Posted by: sulaiman on: Oktober 29, 2009
Setiap orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, walaupun dengan bersusah payah, dengan “banting tulang, jungkir balik, peras keringat”, bahkan apapun dikerjakannya. Sedangkan tuntutan kebutuhan hidup semakin hari, cenderung semakin meningkat. Sepatutnya setiap orang memperhatikan permasalahan semua ini secara seksama. Berikut ini akan dibahas : a) Mengenal Jenis Pekerjaan, b) Mengenal Kemampuan Diri, dan c) Berpindah Pekerjaan.
A. MENGENAL JENIS PEKERJAAN
Semua jenis pekerjaan pada semua bidang usaha, dapat dibagi dalam tiga jenis, yaitu :
1. Pekerjaan Kasar. Jenis pekerjaan kasar adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga jasmaniah, dan terlihat dengan banyaknya keringat yang bercucuran saat melakukan pekerjaan tersebut, seperti : tukang pacul, tukang pikul, tukang gali sumur, kuli bangunan, pemain sepak bola dan lain-lain.
2. Pekerjaan Halus. Jenis pekerjaan halus adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga mental, pikiran, dan terlihat sedikit keringat yang keluar saat bekerja, seperti : penyanyi, bintang film, guru, pengacara dan lain-lain.
3. Pekerjaan Campuran. Jenis pekerjaan yang merupakan campuran antara pekerjaan kasar dan pekerjaan halus, seperti : pedangang asongan dan lain-lain
B. MENGENAL KEMAMPUAN DIRI
Setelah mengenal jenis pekerjaan, maka sebaiknya setiap orang mengenal kemampuan dirinya dan mengenal batas kemampuannya. Walaupun ada orang yang merasa mampu untuk melakukan semua jenis pekerjaan, tapi sebenarnya setiap orang berbeda. Ada yang lebih mampu dalam melakukan pekerjaan kasar, dan ada yang lebih mampu dalam melakukan pekerjaan halus.
Siapapun hendaklah bekerja dalam batas kemampuannya, jika seseorang memaksakan diri dalam melakukan pekerjaan yang di luar batas kemampuannya (apalagi dalam waktu lama) akan berakibat sakit-sakitan. Mulai dari gejala penyakit yang ringan seperti pegal-pegal atau flu, sampai terserang penyakit yang berat, seperti penyakit kuning, penyakit vertigo, penyakit struk dan lain-lain.
Jadi, penting sekali untuk menjaga keseimbangan dalam tiga hal : beban kerja -– kondisi/stamina diri – cukup istirahat/refresing. Karena kondisi fisik dan mental setiap orang berbeda, maka sebenarnya moment setiap orang dalam menjaga keseimbangan tersebut berbeda. Pihak perusahaan/kantor memberikan waktu istirahat adalah sesuai dengan standar umum, dan kesempatan waktu istirahat ini sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan pekerja/karyawan yang selalu menjaga keseimbangan tersebut, umumnya lebih sehat. (hanya pada pekerja/karyawan yang benar-benar sehat, prestasi dan produktifitas kerjanya stabil)
Ada sebagian orang yang merasa kesulitan dalam mengenali kemampuan dirinya, padahal dari pengalaman “jatuh bangunnya” dalam pelaksanaan pekerjaan, akan tahu sendiri batas kemampuannya. Jadi pengalaman adalah guru terbaik. Jika ada orang yang tidak punya pengalaman “pahit getirnya” kerja, dan tidak pernah mau bersusah payah untuk bekerja keras, maka kemungkinan dia kurang mengenal benar batas kemampuan dirinya.
Jika seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, maka dia akan dapat bekerja dengan semua energinya dan tingkat produktifitas kerjanya relatif lebih tinggi dari standar umum. Maka pekerja/karyawan yang “baik dan berbobot” ini akan enak makan dan enak tidur, disamping akan memperoleh penghasilan yang lebih dari yang pekerja/karyawan lainnya.
Jika seseorang mendapatkan pekerjaan yang kurang/tidak sesuai dengan kemampuannya, maka dia bekerja kurang maksimal, dan tingkat produktifitasnya relatif di bawah standar umum. Maka pekerja/karyawan ini hanya sebagai “pemeran pengganti” untuk sementara berjalannya roda perusahaan.
C. BERPINDAH PEKERJAAN.
Dalam permasalahan berpindah pekerjaan, terdapat dua hal : 1) Pelaksanaan Pekerjaan, dan 2) Tantangan Pekerjaan.
1. Pelaksanaan Pekerjaan. Setiap orang dalam pelaksanaan pekerjaannya, terbagi dua :
a. Tetap pada satu pekerjaan. Sebagian orang yang tetap melakukan satu pekerjaan dalam waktu yang lama (dari muda sampai tua pekerjaannya tetap) dengan berbagai alasan, antara lain :
1) Karena pekerjaan yang sedang ditekuni sesuai dengan hati nuraninya, sesuai dengan panggilan jiwanya, dan mendatangkan ketenagan batin baginya. Umumnya mereka tidak lagi mementingkan penghasilan yang berupa material. (tetapi, jika penghasilannya jauh di bawah minimum, maka isterinya yang stress karena kesulitan mengatur ekonomi keluarga)
2) Karena penghasilannya besar atau gajinya besar atau tambahan lainnya besar, baik berupa bonus, tips, imbalan jasa dan lain-lain (umumnya, kehidupannya lebih sejahtera)
3) Karena prospeknya sangat bagus, hari depannya cerah, jenjang karirnya akan meningkat, dan kesempatan untuk maju sangat besar, walaupun penghasilannya saat ini relatif kecil. (hanya perusahaan yang bonafid, yang memperhatikan nasib dan jenjang karir para pekerja/karyawannya)
4) Karena tidak ada lagi lowongan pekerjaan lainnya atau tidak memiliki keterampilan/keahlian lain untuk pindah kerja. (jadi, hanya menerima nasib)
b. Berpindah pekerjaan. Sebagian orang berpindah pekerjaan dengan berbagai alasan, antara lain :
1) Karena ingin mencari ketenangan batin, yang sesuai dengan hati nuraninya, yang sesuai dengan panggilan jiwanya. Walaupun penghasilan semula penghasilannya lebih besar, akhirnya tetap ditinggalkannya.
2) Karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar atau gaji yang lebih banyak, atau tambahan lain yang lebih besar.
3) Karena ingin memperolah pekerjaan yang lebih cocok dengan kemampuannya, dengan jenjang karirnya meningkat, dan lebih banyak kesempatan untuk maju.
4) Karena menunggu order dan pekerjaannya sistim borongan, jika tidak ada order maka menganggur. (jadi hanya mengisi waktu dari pada menganggur)
5) Karena terpaksa, di PHK, karena perusahaannya bangkrut atau terjadi pengurangan pengawai, atau sistim kontrak yang tidak mungkin diperpanjang lagi.
2. Tantangan Pekerjaan.
Berpindah pekerjaan dengan memperoleh pekerjaan baru, ditinjau dari tantangan yang dihadapi terbagi dua :
a. Sedikit Tantangan. Jika keterampilan/keahlian yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan baru sama dengan pekerjaan yang lama, maka relatif akan sedikit menghadapi tantangan, yakni perusahaan baru, lokasi baru, suasana baru dengan menemukan orang-orang dalam lingkungan pekerjaan yang baru.
b. Banyak Tantangan. Jika keterampilan/keahlian yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan baru berbeda dengan pekerjaan yang lama atau diperlukan keterampilan/keahlian yang lain, maka akan banyak menghadapi tantangan. Disamping penyesuaian diri dalam suasana baru dengan menemukan orang-orang baru, juga dibutuhkah sikap, pola pikir dan kebiasaan baru dan merubah kebiasaan sehari-hari yang sudah terbentuk sekian lama, dalam praktiknya tidaklah semudah yang dibayangkan.
Untuk menghadapi semua tantangan tersebut, diperlukan persiapan dari jauh-jauh hari, sehingga penyesuaian diri dapat lebih mendekati sempurna. Jika penyesuaian diri yang “kurang diterima” oleh para pegawai/karyawan lama di lingkungan baru tersebut, dapat berakibat kegagalan di kemudian hari.
Sikap penolakan atas kedatangan pekerja/pegawai baru dari mereka (para pegawai/karyawan yang lama) biasanya berdasarkan anggapan : a) akan mengurangi/merebut rezeki mereka, b) akan menjarah/menguasai wilayah dan bidang usaha mereka, c) akan menghambat karir jabatan mereka, d) ada kemungkinan pimpinan perusahaan/kantor akan menjadikan pekerja/pegawai baru sebagai “anak emas” dan mereka dijadikan “anak tiri”. — Jelaslah bahwa sikap penolakan ini tidak rasional, tidak masuk akal dan tidak proporsional. Karena semua anggapan tersebut belum terbukti dan belum tentu benar. Dan mengapa pula harus iri dan dengki kepada pekerja/pegawai yang karirnya meningkat, jika memang terbukti dia lebih berpotensi, lebih berprestasi, lebih berproduksi, dan lebih pantas untuk mendapatkan semua itu? (Kalau memang dia berpotensi untuk memajukan perusahaan dan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, mengapa harus dijegal dan mengapa tidak didukung?)
Kesimpulan dan saran.
1. Pihak Pekerja/karyawan ingin bekerja dengan sebaik-baiknya dan terdapat peningkatan baik moril maupun materiil, sedangkan pihak perusahaan/kantor ingin ada kemajuan dalam bidang usahanya, maka upaya kedua pihak haruslah berjalan seiring, selaras dan sama-sama maju.
2. Jika semua pegawai/karyawan yang “baik dan berbobot” pada semua bagian, maka perusahaan akan mudah melebihi target dan maju dengan pesat. Mereka adalah “modal kemajuan” perusahaan yang harus diperhatikan kesejahteraannya baik moril maupun materil, karena jika sempat “dibajak” oleh perusahaan lain, maka perusahaan akan menderita kerugian immaterial yang berharga.
3. Ternyata dalam upaya memajukan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha apapun sebagai satu kesatuan usaha/kesatuan sistem, terdapat dua kegiatan yang harus diperhatikan :
a. Kegiatan mencari, menemukan dan memanfaatkan berbagai “kelebihan dan potensi keterampilan” dari setiap pekerja/pegawai dengan berorientasi dan berfokus pada satu kesatuan yang utuh dari semua bagian ada di perusahaan. (Gestalt sentrum)
b. Kegiatan mencari, menemukan dan memanfaatkan berbagai “kelemahan dan kekurangan” dari setiap pekerja/pegawai dengan berorientasi dan berfokus pada satu sub atau unit terkecil dari satu bagian yang ada di perusahaan (Ego sentrum).
Hendaklah semua orang yang terlibat dalam kegiatan perusahaan/kantor, berusaha agar kedua kegiatan ini (Gestalt sentrum dan Ego sentrum) tidak terjadi bertentangan/ paradok yang akan menghambat akselerasi kemajuan bidang usaha. (atau bahkan mungkin dapat mengakibatkan perusahaan menjadi bangkrut)
Hendaklah semua orang yang terlibat dalam kegiatan perusahaan/kantor, berusaha agar kedua kegiatan tersebut (Gestalt sentrum dan Ego sentrum), menjadi selaras dan serasi, saling mendukung, saling menutupi, saling memperkuat, karena “tim kerja yang kompak dan solid secara utuh” adalah modal dasar untuk meningkatkan kinerja, serta meningkatkan produktifitas bagi kemajuan bersama dan kesejahteraan bersama.
Posted by: sulaiman on: September 13, 2009

Wahai Tuhanku Yang Maha Penyayang ….. Betapa besar harapanku padaMu …… walau aku telah berdoa dan sedikit berusaha, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, maka aku mohon tunjukilah aku …..
Aku berdoa kepadaMu memohon ampunan bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka tidak Engkau ampuni, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Aku berdoa kepadaMu memohon kebahagiaan dunia akhirat bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga kehidupan mereka kurang berbahagia, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Aku berdoa padaMu memohon hidayah, taufik dan barokah bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga dalam kehidupan mereka mereka tidak mendapatkan hidayah, tidak ada taufik dan tidak ada kebarokahan, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Dengan keterbatasan waktu, sehingga aku sering melupakanMu, sedikit beribadah, sedikit berbuat baik kepada orang-orang yang aku cintai dan sayangi dan kepada orang-orang yang sepatutnya aku berbuat baik, maka ampunilah aku tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Tuhanku …Aku telah sedikit berusaha mengajak berbuat kebaikan dan pahala kepada orang-orang yang aku cintai dan sayangi dan agar jauh dari murkaMu, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka Engkau timpakan cobaan, musibah, bencana alam, berbagai penyakit, dan sebagainya, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Tuhanku ….. Aku telah sedikit berusaha mengajak pembaca untuk bekerja keras menciptakan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga kehidupan rakyat dan masyarakat kurang sejahtera, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Tuhanku ….. Aku telah sedikit berusaha mengajak pembaca untuk mngatakan “anti teroris”, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka tidak mendengarnya atau takut untuk mengatakannya, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!
Tuhanku ….. Jauhkanlah aku dan para pembaca dari ajaran-ajaran sesat dan paham-paham keliru, aku memohon ketetapan yang baik dariMu, maka tunjukilah aku dan para pembaca, wahai Maha Penyayang.!
Amin.
Posted by: sulaiman on: Agustus 24, 2009
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, meresmikan program rintisan pembelajaran berbasis teknologi informatika dan komunikasi (TIK) di tiga SMP Terbuka Perintis
Ketiga SMP Terbuka Perintis berbasis TIK yang diresmikan Mendiknas tersebut adalah SMP Terbuka 55 Tanjung Priuk Jakarta, SMP Terbuka 1 Malang, dan SMP Terbuka Kadanghaur Indramayu
Peresmian pencanangan Program Pembelajaran Berbasik TIK pada SMP Terbuka, di Gedung A, Plaza Depdiknas, Kamis (20/8). 1)
Ini adalah suatu langkah maju yang mulai dirintis oleh pemerintah, akan tetapi untuk mencapai ”Kemandirian yang akan mengantarkan siswa siswi pada daya saing, inovasi, meningkatkan kreativitas” masih perlu diikuti oleh langkah-langkah berikut :
1. Tutorial lengkap sesuai dengan kebutuhan siswa
Dalam upaya menjadikan peserta didik subyek pembelajaran bukan obyek pengajar, pada usia smp harus dipertimbangkan masak-masak, bahwa mereka “sangat mudah meniru” dan “sangat mudah ikut-ikutan”. Contohnya : Dalam kasus Tawuran mereka tetap ikut-ikutan, walaupun sudah banyak yang meninggal dunia, tapi tetap terjadi, potensi untuk terjadinya tawuran terdapat pada setiap sekolah, dimana-mana.
Dalam pencarian di alam maya, mereka bisa kesasar kemana-mana, atau malah membuka situs-situs yang tidak mendidik, kemungkinan besar mereka meniru dan ikut-ikutan, oleh karena itu sangat diperlukan adanya tutorial yang lengkap, arahan yang pasti, dan instruksi yang jelas, harus bagaimana, dan harus mengerjakan apa, agar mereka tidak kesasar dan kebutuhan meningkatkan pengetahuan dan berbagai keterampilan dapat terpenuhi.
Perhitungan antara beban pelajaran pada kurikulum, waktu mereka belajar dan dampak negatif dari informasi komunikasi harus dipertimbangkan, monitoring pihak guru atas setiap hasil pekerjaan setiap anak harus diperiksa dengan ketat, tentu mereka harus berfikir orisinil bukan copy-paste, bukan plagiat, agar tujuan pendidikan tercapai dengan terarah, efektif dan efisien sehingga menjadi pribadi yang mandiri, berinovasi, berdaya saing dan berkreatifitas.
2. Tersedianya “perpustakaan alam maya” (E-library) terpusat, yang dapat diakses setiap saat
Dalam setiap pelajaran diperlukan adanya referensi dan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pendidikan, yang dapat diakses setiap saat, dan semua ini tentu sangat membantu peserta didik, sehingga dapat belajar lebih mandiri.
Manfaat dari E-library terpusat, antara lain :
a. Mereka tidak usah membeli buku,yang setiap tahun selalu berubah. Dan hal ini tentu merupakan penghematan biaya pendidikan.
b. Mereka tidak perlu memimjam buku ke perpustakaan setiap dibutuhkan, tapi cukup mengakses di internet, hal ini tentu menghemat waktu dan tidak ada resiko keterlambatan mengembalikan buku yang dipinjam.
c. Semua hasil karya siswa, berupa hasil penelitian, penemuan dan lain-lain, dapat dijadikan bahan untuk memperkaya E-library dan dengan adanya E-library terpusat, maka akan mudah memonitor jika adanya plagiat, atau adanya upaya copy-paste.
3. Kegiatan selingan (ekstra kurikuler) sekaligus sosialisasi.
Menjadikan peserta didik sebagai subyek pembelajaran adalah memperlakukan mereka sebagai manusia, yang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan, serta memiliki intelek dan berbagai emosi. Kalau mereka selalu bekutat di depan komputer, tentu mereka akan mengalami kebosanan dan kejenuhan, maka diperlukan adanya kegiatan selingan, berupa kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti, yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, antara lain meliputi :
a. Adanya kerjasama dengan media televisi, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan menonton televisi dari suatu stasiun televisi, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.
b. Adanya kerjasama dengan media radio, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan mendengarkan radio dari suatu stasiun radio, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.
c. Adanya kerjasama dengan bioskop, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk menonton di suatu bioskop, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.
d. Adanya kerjasama dengan suatu kelompok masyarakat, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk ikut melaksanakan praktek kerja lapangan, dan berbaur dengan masyarakat, untuk menanamkan jiwa sosial dan melatih kemampun bersosialisasi pada tiap individu, sebab umumnya mereka yang berkutet dengan di depan komputer kurang bersosialisasi.
e. Adanya kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, seperti museum, tempat-tempat napak tilas, atau meninjau peninggalan-peninggalan perjuangan, untuk menanamkan jiwa kebangsaan, dan rasa nasionalisme, tentu didampingi oleh guru pendamping yang mampu menjelaskan semuanya secara lengkap. Kegiatan kunjungan ini tentu harus didukung oleh semua pihak, sehingga biayanya lebih murah khusus untuk mereka, dan diawasi dengan ketat oleh semua pihak, agar jangan sampai ada yang nebeng atau numpang pelesiran. (jangan sampai mereka pandai dan trampil tapi jiwa kebangsaannya rendah, dan nasionalismenya rendah)
Semua kegiatan selingan ini adalah sekaligus merupakan kegiatan sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat umum, apalagi bila selalu dipublikasikan, sehingga masyarakat bisa mengikuti perkembangan program ini, yang lebih penting adalah masyarakat lebih mengetahui, lebih mengenal dan diharapkan akan ikut partisipasi dalam memajukan program SMP Terbuka Berbasis TIK ini.
- - Semoga sukses program ini dan bertambah maju negara kita – -
1) lihat : http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=10699&Itemid=700
Posted by: sulaiman on: Agustus 16, 2009
Seluruh rakyat telah berjuang dengan segenap jiwa raga, darah, tenaga dan pikiran dan harta benda, untuk merebut kemerdekaan ini, maka siapa lagi yang bercita-cita memiliki negara merdeka, kalau bukan seluruh rakyat pernah merasakan dijajah seperti rakyat Indonesia ?
Seluruh orang yang telah merasakan pahit getirnya dijajah, lalu merasakan seperasaan, senasib, dan sepenanggungan, maka wajarkah mereka mengadakan pertemuan seperti Konferensi Asia Afrika tanggal 19 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia? Tapi sekarang mengapa cita-cita Konferensi Asia Afrika, terasa padam dan tidak terekspresikan lagi?
Seluruh rakyat Indonesia telah berjuang dari nol besar, dari modal dengkul, dari senjata bambu runcing, dan yang lain dengan seadanya, wajarkah kegembiraan rakyat yang meluap-luap? Bagaimana mungkin rakyat Indonesia yang miskin hanya bersenjata bambu runcing saat itu dapat menang melawan penjajahan? Maka siapa lagi yang berhak untuk bergembira dan bersuka-ria pada hari kemerdekaan ini, kalau bukan seluruh rakyat Indonesia?
Semua pesta kemerdekaan dan berbagai perlombaan yang diselenggarakan oleh seluruh rakyat di seluruh pelosok negeri ini, adalah ungkapan kegembiraan karena telah merdeka, yang juga berisi semangat untuk mengisi kemerdekaan ini menurut seluruh rakyat. Apakah peringatan HUT RI hanya cukup dengan mengadakan upacara tujuhbelasan di depan Istana Presiden?
Sungguh, siapa lagi yang merindukan “masa depan Indonesia yang cerah” kalau bukan seluruh rakyat Indonesia? Tapi mengapa pada hari ini, “potret masa depan Indonesia” terlihat suram dan carut-marut ?
Setelah seluruh rakyat bersatu dalam negara Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, mengapa muncul perpecahan? Mengapa muncul kelompok-kelompok yang ingin memisahkan diri dan ingin mendirikan negara masing-masing menurut versi kelompoknya? Mengapa muncul “Cita-cita Indonesia Serikat” yang tidak sesuai dengan cita-cita rakyat banyak yakni “Cita-cita Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia”. Anehnya, mengapa semuanya muncul bukan sebelum tahun 1945?
Warna buram potret masa depan Indonesia ditandai dengan adanya krisis multi dimensional yang berkepanjangan. Maka gambaran skenario terburuknya adalah Indonesia mengalami kemunduran dalam segala bidang, dan upaya mengisi kemerdekaan dimulai dari nol besar, dari modal dengkul, atau bahkan dari jaman batu.
Warna carut-marut potret masa depan Indonesia ditandai dengan adanya kelompok teroris yang selalu harus darah, yang katanya selalu ingin membunuh kelompok lain yang tidak sesuai dengan versi kelompok mereka, dengan berbagai sasaran untuk menteror dan menakut-nakuti siapa saja, serta dengan metode yang selalu berkembang, sampai metode bom bunuh diri.
Jangan mengharapkan adanya perubahan keadaan Indonesia dalam waktu singkat, siapapun presidennya tidak akan mampu merubah keadaan dalam waktu sehari, kiranya potret masa depan tidak akan berubah, kalau semua pejabat, seluruh aparatur pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia tidak bekerjasama dan bersatu untuk mengatasi permasalahan :
- Memudarnya cita-cita kemerdekaan, yang berisi cita-cita persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia. Contohnya : Bila otonomi daerah dimanfaatkan bukan untuk kepentingan nasional dengan mengangkat pejabat dari daerahnya saja dan memutasikan pejabat yang bukan dari daerahnya. Bila tidak dilaksanakannya pola-pola persatuan bangsa dengan terdapatnya partai lokal yang hanya mementingkan kepentingan lokal/daerahnya saja, dan lain-lain (semuanya berarti telah menyalahi cita-cita ini)
- Memudarnya semangat kebangsaan, rasa nasionalisme, dan ada kecenderungan berkembang ke arah minus, atau berkembangnya rasa nasionalisme sempit. (bukankah anggota teroris yang mengaku warga negara Indonesia rasa nasionalismenya sangat sempit?)
- Berkembangnya kelompok teroris yang bersifat tertutup di masyarakat, sehingga masyarakat sendiri tidak mengetahuinya secara pasti perkembagan mereka. (jika mereka mengaku dari suatu agama, mereka bukanlah penganut dan pengamal agama yang taat, dan karena pemahaman agama yang salah, mereka telah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin)
- Berkembangnya budaya yang bersifat destruktif yang ditandai oleh :
(1) Adanya kecenderungan rasa malas untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan nasional, berdampak terhadap rendahnya pelayanan kepada masyarakat dalam semua bidang. (tapi bersemangat untuk kepentingan pribadi)
(2) Adanya kecenderungan “miskin ide” dan “miskin kreatifitas” yang berskala nasional, tapi “kaya ide dan kaya kreatifitas” yang berskala pribadi, berskala daerah, berskala golongan, dan berskala kelompok; bahkan orang-orang yang mempunyai ide yang berskala nasional, dimusuhi, diolok-olok, dijelekkan nama baiknya atau dicari-cari kesalahannya. (mungkin penulis termasuk yang miskin ide)
(3) Adanya kecenderungan untuk “ikut merasakan” kemajuan usaha ekonomi, contohnya : Bila koperasi di suatu daerah mengalami kemajuan dengan keuntungan besar (apalagi bila keuntungannya mencapai milyaran atau triliyunan) maka semua pejabat berdatangan dan rajin memberikan banyak ide dan saran, tapi akhirnya meminta “uang bensin” untuk pulang. Tetapi bila koperasi di suatu daerah tidak berkembang, tidak ada saran apapun dari siapapun untuk memajukannya.
(4) Adanya kecenderungan untuk “membisniskan” semua kepentingan masyarakat, dan “mengindustrikan” semua kepentingan masyarakat, yang akhirnya akan menjadi berkurangnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, karena manusia telah dianggap seperti mesin, atau seperti kelinci percobaan untuk kepentingan bisnis.
Penutup. Mengapa ada orang-orang yang pesimis tentang masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kalau seluruh pejabat dan seluruh aparatur negara bersatu dan bekerjasama dengan seluruh rakyat mengatasi semua itu, kiranya tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi. – Tidak ada yang tidak mungkin. -
Posted by: sulaiman on: Agustus 9, 2009
Kita sering kagum akan hasil pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal, baik klasikal maupun individual, baik secara kurikuler maupun autodidak, banyak muncul nama-nama besar, mereka berhasil dalam pengabdian di bidang ilmunya, juga menjadi orang yang berjasa bagi negara kita, antara lain : K.H. Agus Salim, Jenderal Sudirman, Ir. Soekarno, Prof DR. Hamka, Prof DR. Habibi, dan lain-lain.
Setiap orang ingin mempunyai anak, adik, saudara, yang sepandai dan sehebat beliau-beliau, tentu pendidikannya tidak cukup satu hari, perlu waktu yang cukup lama, maka pendidikan adalah investasi jangka panjang yang cukup mahal. Pada negara miskin yang income perkapitanya rendah, rakyat tidak akan mampu membiayai pendidikan anak-anak mereka. Pihak pemerintah harus berusaha keras untuk memajukan pendidikan, sebab tanpa pendidikan yang memadai, negara ini tidak akan menjadi negara yang maju. Masalah lain, mutu pendidikan tidak hanya menjadi isu dalam wacana internasional, tapi juga telah menjadi lahan bisnis, sehingga kelompok orang kaya berlomba menyekolahkan anaknya ke luar negeri yang mutunya dianggap lebih tinggi dari dalam negeri.
Pembahasan berikut ini, hanya mengenai pendidikan secara umum ditinjau dari kepentingan masyarakat, yang meliputi : 1) Pendidikan formal dan informal; 2) Lingkungan pendidikan; 3) Keteladanan dan 4) Pengaruh pendidikan masa kecil; serta dampaknya, baik positif maupun negatif, sebagai berikut :
I. PENDIDIKAN FORMAL DAN INFORMAL
A. Dampak positifnya:
1. Dampak positif bagi alumni : Dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil serta menjadi lulusan siap kerja dan siap berprestasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
2. Dampak positif bagi masyarakat : Kepandaian dan keterampilan para alumni yang bekerja keras mengamalkan ilmunya, ditambah dengan hasil penelitian dan penemuan-penemuan ilmiah, mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat, masyarakat merasa diuntungkan olehnya, dan masyarakat membanggakannya dengan rasa senang.
B. Dampak negatifnya :
1. Dampak negatif bagi alumni : Alumni yang mendapat pekerjaan dan karir, yang karena keberhasilannya, dapat mencapai jabatan yang lebih tinggi dari gurunya, berakibat tidak lagi menghargai/ menghormati gurunya, atau bahkan menjadi bersikap sombong, angkuh dan menganggap remeh semua orang disekitarnya. (mudah-mudahan tidak semua alumni demikian)
2. Dampak negatif bagi masyarakat : Masyarakat memberikan praduga berlebihan pada kemampuan alumni, umpama alumni hanya belajar A, B, C. baru sampai C tapi masyarakat menduga kemampuannya sudah sampai Z. sehingga alumni tersebut dibebankan dengan berbagai persoalan, beban kerja, yang di luar batas kemampuannya. Akhirnya, alumni tersebut frustasi dan stress dan masyarakat kecewa dengan prestasinya yang rendah atau di bawah standar.(Munculnya praduga masyarakat tersebut bisa disebabkan karena masyarakat tidak tahu atau karena tuntutan kebutuhan sesaat).
II. LINGKUNGAN PENDIDIKAN
Lingkungan pendidikan demikian luas, meliputi : rumah tangga, pergaulan antar teman, hubungan dengan masyarakat, dan lainnya. Dengan kemajuan teknologi informasi, maka pihak orang tua dan guru tidak dapat lagi membatasi lingkungan pendidikan yang semakin luas dan semakin mendunia. Akhirnya perkembangan anak didik menajdi semakin sulit diprediksi, baik oleh gurunya maupun orang tuanya.
Lingkungan pendidikan banyak berpengaruh terhadap prestasi belajar anak didik, dan akhirnya pihak guru dan orang tua/wali menjadi “kurang mengenalnya lagi” atau merasa “ada sesuatu yang berubah”, terutama pada siswa yang memiliki “kepribadian tertutup” .
A. Dampak positifnya:
1. Dampak positif bagi siswa : Seorang siswa akan mengalami kemajuan yang pesat dalam hasil belajarnya, jika semua lingkungan pendidikan saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : Kesibukan belajarnya di sekolah diikuti dengan berpartisipasi dalam kelompok ilmiah remaja, di luar sekolahnya, dan didorong dengan motivasi dan fasilitas dari keluarganya, sehingga siswa dapat mengaplikasikan semua pengetahuannya secara nyata.
2. Dampak positif bagi masyarakat : Dengan banyaknya kelompok ilmiah remaja, dan kelompok lainnya yang melaksanakan kegiatan yang bersifat positif dan konstruktif, maka diprediksi angka kenakalan remaja akan menurun, bukan saja masyarakat akan lebih tenang, tapi juga akan muncul calon tokoh masyarakat di masa depan dari remaja-remaja yang berprestasi.
B. Dampak negatifnya :
1. Dampak negatif bagi siswa : Seorang siswa akan mengalami kesulitan belajar, jika semua lingkungannya tidak saling mendukung satu sama lainnya, umpamanya : keluarganya pecah/broken home dan urakan, lingkungan pergaulannya rusak dengan narkoba dan dekadensi moral, dan pelajarannya dianggap kurang sesuai dengan tuntutan suasana kerja, dan lain-lain. Jika pihak orang tua mengharapkan segalanya dari pendidikan formal/sekolah adalah harapan yang kurang tepat, dan kemungkinan akan mengalami kekecewaan, karena semua lingkungan pendidikan yang tidak saling mendukung, akan menghambat hasil belajar yang maksimal dari setiap anak didik.
2. Dampak negatif bagi masyarakat : Masa remaja yang sedang mecari identitas diri, jika salah pergaulan dalam lingkungannya, akan menyusahkan masyarakat. Jika mereka bergaul dengan kelompok pencandu narkoba, mereka akan menjadi pecandu narkoba. Jika bergaul dengan kelompok teroris, mereka akan menjadi teroris, dan lain-lain. Sedangkan mereka belum mampu berfikir kritis, dan belum mampu untuk menolak ajakan/rayuan/jebakan dari kelompok-kelompok tersebut. Tidak adanya kepedulian serta sikap tidak mau tahu, dan acuh dari anggota masyarakat, terhadap kegiatan kelompok remaja, akan memperburuk situasi. Sikap menyalahkan remaja juga bukan sikap yang bijaksana, tetapi akhirnya tetap saja masyarakat sendiri yang akan menanggung resiko yang mahal.
III. KETELADANAN (PANUTAN)
Keteladanan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan dari pendidikan, walaupun keteladanan juga merupakan bagian dari kepemimpinan. Setiap pemimpin apapun haruslah menyadari bahwa dirinya telah jadi teladan. Seorang bapak dan seorang ibu dalam rumah tangga keduanya menjadi teladan bagi anak-anak dan keluarga mereka. Rumah tangga adalah pendidikan awal bagi anak-anak, setelah itu di usia sekolah maka keteladanan guru menjadi lebih besar pengaruhnya, lalu di masyarakat mereka melihat keteladanan para tokoh, para pemimpin, para pembesar dan demikian seterusnya.
A. Dampak positifnya:
1. Dampak positif bagi alumni : Teladan yang baik dalam tingkah laku sehari-hari dari kedua orangtua, para guru, para tokoh, para pemimpin, membuat para alumni merasa pasti dan yakin akan masa depannya, dan tidak ragu untuk mengambil keputusan yang tepat, karena pelajaran dan teori yang mereka terima ada kesesuaian dengan kenyataannya.
2. Dampak positif bagi masyarakat : Ketika para alumni tersebut berkiprah di masyarakat dan kemungkinan menjadi tokoh yang memberikan keteladanannya yang baik dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari, masyarakat menjadi lebih kompak, lebih bersatu, lebih bekerjasama dalam segala hal, dan akhirnya lebih memiliki daya hidup, daya saing dalam kehidupan global mendatang dan akhirnya menjadi masyarakat lebih maju.
B. Dampak negatifnya :
1. Dampak negatif bagi alumni : Siswa akan mengalami pertentangan batin jika yang dipelajarinya tidak sesuai dengan kenyataan, tidak adanya teladan yang dijadikan panutan akan membuat siswa ragu-ragu untuk berkiprah dalam menghadapi kehidupannya. Umpama : pengembangan ilmu pengetahuan menuntut suasana berdiskusi yang sehat dengan kritis dan rasional, tapi orang tua jaman dulu melarang berdiskusi dalam bentuk apapun dengan tujuan hanya untuk menghindari pertengkaran dan permusuhan. Siswa menjadi serba salah, jika berada dalam situasi ini. Kalau pertentangan batin berlangsung lama dan tidak terselesaikan, maka akan berdampak banyaknya alumni yang kurang mampu untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitarnya ketika menjadi alumni/setelah lulus.
2. Dampak negatif bagi masyarakat : Ketiadaan alumni yang mampu bersosialisasi dalam mengamalkan ilmu dan keterampilannya, membuat masyarakat kehilangan calon tokoh yang baik, menimbulkan krisis kepemimpinan, terutama dalam bidang informal. Kepincangan ini akan berakibat rendahnya daya juang masyarakat, dan daya saing masyarakat dan berkurangnya partisipasi masyarakat dalam program-program pembangunan pemerintah. Akhirnya anggota masyarakat sendiri yang akan menanggung biaya tinggi dalam semua urusannya, karena pengaturan dalam segala hal tanpa social control lagi. (Dalam bidang formal terdapat pendidikan penjenjangan, seperti : Spada, Spama, Spala, Sespa, diklatpim dan lain-lain)
IV. PENGARUH PENDIDIKAN MASA KECIL
Pendidikan masa kecil mengendap di alam bawah sadar, dan mempengaruhi pola tingkah laku seseorang ketika dewasa dalam hidup bermasyarakat. Walaupun banyak yang berdampak positif dalam kehidupan pribadi kita, tapi tdiak tertutup kemungkinan yang berdampak negatif, sebagai salah satu ilustrsi untuk bahan tinjauan, adalah syair lagu “SiKancil” yang sering dinyanyikan oleh anak-anak TK/SD, sebagai berikut : (guru perlu memberikan penjelasan terlebih dahulu, untuk menghindari kemungkinan dampak negatifnya)
1. “Si Kancil anak nakal” = Jika anak-anak beranggapan kancil saja sebagai binatang yang tidak berakal bisa berkelakuan nakal, dan mungkin kenakalan itu dibenarkan. Dampaknya akan banyak calon anak nakal, calon berandalan, calon preman, calon bajingan dan lain-lain. Akibatnya guru sendiri akan sulit mengajar anak usil, nakal yang tidak ada lagi sopan santunnya, yang kurang menunjukkan minat belajar dan seolah-olah tidak punya harapan dan tidak punya hari depan. (padahal nasehat guru lainnya : anak-anak jangan nakal, jadilah anak yang penurut, turuti nasehat gurumu, berbaktilah pada orang tuamu, dan rajin-rajinlah belajar)
2. “Suka mencuri ketimun” = jika anak-anak beranggapan bahwa perbuatan mencuri bisa dijadikan hobi, selingan, kesenangan, atau kesukaan. Dampaknya akan banyak calon maling, calon pencuri, calon koruptor, calon penyerobot semua fasilitas sosial, yang tidak menghargai hak milik orang lain, hak milik Negara, hak milik orang banyak. Akibatnya penjara akan banyak diisi oleh maling, koruptor dan lainnya. (padahal nasehat guru lainnya : mencuri itu dosa, jangan dilakukan dan kalau pinjam apapun kembalikan pada pemiliknya, hargailah milik orang lain)
3. “Ayo lekas dikurung” = jika anak-anak beranggapan bahwa melakukan pengurungan maksudnya adalah penghukuman dengan segera, boleh dilakukan di luar pengadilan. Dampaknya masyarakat akan mudah menghukum, walaupun kesalahannya sangat kecil, akan banyak calon eksekutor pelaksana hukum yang tidak sah. Dan justru akan banyak pelanggaran hukum terhadap orang yang belum tentu bersalah. Akibatnya masyarakat menjadi mudah menyalahkan orang lain, mudah menghukum, mudah menjatuhkan tangan dengan segera, berakibat mudah diadu domba, mudah terjadi tawuran dan sebagainya. (padahal nasehat guru lainnya : jangan menyakiti orang lain, jangan melanggar hukum, jadilah warga Negara yang taat hukum, tegakkan azas praduga tak persalah)
4. “Jangan diberi ampun” = jika anak-anak beranggapan bahwa tidak memberi ampunan kepada yang melakukan bersalah adalah suatu kebenaran. Dampaknya masyarakat menjadi sangat kejam, salah sedikit tidak ada ampun, keliru sedikit tidak ada ampun, mengakibatkan banyaknya fitnah yang belum tentu bersalah juga dihukum. Akibatnya siapapun yang berusaha untuk “bersikap jujur dan terbuka” menjadi tidak ada artinya, sebab niat semula untuk menciptakan saling pengertian dengan bersikap “terus terang”, akan sering dianggap bersalah, dan berakhir dengan salah pengertian dan salah paham. Atau bersikap jujur sering ditanggapi dengan sikap permusuhan. (padahal nasehat gurul lainnya : jadilah orang penyayang, jadilah orang pemaaf, berkawanlah sebanyak mungkin teman dengan siapa saja, dan hilangkanlah buruk sangka)
KESIMPULAN
1. Komunikasi antara siswa-guru-orang tua/wali murid/orang tua, harus selalu terjalin dengan intensif, sebagai upaya antisipasi dini terhadap semua dampak negatif.
2. Faktor waktu memegang peranan penting, perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk suatu pendidikan harus tepat, Jika terlalu waktu singkat, maka dampak negatifnya akan jauh lebih besar dari dampak positifnya (apapun jenjangnya), tetapi jika telalu lama, masyarakat rugi, perusahaan/instansi yang menyeponsorinya juga rugi, karena menanggung biaya yang lebih besar.
3. Setiap remaja dan anak didik haruslah berusaha untuk “bersikap terbuka” dengan mau berterus terang kepada orang tuanya/walinya dan gurunya (yang dipercaya) untuk membicarakan masalah pribadinya dan mendiskusikannya, sehingga ditemukan jalan keluar sebaik-baiknya, bersikap tertutup untuk “masalah-masalah yang berat” adalah kurang tepat. Dengan ditemukannya jalan keluar terbaik, maka semua beban pikiran dan beban mental akan terasa sangat ringan (plong rasanya) dan akan mampu lebih berkonsentrasi kepada pelajaran.
SARAN
1. Kepada pemerintah (Depdiknas) dan pengelola pendidikan, hendaklah selalu berusaha meningkatkan mutu pendidikan dan meneliti kembali penyelenggaraan pola pendidikan yang telah diselenggarakannya, agar terhindar dari dampak negatif.
2. Perlu bersikap hati-hati dan bijaksana dalam bicara dan menulis, karena hukum kejam masyarakat tidak pilih-pilih, memang tidak adil jika karena salah bicara, dengan kesalahan satu kata-dua kata, lalu dihukum berat, tapi terkadang kenyataan demikian adanya. (mungkin saja ada orang yang berusaha mencari kesalahan orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadinya sendiri)
3. Kepada semua anggota masyarakat dan semua pihak, mari kita ciptakan lingkungan pendidikan yang saling mendukung dengan semampu kita, agar anak-cucu kita kehidupannya menjadi lebih baik dimasa depan. – Semoga –
Posted by: sulaiman on: Juli 25, 2009
| ILMU MATEMATIKA
Perkalian Negatif dan Positif hasilnya Positif Contohnya : -A X -B = +AB -2 X -3 = +6 +A X +B = +AB 2 X 3 = 6 (selanjutnya berapa angkanya?) |
ILMU SOSIAL
Pembuktian dalam Ilmu Sosial Patokannya : Faktor Alam sekitar dihadapkan dengan Faktor Tingkah laku manusia Tentukan dulu : Nilai positif dan negatifnya |
Pendahuluan.
Ilmu matematika adalah suatu ilmu yang telah diakui kebenarannya, yang akan kita buktikan dalam kehidupan kita adalah perkaliannya, baik perkalian yang bernilai positif maupun perkalian yang bernilai negatif seperti dalam kotak sebelah kiri di atas.
Kita sering ditentukan oleh alam sekitar kita dalam berupaya mencapai sesuatu; atau kita kadang-kadang mengalami kegagalan dalam mencapai sesuatu, karena dibatasi oleh alam sekitar kita. Maka yang dijadikan bahan perkalian adalah faktor alam, berupa kesuburan, tersedianya sarana dan lain-lain dihadapkan dengan faktor tingkah laku manusia yang berupa motif kepentingan duniawi dan motif kepentingan ukhrowi. (penjelasan tentang kedua motif ini silahkan baca : Pertarungan tiada akhir bagian kedua)
Penentuan Nilai Positif dan Negatif
Baik faktor alam maupun faktor tingkah laku, terlebih dahulu kita tentukan nilai positif dan negatifnya, sebagai berikut :
1. Bernilai Positif
a. Faktor Alam, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika tersedia semua sarana dan lingkungan mendukung untuk pemenuhan kebutuhan hidup, maka bernilai positif.
b. Faktor Tingkah Laku, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika dengan motif kepentingan duniawi, maka bernilai positif.
2. Bernilai Negatif
a. Faktor alam, jika tidak tersedia sarana dan lingkungan yang mendukung pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, maka bernilai negatif.
b. Faktor Tingkah laku, dalam upaya pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari secara nyata, jika dengan motif kepentingan ukrowi, maka bernilai negatif
Sedangkan penentuan berapa besarnya nilai kuantitatif dari setiap faktor tersebut, terserah penilaian pembaca : apakah 2 atau 3 atau 5 dan seterusnya, pembaca bisa memperkirakannya, untuk pembahasan selanjutnya, besaran angkanya tidak ditulis.
Terjadinya Perkalian Negatif
Jika Faktor alam adalah (A). Dengan kondisi dan keadaan alam sekitar yang gersang, kering kerontang, yang hanya terdiri dari pasir dan batu-batu karang cadas yang keras, tanpa ada sumber air, tanpa ada tanaman, sehingga sepintas tidak terlihat adanya harapan untuk hidup disini, maka dapat kita katakan minus (-A),
Jika Faktor tingkah laku adalah (B). Dengan motivasi kepentingan ukhrowi, yakni kepentingan jangka sangat panjang sehingga sulit diukur, dan berorientasi untuk kehidupan yang lebih/sangat kekal, bukan kehidupan nyata sekarang, motivasi ini kurang disenangi menjadi kurang dimengerti, karena hanya dianggap pemborosan, maka dapat kita katakan minus (-B)
Maka terjadilah perkalian minus/negatif sebagai berikut : -A X -B = +AB (besaran angka pada +AB tidak terhitung karena tidak diketahui –A dan –B nya.
Semua ini bertentangan dengan asumsi nalar kita tentang kehidupan ini :
1. Alam akan semakin rusak, karena akan dieksploitasi habis-habisan, sebagai upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya apapun akan dilakukannya, termasuk perusakan lingkungan, dan setelah rusak parah akan ditinggalkan.
2. Manusia tidak akan berkembang, dan akan punah di alam yang demikian keras, kejam, dan sadis, maka tidak ada satu orangpun akan menempati alam yang demikian.
Pembuktian kebenaran ini, adalah kejadian Abraham (Nabi Ibrohim AS.) dengan isterinya Hagar (Siti Hajar) yang menempati suatu daerah yang semula hanyalah gunung berbatu-batu yang berwarna hitam keabu-abuan, yang ada hanya pasir panas tanpa pohon, sumber tanpa sumber air, dan sekarang daerah Mekah.
Kita dapat membuat tinjauan, bahwa faktor alamnya ketika mereka datang pertama kali bernilai minus (-A), dan faktor motivasi mereka berdua adalah minus (-B), maka terjadilah perkalian minus diatas. Dan sekarang kota Mekah menjadi tempat beribadah haji bagi orang islam serta orang yang berkunjung atau transit untuk umroh, maupun yang berasimilasi (perkawinan campuran antar suku, antar ras,antar etnis) di kota Mekah semuanya cenderung selalu meningkat.
Dan mungkin pola perkalian sejenis dapat menjelaskan. mengapa ada orang yang hidup di daerah puncak gunung yang tinggi, di kutub utara atau selatan, atau disuatu pulau terpencil yang gersang, atau di daerah ekstrim lainnya.
Terjadinya Perkalian Positif
Jika Faktor alam (A). mendukung untuk pemenuhan kebutuhan harian, dengan tanah yang subur seperti di Indonesia, kecuali di Indonesia bagian timur yang sedikit kurang subur dibandingkan di daerah barat Indonesia, berarti bernilai positif (+A) dan jika faktor tingkah laku (B), dengan motivasi kepentingan duniawi, dan pelaksanaan investasi yang matang dalam segala bidang, maka berarti bernilai positif (+B) Maka terjadilah perkalian positif : +A X +B = +AB
Contoh perkalian positif ini seharusnya terjadi di Indonesia, mengapa tidak demikian, jawabnya mungkin besaran angka pada (+B)-nya adalah 0,0001. Dan kalau besaran angkanya melebihi 10 saja, didukung alam Indonesia mengandung sumber daya alam yang kaya, ada kemungkinan Indonesia menjadi tempat singgah, berkunjung atau transit untuk rekreasi, maupun untuk berasimilasi (perkawinan campuran antar suku, antar ras,antar etnis) yang (ada kecenderungan) melebihi daerah manapun di dunia ini.
Faktor keindahan alam Indonesia adalah bernilai plus satu (+1) dari pariwisata, kalau benar-benar dikelola, semua daerah pulau menjadi tujuan wisata laut di dunia, jadi tidak hanya Pulau Bali yang sudah terkenal, tetapi kalau tidak dikelola nilainya jadi nol dan kemungkinan bisa minus sebab semuanya bisa berubah jadi daerah “sempit dan kumuh” seperti Tanjung Periuk.
Penutup. Semua perkalian ini mungkin dapat menjelaskan kegagalan dari beberapa orang yang mengikuti Program Proyek Transmigrasi pemerintah Republik Indonesia, walaupun sebagian besar mereka berhasil. (lebih dari 98% mereka berhasil/betah disana dan tidak kembali ke daerah asalnya). Silahkan direnungkan.
Bisakah kita memanfaatkan ini semua untuk kesejahteraan kita bersama.
Posted by: sulaiman on: Juli 12, 2009
3. Pertarungan antara Kepentingan Duniawi dengan Kepentingan Ukhrowi.
Setiap orang, dalam setiap tingkah lakunya, baik disadari atau tidak disadarinya, dipengaruhi oleh suatu motif perbuatan, ada kemungkinan pada perbuatan yang sama, tapi motifnya berbeda. Yang menjadi motif suatu perbuatan adalah berupa suatu kepentingan atau beberapa kepentingan secara berbarengan. Semua kepentingan tersebut dapat kita bagi menjadi dua, yakni kepentingan duniawi dan kepentingan ukhrowi. Terjadinya pertarungan antara dua kepentingan tersebut adalah berupa persaingan untuk terpenuhinya keduanya dalam waktu, detik, tempat, situasi, dan keadaan yang bersamaan. Untuk lebih jelasnya, berikut akan dibahas : (a) Motif tingkah laku manusia, (b) Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi, (c) Akibat dari kurangnya memahami pengertian duniawi dan ukhrowi, (c) Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.
a. Motif tingkah laku manusia.
Menurut teori Abraham H Maslow tentang hierarkhi dari lima tingkat kebutuhan manusia dan teori ERG Clayton Alderfer tentang tiga tingkat kebutuhan manusia, bahwa kebutuhan yang paling rendah adalah pemenuhan kebutuhan fisik. Walaupun kedua teori ini mengandung kebenaran; tetapi tidak dijelaskan bagaimana cara pemenuhannya, dan pada praktiknya apa motif dari suatu perbuatan. Sebenarnya suatu kepentingan atau beberapa kepentingan yang tidak bisa kita prediksi begitu saja, demikian pula jenjangnya sampai hierarkhi yang mana, dan tidak bisa diprediksi pertumbuhan semua motifnya secara progresiv. Kenyataannya semua kepentingan yang menjadi motif tingkah laku demikian kompleks. Contoh berikut mencoba menjelaskan perbedaan motif dari suatu perbuatan yang sama :
1). Orang yang lapar, harus makan untuk mempertahankan hidupnya, ketika tidak punya uang untuk membeli makanan, dia merebut makanan orang lain dan atau mencuri makanan orang lain. Maka motif perbuatan merebut dan atau mencuri adalah lapar.
2). Ketika semua orang sedang kelaparan dan kehausan, maka pada waktu itu terjadi perubahan nilai, yakni nilai makanan dan minuman menjadi lebih mahal dari emas, dan emas nilainya turun, sehingga banyak orang yang mau menukarkan emasnya dengan makanan dan minuman. Terjadilah perebuatan dan atau pencurian makanan dan minuman, walaupun mereka sudah kenyang, walaupun mereka sudah kaya. Maka motif perbuatan merebut dan mencuri adalah perubahan nilai.
Dari contoh di atas, secara sekilas, kita hanya melihat terjadinya perbuatan yang sama yakni perebutan dan pencurian makanan. Tetapi jika kita teliti apa yang menjadi latar belakang kepentingannya, maka kita baru bisa membedakan motifnya, bahwa kedua contoh perbuatan di atas motifnya berbeda.
b. Batasan kepentingan duniawi dan ukhrowi.
Meneliti dan memperhatikan yang melatarbelangi dan atau menjadi motif setiap tingkah laku, yang berupa berbagai kepentingan, serta untuk dapat mengklasifikasikan semua kepentingan, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, terlebih dahulu kita tentukan batasannya, sebagai berikut :
1). Batasan kepentingan duniawi.
Bahwa orientasi kepentingan duniawi bersifat serba dunia yang nyata dalam kehidupan sehari-hari ini, awalnya pelaksanaannya lebih bertitik berat pada kepentingan dan kebutuhan yang bersifat fisik semata, semua kepentingan duniawi lebih sejalan dengan hawa nafsu dan terkadang bertentangan dengan hati nurani. Perumpamaan upaya untuk kepentingan duniawi seperti investasi untuk kehidupan nyata sehari-hari yang bersifat jangka pendek. Terpenuhinya kepentingan duniawi dapat dilihat secara nyata, seringkali dianggap berhasil dalam hidup ini, dipuji dan disanjung, dielu-elukan dan dipandang terhormat oleh orang banyak.
2). Batasan kepentingan ukhrowi.
Bahwa orientasi dari kepentingan ukhrowi, adalah bersifat persiapan untuk kehidupan yang lebih langgeng, lebih kekal dan lebih abadi di masa mendatang, awalnya pelaksanaannya lebih betitik berat pada pengabdian yang tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Kekal, semua kepentingan ukhrowi lebih sejalan dengan hati nurani dan terkadang bertentangan dengan hawa nafsu. Perumpamaan upaya untuk kepentingan ukhrowi seperti investasi untuk kehidupan kekal yang bersifat jangka (sangat) panjang. Terpenuhinya kepentingan ukhrowi tidak dapat dilihat secara nyata, Seringkali orang yang berhasil dalam kepentingan ukhrowi diabaikan dan tidak diperhatikan, karena tidak secara langsung dapat dilihat oleh orang lain.
Dengan kedua batasan di atas, maka kita dapat membuat perbandingan, dan tinjauan tentang semua tingkah laku kita, yang kemungkinan bisa merupakan refleksi dari kepentingan duniawi atau kepentingan ukhrowi.
c. Akibat dari kurangnya memahami pengertian tentang kepentingan duniawi dan ukhrowi.
Kurangnya pengertian dan pemahaman yang menyeluruh tentang kedua kepentingan duniawi dan ukhrowi, mengakibatkan terjadinya :
1). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan duniawi, berakibat :
a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan duniawi dalam hidupnya, adalah sekuler, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena isinya hanya kepentingan dunia saja, lalu memisahkan agama dari dunia.
- Apakah mereka yang bekerja siang malam mencari makan bertentangan dengan agama?
- Apakah akhirnya mereka meninggalkan ajaran-ajaran agama?
b). Pengaruh dari kepentingan duniawi yang berlebihan, akan bersifat negatif pada kehidupan seseorang sehari-hari. Contoh sederhananya : “orang yang materilistis” akan cenderung hidupnya menjadi egoistis dan mengabaikan nilai-nilai luhur lainya, walaupun hal ini tidak terjadi pada semua orang, Akan tetapi pengabaikan terhadap hak kepemilikan dan pripacy seseorang akan membuat kehidupan secara umum menjadi kacau balau.
2). Kekeliruan pengertian tentang kepentingan ukhrowi, berakibat :
a). Berkembang suatu asumsi yang salah di masyarakat, yakni bahwa mereka yang hanya mengutamakan kepentingan ukhrowi dalam hidupnya, adalah teroris, atau cara mengamalkan agamanya salah, karena hanya berpegang pada dogma-dogma agama yang kaku secara membabi-buta, atau secara taklid buta, lalu merasa paling benar dan menganggap siapa saja yang di luar lingkungan kelompok agamanya dianggap salah, dan dianggap musuh dan harus diperangi.
- Apakah perbedaan pendapat adalah musuh? (termasuk perbedaan mazhab, perbedaan aliran dalam agama)
- Apakah perbedaan menganut agama adalah musuh?
- Apakah akhirnya agama dijadikan alat pembenaran atas tindakan biadab, atas tindakan tidak berperikemanusiaan atas tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia?
b). Setiap orang yang berupaya untuk kepentingan ukhrowi, dianggap melakukan hal yang tidak mungkin, lalu dicaci dan dicemoohkan sebagai “orang yang bego, orang tolol” karena ada kesempatan maling dan korupsi tetapi tidak dilakukannya. Padahal sebenarnya, bahwa “orang yang berusaha hidup jujur”, kehidupannya akan lebih tenang dan tidak akan masuk penjara karena ketidakjujuran. Tetapi sebaliknya pengabaikan kepentingan duniawi akan bertentangan dengan hukum alam, seperti seseorang yang melakukan pengabdian seumur hidupnya untuk Tuhannya, tanpa makan (puasa atau bertapa non stop), tanpa kawin (membujang seumur hidup), tanpa tidur (siang malam beribadah). Karena menurut hukum alam, setiap orang perlu makan, perlu tidur, perlu kawin dan lain-lain.
c). Adanya anggapan bahwa kepentingan ukhrowi adalah kepentingan surgawi, oleh karena itu ada sebagian orang mencoba menciptakan “semacam surga” pada kehidupan nyata sekarang ini, tetapi upayanya hanyalah menciptakan kebahagiaan semu yang bersifat sementara. Karena kehidupan di dunia sekarang ini tetap ada penderitaan dan kesengsaraan. Akhirnya usahanya tidak pernah berhasil, kegagalannya, antara lain ditandai dengan lingkungan alam kita semakin rusak, polusi udara dan lingkungan yang semakin buruk tentu semuanya berakibat buruk bagi kesehatan kita, disamping berkembangnya berbagai penyakit baru seperti HIV AIDS, Flu Burung, Flu babi, dan lainya lagi, serta bertambahnya jumlah orang yang mengalami gangguan kejiwaan.
D. Tinjauan menurut kepentingan duniawi dan ukhrowi.
Jika ditinjau dari kedua batasan kepentingan di atas, maka teori Maslow dan ERG Clayton Alderfer, hanyalah kepentingan duniawi semata, maka koreksi adanya sutau tujuan yang lebih tinggi merupakan kebutuhan mencapai tujuan hidup beragama, (Stephen R. Covey dalam bukunya First Things First) bukan hanya kebutuhan spiritual, tetapi yang lebih spesifiknya adalah kepentingan ukhrowi.
Bagaimana praktik pemenuhan kedua kepentingan di atas, agar tidak terjadi tumpang tindih atau bahkan bertentangan, terlalu banyak kendala untuk membuat formula yang tepat bagi setiap orang, karena situasi, kondisi dan keadaan setiap orang berbeda-beda, jadi apa yang dilakukan orang lain belum tentu sesuai untuk pribadi kita, dan sebaiknya kita tidak menilai tingkah laku seseorang hanya dari luarnya saja. Dan kemungkinan nasehatpun belum tentu sesuai benar dengan kenyataan yang dihadapi. (walaupun kita tahu bahwa nasehat yang baik dan bermutu selalu berguna)
Catatan : Kesulitan dalam meninjau perbuatan kita sendiri, apakah termasuk kepentingan duniawi atau ukhrowi, biasanya disebabkan karena kepentingan duniawi lebih mudah untuk dimengerti dari pada kepentingan ukhrowi. Kesulitan ini ditandai dengan adanya anggapan bahwa semua tingkah laku kita adalah kepentingan duniawi saja.
Posted by: sulaiman on: Mei 22, 2009
Apakah dunia ini panggung sandiwara? Mengapa kita demikian terlena dan terpesona dengan kehidupan ini, sehingga kita lupa waktu? Menyaksikannya tapi sesungguhnya saat ini, detik ini sedang berlangsung pertarungan tiada akhir, yang sering tidak kita sadari. Apa dan bagaimana sebenarnya pertarungan itu? Inilah jawabannya :
1. Pertarungan antara hati nurani dengan hawa nafsu.
Dalam diri setiap orang saat ini sedang terjadi pertarungan antara hati nuraninya dengan hawa nafsunya, pertarungan ini tidak pernah berakhir selama hidupnya. Apa akibatnya jika hati nuraninya yang menang atau hawa nafsunya.
|
Jika hati nuraninya yang menang, berakibat |
Jika hawa nafsunya yang menang, berakibat |
|
1. Hati nuraninya akan mendorong terbitnya semua niat yang baik dan akalnya dikendalikan oleh hati nuraninya, sehingga akalnya menjadi pelita hati, mencari jalan untuk melakukan semua hal yang baik. 2. Jiwa dan perasaannya tenang, karena semua tingkah lakunya sesuai dengan hati nuraninya, jadi lebih tahu diri, lebih introspeksi dan lebih sesuai dengan keadaan. 3. Hidupnya menjadi terpuji dan terhormat, karena hati nurani akan selalu cenderung kepada kebaikan dan kebenaran, selalu menghindari maksiat dan hal-hal tercela. 4. Hati yang bersih dari dosa dan noda akan membuat pikiran lebih jernih, lebih obyektif, akan lebih banyak pertimbangan dan lebih bisa menerima nasehat. 5. Hati nurani mengajak untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya, selalu bersyukur jika mendapat nikmat dan selalu bersabar jika dapat musibah, selalu bersikap rendah hati kepada siapa saja dan selalu menyayangi semua makhlukNya. |
1. Hawa nafsunya akan mendorong terbitnya semua niat jelek/jahat, dan akalnya akan dikendalikan oleh hawa nafsunya, sehingga akalnya akan selalu mencari jalan untuk melakukan semua hal yang jelek/jahat. 2. Jiwa dan perasaannya selalu gelisah, karena dorongan hawa nafsu selalu menuntut pelampiasan dan pemuasan, tak tahu diri, tak tahu malu, tak ada introspeksi dan tidak sesuai dengan keadaan. 3. Tiada kehormatan dalam hidupnya, karena hawa nafsu mengendalikannya untuk selalu berbuat kejahatan, dan hal-hal tercela, terhina lainnnya. 4. Orang yang dikendalikan hawa nafsu seperti orang yang sedang mabuk, tidak bisa berfikir jernih dan tidak lagi obyektif, dan tidak bisa lagi menerima nasehat. 5. Hawa nafsu mengajak untuk melupakan/ mengabaikan Tuhannya, melakukan semua hal yang dimurkainya, berlaku sombong, angkara murka, sewenang-wenang dengan mengabaikan semua hokum, aturan dan nilai dan norma yang baik. |
2. Pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan.
Antara kebaikan dan kejahatan terjadi pertarungan yang tak pernah terhenti mungkin sampai hari kiamat, contoh konkritnya adalah pertarungan antara polisi dengan maling. Polisi mengembangkan ilmu pengetahuannya agar dapat menangkap maling, sebaliknya maling mengembangkan ilmu pengetahuannya agar tidak tertangkap oleh polisi.
Dalam spektrum pertarungan antara kebaikan dengan kejahatan secara umum, sebenarnya kita dihadapkan untuk memilih satu dari dua alternatif tersebut, apapun pilihan kita tetap ada resikonya. Bersikap tidak memilih atau masa bodoh/apatis juga ada resikonya sebagai berikut :
a. Bersikap apatis, tidak mendukung kepada kebaikan, berarti telah berpihak kepada kejahatan.
b. Bersikap apatis, tidak mencegah kepada kejahatan, berarti telah berpihak kepada kejahatan.
c. Bersikap apatis, tidak menarik diri, jika melihat dalam kebaikan ada kejahatan, berarti telah berpihak kepada kejahatan. (umpama : jika ada yang mengajak melaksanakan kebenaran suatu agama, tetapi dalam tindakannya menyusahkan dan meresahkan orang lain, apalagi sampai membunuh orang yang tidak bersalah, berarti terdapat penyimpangan dan pembohongan terhadap agama, atau yang mengajak telah jadi teroris) – maka jauh-jauh hari harus menarik diri-
d. Bersikap apatis, tidak menjauhkan diri terhadap urusan samar-samar, hal-hal yang tidak jelas baik atau jahat, berarti telah berpihak kepada kejahatan. (salah satu tanda dari tindak kejahatan adalah membuat yang jelas menjadi samar-samar, memutar-balikkan fakta dan data, mencampur adukkan yang halal dengan yang haram, membuat orang bingung dan ragu-ragu)
Apapun pilihan kita pasti ada sanksinya dan akibatnya, sebaiknya kita memilih untuk berpihak kepada kebaikan, karena jika kebaikan yang menang atas kejahatan maka kehidupan menjadi lebih aman, lebih tenteram dan lebih damai.
Bersambung ……
Posted by: sulaiman on: April 1, 2009
|
JADWAL PEMILU 2009 |
9 APRIL 2009 |
8 Juli 2009 dan 8 September 2009 |
|
Pemilihan Calon Anggota Legislatif |
Pemilihan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden |
Perhatian :
Pastikan nama saudara terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT)
Jika Pindah ke daerah karena sesuatu, maka uruslah 3 hari sebelum tanggal sesuai jadwal pemilu 2009 dan pastikan nama saudara terdaftar pada Daftar Pemilih Tambahan (DPTb)
Usahakan datang ke Tempat Pemunguntan Suara TPS sebelum jam 12.00 dan mendaftarkan diri dengan menunjukkan surat pemberitahuan dari KPPS dan KTP(tanda bukti diri/Resi KTP)
Setelah mendaftar di TPS tunggulah, jika saudara di panggil, akan mendapatkan Surat Suara Pemilu , sebagai berikut :
|
PEMILIH TETAP |
PEMILIH PINDAHAN |
|
Maksudnya tidak pindah TPS, umpama warga DKI memilih di DKI |
Maksudnya pindah TPS, umpama warga DKI tapi pindah dan memilih di daerah |
|
Mendapatkan 4 (empat) surat suara : - Warna Kuning untuk DPR - Warna Merah untuk DPD - Warna Biru untuk DPRD - Warna Hijau untuk DPRD Kotamadya |
Mendapatkan 3 (tiga) surat suara : - Warna Kuning untuk DPR - Warna Merah untuk DPD - Warna Biru untuk DPRD |
Pemilih akan mengikuti ketentuan di Daerah Pemilihan, jadi kalau pindah saudara hanya menerima 3 surat suara.
Setelah mendapat surat suara, pastikan surat suara dalam keadaan baik dan sudah ditanda tangani oleh KPPS. (jika belum ditandatangani tidak sah),
Setelah itu saudara masuk bilik suara dan melakukan satu kali contreng pada setiap surat suara, dijamin sudah sah. ( alat tulis sudah disediakan)
Cara mencontreng atau mencentangnya pada surat suara, sebagai berikut :
- Kalau saudara memilih partai, lakukan contreng dalam kolom Partai (cara Conteng – 1)
- Kalau saudara memilih Caleg, lakukan contreng dalam Kolom Nomor Urut Caleg (cara Contreng – 2)
- Kalau saudara memilih Caleg, bisa juga mencontreng dalam Kolom Nama Caleg (cara Contreng – 3)
- Kalau saudara memilih Caleg, bisa juga mencontreng dalam Kolom Gambar/Foto Caleg (cara Contreng – 4)

Cara Contreng - 1

Cara Contreng - 2

Cara Contreng - 3

Cara Contreng - 4
.
Catatan : Usahakan mencontreng dalam kolom yang saudara pilih.
___________
Nara Sumber : Ibu Sri Nuryati, Anggota KPPU Pusat, pada ceramah Sosialisasi Pemilu 2009, di Gedung Urip Sumohardjo, Dephan, Jalan Merdeka Barat omor 13-14 Jakarta Pusat, tanggal 30 Maret 2009, jam 09.00 sampai jam 12.00 WIB.
Kata Pengunjung