seolah-olah sudah tidak mampu mengatasi permasalahan dan kesulitan yang ada, permasalahan utamanya karena telah terjadi miskomunikasi.

4.         Pelaksana pekerjaan, selaku bawahan, memang seharusnya juga tidak boleh lalai dan selalu berpedoman pada arahan atasan, maka sikap lalai bawahan dengan tidak menyampaikan informasi yang benar  dan lengkap dari saat-saat  awal, bukan hanya akan membebani atasan dengan permasalahan (sangat) besar, tetapi juga dapat menimbulkan bencana dan bahaya bagi masyarakat umum.

5.       Kapten kapal sebagai penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan dengan mobilitas tinggi, sama sekali tidak boleh lalai walau sesaat dan para penumpang sebaiknya tidak merayu kapten kapal untuk ikut bersenang-senang yang dapat mengakibatkan kapten menjadi  lalai akan tugas pokoknya.

6.     Di era kemajuan teknologi seperti sekarang ini, hendaklah setiap orang berhati-hati dalam menggunakan alat komunikasi (seperti : handphone, laptop, handy talki, komputer dan lain-lain) jangan sampai mengganggu jalur komunikasi pelaksanaan pekerjaan siapapun, baik di darat, di laut atau di udara.

7.       Jika dalam era kemajuan teknologi yang demikian cangkih sekarang ini, masih terdapat atasan yang mengalami miskomunikasi; maka atasan seperti ini, sungguh membahayakan masyarakat umum yang harus menggunakan jasa pelayanannya.

8.       Atasan atau bawahan pelaksana, yang tidak professional, cenderung untuk mengkambinghitamkan “permasalahan miskomunikasi” ini, sebagai pembenaran kekeliruannya, terutama yang telah mengakibatkan korban jiwa dan kerugian materil. (sikap permohonan maaf kiranya tidak cukup, karena kejadian serupa pasti akan terulang lagi dan akan jatuh korban lagi, akan terjadi kerugian meteril lagi)

Penutup

Masih adakah orang yang memiliki rasa tanggung jawab yang demikian besar seperti Kapten Kapal Titanic Edward J. Smith dan masih adakah orang-orang yang berusaha terjalinnya komunikasi dengan lancar selama melaksanakan pekerjaan, masih banyakkah orang yang memperhatikan masalah keselamatan, sehingga kejadian seperti kapal Titanic tidak terulang lagi.

Semoga permasalahan miskomunikasi yang menimbulkan bencana akan menjadi perhatian kita semua dan semoga kisah tenggelamnya kapal Titanic, akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. (pelajaran ini diambil dari film “Titanic” yang penuh dengan fiksi, jika penasaran – – – silahkan tonton filmnya)

Iklan

Suatu bahasa yang dikenal sebagai sarana untuk berkomunikasi dalam bersosialisasi, mengalami dinamika perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu, berikut akan dibahas secara sepintas mengenai : a) Manusia dan Bahasa, b) Perkembangan Bahasa, c) Bentuk Bahasa dan perkembangannya, d) Bahasa Standar dan bahasa Prokem, e) Bahasa Hidup, Mati atau Punah, f) Kecenderungan dan Tuntutan bagi Perkembangannya.

A.      Manusia dan Bahasa

Manusia normal selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk keperluan itu digunakan bahasa.  Upaya untuk menguasai suatu bahasa tertentu, tidak terpisahkan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dan untuk memperoleh keunggulan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tersebut, seperti : nilai ekonomis, nilai politis, nilai sosio-kultural dan lain-lain.

Seorang manusia sejak lahir telah memiliki kemampuan untuk menguasai suatu bahasa, kemampuan ini terus berkembang seiring dengan bertambahnya kematangan kepribadiannya, sehingga manusia dapat menciptakan dan menggunakan lambang-lambang dan simbol-simbol yang menggambarkan arti dan pengertian tertentu, maka manusia disebut “animal simbolicum” atau “al hayawanun naatiq”.

B.      Perkembangan Bahasa

Sebagai makhluk sosial, seseorang akan mengalami proses interaksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik berkomunikasi antar pribadi, intern kelompoknya, atau dengan kelompok lainnya. Proses ini akan mengembangkan suatu bahasa pada sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah, sesuai dengan kebiasaan, adat istiadat, dan budaya pada kelompok masyarakat tersebut.

Berkembangnya suatu bahasa dalam suatu wilayah dan penyebarannya ke wilayah lain, akan berproses secara alamiah dalam waktu yang cukup lama. Pertumbuhan dan perkembangannnya ke wilayah-wilayah lain, ditentukan oleh banyaknya jumlah penutur yang tersebar. Banyak bahasa yang perkembangannya sudah mendunia, yakni bahasa-bahasa yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain-lain.

C.      Bentuk Bahasa Dan Perkembangannya

Secara umum bentuk bahasa terbagi dua, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Adapun Bahasa isyarat adalah penjabaran atau bersumber dari bahasa lisan yang dipergunakan oleh tunawicara. Perkembangan dari masing-masing bentuk bahasa tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, lebih banyak ditentukan oleh tuntutan dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam bermasyarakat.

Perkembangan bahasa lisan mendahului bahasa tulisan, terutama ketika manusia belum mengenal tulis-baca. Maka dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial lebih banyak dipergunakan bahasa lisan, karena lebih praktis dan tidak memerlukan media selain dari  berfungsinya alat pengucapan, suara yang dihasilkan, dan alat pendengar dari tubuh manusia sendiri. (mulut yang dapat bicara dan telinga yang dapat mendengar)

Perkembangan bahasa tulisan mulai dikenal sejak abad kelima, sejak manusia menuliskan simbol-simbol pada lempengan tanah liat yang dikeringkan, lalu ditemukan papyrus, kertas dan sekarang komputer, digital dan internet. Bentuk bahasa tulisan lebih banyak mempergunakan bahasa standar, terutama untuk dokumen-dokumen resmi dan dokumen-dokumen ilmiah yang mengandung “pengertian yang tinggi”. Bahasa tulisan akan terus berkembang seiring berkembangnya istilah-istilah resmi dan istilah-istilah semua disiplin keilmuan.

D.      Bahasa Standar Dan Bahasa Prokem

Bahasa standar adalah bahasa yang baik dan benar, bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata bahasanya, mempergunakan kata-kata baku yang umum, mempergunakan kalimat-kalimat efektif, dalam paragraf-paragraf yang sistematis, seluruhnya menjelaskan suatu makna dan pengertian secara jelas dan gamblang.

Memerhatikan seorang anak dalam menangkap dan menguasai suatu bahasa yang menjadi bahasa ibu (atau bahasa pertama yang dikuasainya), kerapkali terjadi kesalahan pengucapan suatu kata,  dalam pelafalan hurufnya, beda pelafalan ini  tanpa membedakan arti atau mengandung arti yang berbeda. Pada pelafalan baru disertai susunan kata baru dengan arti baru.  Bahasa baru ini lebih berkembang karena dipengaruhi oleh sekelompok orang di lingkungannya, disebut bahasa prokem, atau bahasa slang, atau bahasa ‘amiyah.

Bahasa prokem dianggap menyalahi aturan tata bahasa, dan merusak bahasa baku dan oleh sebagian orang dianggap sebagai “kemunduran” dalam berbahasa, bahkan menggunakan bahasa prokem dianggap “tidak sopan”. Karena suatu anggapan, bahwa bertutur yang sopan-santun itu, tidak menggunakan bahasa prokem. Akhirnya penggunaan bahasa prokem terbatas pada sekelompok orang tertentu. Apakah bahasa prokem semuanya mengandung kata-kata yang “jelek”? Bagaimana bertutur dengan menggunakan bahasa yang standar dan sopan, tapi menyinggung perasaan pendengarnya dan menyakitkan hati pendengarnya? (Dimana letaknya sopan santunnya?)

Bahasa prokem adalah bukti dari kreatifitas sekelompok orang yang merupakan pecahan atau pengembangan dari bahasa standar. Tanpa bahasa standar bahasa prokem tidak pernah ada. Berkembangnya bahasa prokem merupakan tuntutan dalam berkomunikasi pada sekelompok masyarakat, dengan menggunakan bahasa prokem, pergaulan menjadi lebih akrab, lebih komunikatif, dan lebih efektif. Jadi pada sekelompok masyarakat tertentu lebih banyak menggunakan bahasa prokem, maka siapapun yang berupaya memusnahkan bahasa prokem adalah upaya yang sia-sia.

E.      Bahasa Hidup, Mati Atau Punah

Siklus pertumbuhan dan perkembangan suatu bahasa, seperti siklus suatu makhluk, ada yang hidup, mati atau punah. Gejala suatu bahasa yang hidup, mati atau punah dapat diketahui, perubahan dari bahasa yang hidup menjadi mati atau punah tidak dapat diprediksi dan tidak dapat diukur kapan waktunya dengan tepat.

Pada bahasa yang hidup, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut terjadi penyebaran ke wilayah lain, walaupun sedikit/kecil.

2.  Jumlah penuturnya relatif stabil, atau bertambah dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya cenderung bertambah, kosa kata baru yang terpakai, lebih banyak dari kosa kata lama yang tidak terpakai.

Pada bahasa yang mati, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut tidak terjadi penyebaran ke wilayah lain.

2.  Jumlah penuturnya berkurang dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya tidak bertambah dan penggunaannya sedikit, seperti:Bahasa Latin hanya dipakai dalam istilah-istilah bidang kedokteran, Bahasa Sanskerta hanya dipakai pada nama-nama bangunan di Indonesia, Bahasa Yunani hanya dipakai pada nama produk-produk teknologi terbaru, dan lain-lain.

Pada bahasa yang punah, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Penuturnya sangat jarang hanya beberapa orang, atau mungkin tidak ada lagi.

2.  Perbendaharaan katanya banyak yang hilang dari penutur yang ada/tersisa.

3.  Tidak ada dokumentasi berupa tulisan apapun, sehingga tidak dapat dipelajari kembali.

Perubahan dari bahasa yang hidup menjadi bahasa yang mati, bukan disebabkan tidak memiliki kaidah bahasa yang lengkap, atau tidak memiliki tata bahasa yang sempurna, tapi lebih banyak ditentukan oleh kecenderungan-kecenderungan yang berubah dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidup pada masyarakat tertentu. Kerapkali bahasa yang mati yang tertinggal hanya dokumen tertulis, atau mungkin tidak ada lagi orang yang mengerti tentang maksud dan arti dari tulisan tersebut.

Perubahahan dari bahasa hidup menjadi bahasa yang punah, disebabkan oleh penuturnya yang tidak lagi mempergunakannya, dan tidak terdapat dokumentasi tertulis apapun. Dengan punahnya suatu bahasa, maka semua nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa tersebut juga ikut punah. Kepunahan tersebut menyebabkan kemanusiaan  mengalami kerugian, yakni manusia modern akan menjadi “semakin miskin nilai-nilai luhur”.

Semua bahasa prokem dari semua bahasa, besar kemungkinan untuk punah, terutama bila ada tidak upaya mendokumentasikannya, baik berupa buku, film, CD, DVD atau lain-lain. Apakah pengkajian terhadap bahasa prokem, merupakan penurunan kualitas ilmiah, kiranya  perlu dikaji kembali?

Banyak bahasa-bahasa daerah di Nusantara yang hilang, mungkin akibat dampak kebijakan memperkuat Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Walaupun ada kebijakan memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal pada pendidikan, tetapi bahasa-bahasa daerah masih tidak berkembang, bahkan tetap banyak yang hilang. Janganlah beranggapan bahwa pada bahasa-bahasa masyarakat yang tinggal di kepulauan Nusantara tersebut tidak terdapat nilai-nilai budaya yang luhur.

F.      KECENDERUNGAN DAN TUNTUTAN BAGI PERKEMBANGANNYA.

Kecenderungan umum, semua orang untuk memilih hal-hal yang lebih praktis, lebih mudah dan lebih sederhana, dari pada sebaliknya. (Kalau ada yang praktis, mudah dan sederhana, mengapa pilih yang ribet, sulit dan rumit?)  Kecenderungan ini berlaku pula dalam pemilihan bahasa. Maka kebanyakan orang beranggapan, bahwa bahasa ibunya adalah bahasa yang paling mudah, sebelum mempelajari bahasa lainnya.

Tuntutan pekerjaan, sering memaksa seseorang untuk mempelajari bahasa tertentu, terutama jika lowongan pekerjaan dipersyaratkan demikian. Tuntutan untuk mencapai kesuksesan di suatu tempat kerja, sering memaksa seseorang untuk belajar suatu bahasa, contohnya : Seseorang yang akan bertugas di Prancis atau di Cina, maka dia harus belajara bahasa Prancis atau bahasa Mandarin.

Tuntutan akan kebutuhan ilmu pengetahuan dan budaya, akan menambah jumlah orang yang belajar suatu bahasa, sehingga bahasa tersebut semakin menyebar. Contohnya: siapapun yang ingin belajar dan mengetahui budaya Jawa, maka dia akan belajar bahasa Jawa lalu datang ke pulau Jawa (ke tempat asalnya) . Mungkin budaya jawa masih menarik perhatian sebagian orang belanda sehingga sampai sekarang masih berkembang bahasa jawa di Belanda.(bahasa jawa yang halus, atau kromo inggil)

Pergaulan internasional dalam interaksi perdagangan, lebih cepat menyebarkan suatu bahasa, contohnya penutur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di Jedah, Mekah dan Madinah semakin bertambah, di pasar-pasar pada setiap musim haji di sana. Penuturnya bukan hanya dari bangsa arab tapi juga dari bangsa-bangsa lain yang berada di sana.

Kesimpulan

1.     Penggunaan istilah-istilah keilmuan, atau suatu terminologi haruslah tepat, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Hal ini  sering membingungkan orang awam, yang tidak bermaksud untuk mendalami “pengetian yang tinggi” tentang suatu masalah dari suatu disiplin ilmu pengetahuan.

2.    Masyarakat umum lebih mementingkan bahasa yang sifatnya praktis dari pada bahasa standar, karena tingkat kemampuan berbahasa seharusnya tidak menghambat dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Walau tingkat kemampuan berbahasa yang rendah sering ditandai dengan kesalahan baik dalam pelafalan/pengucapan atau penulisan. 

3.    Setiap orang dari penutur asli bahasa apa saja akan merasa bergembira jika bahasanya dipergunakan oleh orang lain/asing, serta akan memberikan pujian dan penghargaan yang tinggi, jika bahasanya diucapkan dan atau ditulis dengan benar.


September 2017
S S R K J S M
« Jan    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Arsip

Makna Lagu Kebangsaan

PEMERINTAHAN YANG BERDAULAT MENURUT PANC

Meninjau Dampak Pendidikan Secara Umum

Pernikahan seorang Kiai

Mengenang Penjajahan di Indonesia

HUKUM PUASA : WAJIB DAN TIDAK WAJIB

NEGARA KERAJAAN ATAU REPUBLIK : SUATU PE

Dampak Penetrasi Budaya

Romantika Kumbang Jalang

Nasionalisme Bebas atau Sempit

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Miskomunikasi Salah Satu Sumber Bencana

RUMUS PERKALIAN DALAM PEMBUKTIAN SOSIAL

Cinta Palsu atau Dusta ?

MENDAMBAKAN KEABADIAN DALAM KEHIDUPAN

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Waspadalah dengan Keindahan

SOSIALISASI PEMILU 2009

Apa Urgensinya Golput (Golongan Putih) ?

Awal Halal bi Halal

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 1)

CINTA MANUSIA KEPADA TUHAN (bagian 2)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Pertama)

Pertarungan Tiada Akhir (Bagian Kedua)

Semacam Samsat : Saran untuk Pelayanan Umum

Melalui Tangan, bukan Hati atau Pikiran

Selamat Idul Fitri 1429

DOA PERINGATAN HARI KEMERDEKAAN KE-65 TA

Sekali, maka Selamanya …

Tragedi Wafatnya Ketua DPRD SUMUT

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430

Haruskah………….. semakin banyak?

Sepuluh November : Sebuah Kenangan

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Bagaimana kalau … asal ?

Pemilu : Pilih Siapa ? Apa Kriterianya?

MENTALITAS KERJA RAYAP

Ramadlan dan Persatuan

SAFARI RAMADLAN, TAKBIR DAN RALLY LIAR

صوت الأعزب العجوز

جدة رنين

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –

العربية و الإندونيسية لكم : الرقم ۱ - •

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات -٢

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

(۱)العربية و الإندونيسية لكم : المفردات

(العربية و الإندونيسية لكم : المفردات –۱

العربية و الإندونيسية لكم : المفردات - ٣

العربية والإندونيسية لكم : النحو-١

العربية و الإندونيسية لكم : النحو - ٢

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 203,913 orang