SULAIMAN Weblog

MENTALITAS KERJA RAYAP

Posted by: sulaiman on: Januari 25, 2010

Keberadaan rayap akan selalu menyembunyikan dirinya.

Tidak akan mau diketahui oleh siapapun.

Tidak akan peduli terhadap siapapun.

Akan selalu berusaha menghindari sinar matahari.

Karena dalam suasana terang benderang, semua jadi transparan.

Metode rayap adalah start dan finish dari dalam.

Tidak akan mau diukur hasil dan prestasi kerjanya.

Tidak akan peduli semua jadi kropos dan rapuh, walau terlihat utuh.

Akan selalu bekerja dari dalam kayu secara tertutup.

Karena instingnya mengatakan ‘tertutup rapat sangat penting’.

Aktifitas dan kreatifitas rayap hanyalah menggerogoti kayu.

Tidak akan mau berhenti beraktifitas siang malam.

Tidak akan peduli dengan lingkungan yang bagaimanapun.

Akan selalu berusaha memperkecil postur tubuhnya.

Karena semakin kecil lubang masuk, akan semakin sulit dilacak.

Ambisi rayap hanyalah menikmati kayu apapun.

Tidak akan mau tahu tentang aturan kepemilikan.

Tidak akan peduli kayu milik siapapun.

Akan selalu berusaha menggarapnya jika bisa.

Karena demi ambisinya, hanya mementingkan dirinya saja.

Obsesi rayap hanyalah melahap dan menelan semuanya.

Tidak akan mau memperhatikan ukuran perutnya.

Tidak akan peduli dengan teman-teman sejawatnya.

Akan selalu menggerogoti kayu dengan gelap mata.

Karena parameternya hanya sebatas congornya saja.1)

Ketenangan rayap ketika berada di tempat terlindung.

Tidak mau berada di tempat terbuka yang mudah terlihat.

Tidak akan peduli semua akibat dari dampak kerjanya.

Akan selalu berusaha menghindar, jika bangunan berat runtuh.

Karena biarlah orang lain tertimpa bangunan berat, asal dirinya selamat.

Selera makan rayap meningkat, jika aroma kayu menyengat hidungnya.

Tidak akan mau memilih-milih kayu gelondongan atau sudah berbentuk.

Tidak akan peduli, walaupun  kayu yang sudah berbentuk kursi.

Akan selalu berusaha menggerogotinya walau ada yang mendudukinya.

Karena biarlah orang lain terhempas ke tanah dari kursinya, asal dirinya aman dari patokan ayam dan kejahatan orang.

Keserakahan rayap dalam berebut kayu sangat ketat dan tidak terlihat.

Tidak akan mau areanya dimasuki yang lain, walau hubungannya merapuh.

Tidak akan peduli temannya kelaparan dan tidak dapat makan.

Akan selalu berusaha agar semua obyekannya selalu dalam areanya.

Karena untuk tetap hidup, apapun akan dilakukan mesti harus menyerang teman.

——

1) Congor = mulut binatang.


MENGENANG KH ABDURRAHMAN WAHID

Posted by: sulaiman on: Januari 4, 2010

Telah berpulang kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, mantan presiden Republik Indonesia keempat, KH. Abdurahman Wahid, pada hari Rabu 30 Desember 2009 jam 18.45 WIB. di Jakarta  dan dimakamkan tanggal 31 Desember 2009 jam 13.35 WIB. di Jombang, Jawa Timur.

Saat pemakaman beliau, banyak dihadiri oleh para pelayat dari berbagai kalangan sampai masyarakat bawah, dari semua elemen masyarakat dan dari semua pemuka agama. Semua pelayat tidak sanggup menahan kesedihan, karena haru dan duka yang mendalam, mengiringi kepergian beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Prosesi pemakamannya dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara protokoler kenegaraan dengan upacara militer, maka   keluarga dan masyarakat merasakan “ada batas dan ada jarak”,  karena mereka semua ingin ikut mengurusnya dan menguburkannya secara langsung.

Pelaksanaan pemakaman dengan upacara resmi kenegaraan seperti ini, biasanya dilaksanakan  di tempat pemakaman “Taman Makam Pahlawan”, tetapi pelaksanaan pemakaman  kali ini dilaksanakan di komplek Pondok Pesantren Tebuireng.   Pelaksanaan di pondok pesantren ini merupakan kejadian langka  dan baru pertama kali.

Pada malam jum’at tanggal 31 Desember 2009, dilaksanakan tahlilan dan doa setelah sholat magrib, di depan makam KH Abdurrahman Wahid, suasana sedih tidak hanya terasa di komplek Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang,tetapi juga di pondok-pondok pesantren di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang melaksanakan kegiatan serupa. Dan selanjutnya kagiatan tahlilan dilaksanakan selama tujuh hari berturut-turut.    Pada tanggal 1 Januari 2010 dilaksanakan sholat gaib dan doa bersama untuk al marhum setelah pelaksanaan sholat jum’at di masjid-masjid, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Saat pergantian tahun baru 2010 ini, walaupun semua warga Indonesia berantusias ingin ikut “merayakan tahun baruan”, sebagai “Tradisi Tahunan” di Indonesia dengan berbagai acara termasuk adanya kembang api yang meriah, tapi tetap masih terasa suasana berkabung atas wafatnya mantan Presiden Republik Indonesia keempat KH. Abdurrahman Wahid.

Seluruh rakyat, warga dan bangsa Indonesia bersedih, berduka, berkabung dan merasa kehilangan atas wafatnya KH. Abdurrahman Wahid, momentum ini dijadikan “Hari Berkabung Nasional” yang ditandai dengan menaikkan bendera merah putih  setengah tiang, selama tujuh hari diseluruh wilayah Republik Indonesia.

Bukan hanya umat islam yang merasa kehilangan, tapi juga umat dari agama lain, ribuan orang lintas agama mendoakan KH Abdurrahman Wahid pada malam kamis itu di berbagai tempat. Dan selanjutnya doa yang dipanjatkan untuk beliau, tidak hanya di masjid-masjid, tapi juga di gereja-gereja, di vihara-vihara, di klenteng-klenteng, atau di tempat-tempat ibadah lainnya. (Didoakan oleh umat dari agama lain ini adalah kejadian yang langka dan luar biasa)

Pribadi yang unik

KH. Abdurrahman Wahid yang lebih akrab dipanggil “Gus dur” terkenal memiliki pribadi yang unik sejak masa santrinya, anatara lain :

1.    Beliau terkenal sebagai santri yang “kutu buku” (suka membaca), tapi suka bergaul.   Beliau tidak sama dengan kutu buku lainnya, yang umumnya bersifat pendiam dan lebih suka menyendiri.

2.   Kebiasaan beliau  setiap pagi membaca surat kabar harian (koran), tentu saja kebiasaan ini berbeda dengan kebiasaan santri di pondok pesantren yang setiap pagi membaca kitab suci Al Qur’an.

3.   Beliau lebih gemar bermain dari pada ikut mengaji atau ikut pelajaran di kelas, tetapi yang membingungkan para gurunya, walaupun jarang mengikuti pelajaran di kelas, beliau dapat menjawab semua pertanyaan dan menguasai semua pelajaran dengan baik. (Beliau terkenal pandai dan brillian)

4.   Beliau bergaul dengan siapa saja, tanpa membedakan agama, tidak seperti para santri yang  umumnya membatasi pergaulan dengan orang-orang di luar islam.

5.   Beliau menyenangi musik, sering mendegarkan lagu-lagu dan berjiwa seni, tidak seperti para santri yang umumnya tidak menyenangi musik, bahkan ada kiai yang mengharamkan musik.

Tokoh Kharismatik

Kiai Gusdur adalah  ulama yang negarawan, dan budayawan yang intelek, juga dikenal sebagai seorang tokoh masyarakat yang berwibawa dan karismatik. Pribadi beliau demikian mengagumkan, masyarakat merasakan bahwa pesonanya, wibawanya, kharismanya dan daya tariknya demikian kuat, sehingga pengagumnya, pengikutnya dan pencintanya selalu bertambah.

Beberapa orang berpendapat, bahwa wibawa dan kahrisma yang dimiliki oleh Kiai Gusdur hampir sama seperti wibawa dan kharisma yang dimiliki oleh presiden pertama Republik Indonesia  Ir. Soekarno.

Sikap dan tutur katanya menjadi panutan, ditaati dan diikuti oleh masyarakat umum, mungkin karena jiwa kepemimpinannya dan leadershipnya yang demikian menonjol, disamping beliau adalah manajer yang baik. Beliau adalah tempat bertanya, bagi siapa saja yang mengalami kesulitan.  (Beliau mampu memberikan jalan keluar dan solusi mengatasi suatu permasalahan sulit)

Pengikut yang fanatik

Tidaklah mengherankan, jika  masyarakat umum yang mengidolakan Kiai Gusdur berusaha untuk selalu dekat dengannya dan akhirnya menjadi pengikutnya yang taat. Tetapi umumnya mereka yang jadi pengikut yang taat,  tidak mengerti atas semua ucapan, pernyataan, dan sikap Kiai Gusdur atau mereka sebenarnya telah menjadi fanatik.  Jadi mereka adalah para pengikutnya yang mencintainya secara berlebihan.  (menurut para pengikut  yang fanatik, apapun yang dikatakan Gusdur pasti benar)

Kelompok masyarakat yang fanatik terhadap Kiai Gusdur ini, kadangkala berlebihan  dalam mengagungkannya dan memujanya, sampai mengkultuskannya sebagai wali, atau setengah dewa. Padahal Kiai Gusdur sendiri, tidak ingin dirinya dikultuskan demikian. (Dari semua perkataan dan pernyataan Kiai Gusdur, tidak ada yang menunjukkan bahwa dirinya ingin dikultuskan)

Besar kemungkinan, bahwa jumlah pengikutnya yang fanatik akan selalu bertambah, terutama setelah menyebarnya isu bahwa “Gusdur adalah wali”.  Sekarang mereka “kehilangan pegangan” dengan wafatnya Kiai Gusdur, mereka “seperti anak ayam yang kehilangan induknya”,  seiring  berjalannya waktu, tidak tertutup kemungkinan mereka melakukan “semacam improvisasi atau semacam sublimasi” dengan menuhankan Gusdur atau akhirnya  mereka beranggapan bahwa ruh Gusdur adalah tuhan.

Awal gejala menuhankan Gusdur, ditandai dengan banyaknya peziarah yang mengambil atau membawa pulang, secuil tanah atau benda apapun dari sekitar kuburan Kiai Gusdur, untuk dijadikan “semacam jimat”.  Maka pihak pengurus kuburan  dari pesantren, menjadi sangat kerepotan karena para peziarah banyak yang berprilaku seperti ini.  Maka prilaku para  peziarah yang tiada henti setiap hari, mengakibatkan pengurus kuburan harus menguruk dan merapikan kembali tanah sekitar makam.

Memang tidak semua peziarah adalah pengikut fanatik Kiai Gusdur, karena berziarah ke kuburan siapapun adalah perintah agama untuk mendoakan almarhum, untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, agar diampuni dosanya, dan agar diangkat derajatnya di sisiNya. Kesalahan para pengikut yang fanatik karena berdoanya salah, bukan mendoakan almarhum, tapi memohon hal-hal lain, atau mungkin karena niatnya salah.

Kelompok fanatik Kiai Gusdur ini, selalu merasakan adanya ikatan emosional dengan Kiai Gusdur, hal ini ditandai dengan :

1.    Mereka mendukung siapa saja yang berusaha untuk lebih memuji dan lebih mengharumkan nama baik Kiai Gusdur, contohnya : kelompok pengikut fanatik,  mendukung usulan agar Kiai Gusdur dijadikan pahlawan nasional, usaha mereka dari mengumpulkan tanda tangan, sampai mereka melakukan demonstrasi dengan membubuhkan “Cap jempol darah” seperti terjadi  di Cirebon, Jawa Barat.

2.   Mereka memprotes siapa saja yang berusaha menjelekkan nama baik Kiai Gusdur, atau menyinggung perasaan Kiai Gusdur, contohnya : Pelawak Miing pernah  didemonstrasi, karena  salah satu lawakannya, dinilai menjelekkan nama baik dan menyinggung perasaan Kiai Gusdur. (padahal Kiai Gusdur sendiri bersikap terbuka, dan menerima kritik apapun. Sikap Kiai Gusdur ini bertentangan dengan sikap para pengikutnya yang fanatik, yang bersikap tertutup dan tidak dapat menerima kritik apapun)

Tokoh kontroversil

Kepribadian Kiai Gusdur yang sederhana, dan kebiasaannya yang tetap tidak berubah, dari masa santri sampai menjadi pejabat tinggi negara, telah menjadikan beliau sebagai tokoh kontroversil.

Hal-hal yang menarik perhatian masyarakat umum dari sikap kontroversilnya, antara lain :

1.   Beliau tetap suka humor, membuat suasana menjadi hidup dimanapun beliau berada, dan  kalau beliau ditanya dengan pertanyaan yang bersifat rumor, beliau menjawab dengan nada ringan : “Gitu aja, kok repot”. (masyarakat merasa  kaget dan aneh, mengapa pejabat tinggi negara, berbicara ceplas-ceplos dan asal jadi bicara seperti ini?)

Menurut beliau, sikap suka berkelakar dan suka bercanda dengan siapa saja, tidak akan menjatuhkan mana baik dan wibawanya. Sikap ini membuat kisruh atau salah tingkah para pejabat bawahannya. Karena sikap para pejabat pada umumnya, tidak suka bercanda dengan yang tidak selevel, hal ini dianggap akan berakibat  menjatuhkan pamor, nama baik dan wibawa. (Kebiasaan beliau bertentangan dengan kebiasaan umum para bawahannya)

2.    Umumnya para pejabat,  pada level apapun, bersikap angker, seram, keras, tegang, dan sangat menjaga jarak dengan siapapun, demi menjaga pamor, nama baik dan wibawa, bila perlu dengan berbagai upaya, akting dan improvisasi. (yang mengherankan, mengapa tidak bersikap menjaga jarak, dan sikap kontroversil Kiai Gusdur bukanlah dibuat-buat, bukan akting, bukan improvisasi dan bukan kepura-puraan, semuanya terjadi dan berjalan secara alamiah?)

3.   Terjadinya perbedaan pendapat yang tajam antara beliau : (a) dengan para ulama Nahdatul Ulama (NU), (b) dengan para intelektual dan cendekiawan, (c) dengan para politisi, serta (d) dengan beberapa kelompok kecil masyarakat. (jika berbeda pendapat dengan begitu banyak orang, mana yang benar?)

3.   Semua pernyataan dan sikap Kiai Gusdur sendiri yang di luar dugaan, tentu saja menarik perhatian umum, dan selalu menjadi bahan berita yang menarik bagi media massa, banyak berita di media masa yang bercampur aduk antara rumor dan kenyataan,  Beliau sendiri tidak mau menjelaskannya atau mengklarifikasikannya. Maka masyarakat umum, ada yang merasa kecewa, gemes, gregetan, ngeselin, dan juga yang ikut “merasa pusing”, dan ada yang merasakan “kok suasana tambah semrawut” , sehingga ada juga yang menjadi kurang menghargainya.

Mempelajari sikap kontroversilnya

Semua sikap kotroversil Kiai Gusdur selama memimpin bangsa ini, sepatutnya dipelajari demi kebaikan bangsa ini mendatang, dan untuk itu dalam mempelajarinya haruslah dengan kritis, logis, dan rasional bukan dengan tahayul atau  khurafat, dan bukan pula dengan hal-hal yang tidak logis dan tidak rasional.

Tujuan mempelajari sikap kontroversil Kiai Gusdur, yakni :

1.  Menggali, menemukan dan memahami nilai-nilai yang menjadi dasar sikap kontroversilnya, bukan dimaksudkan sebagai upaya untuk pembenaran dari sikap kotroversilnya, tapi sebagai upaya untuk mencari nilai apa yang mendasari  dari setiap sikap kontroversilnya.

2.  Mendapatkan suatu pengertian dan pemahaman yang benar dari sikap kontroversil Kiai Gusdur, yang kemungkinan dapat menghindari kesalahpahaman dan  meredam munculnya suatu paham “Gusdurisme yang keliru”.

Bila diteliti, nilai-nilai yang mempengaruhi dan mendasari sikap kontroversilnya  tersebut, dapatlah disimpulkan, bahwa nilai-nilai yang dimaksudkan merupakan gabungan atau kristalisasi kaidah-kaidah pokok sebagaimana tersurat dalam kitab-kitab “atsar” 1),  antara lain :

Kaidah Pertama : “lisanul hal afshohu min lisanil maqol wa ahammu min ‘ibadah binafsih”

لسان الحال افصح من لسان المقال و أهمّ من عبادة بنفسه

“Pengamalan agama secara realitas lebih fasih dari penjelasan yang gamblang dan lebih penting dari pelaksanaan ibadah secara pribadi.”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.   Kiai Gusdur tidak sependapat dengan siapa saja yang banyak teori atau banyak rencana, tapi kurang atau sedikit praktiknya secara substantial, beliau tidak sependapat dengan pengamalan agama secara kaku dan kurang proporsional. Dalam hal ini terkadang beliau bersikap tegas. Jika ada kelompok kecil umat islam yang masih berpandangan kolot dan kaku yang sempat menerima sikap tegas dari Kiai Gusdur ini, mereka menjauhi Kiai Gusdur. (mereka merasa tidak mau dimarahi lagi oleh Kiai Gusdur, padahal Kiai Gusdur bukan marah tapi menjelaskan hal-hal yang substantial  secara tegas, sayangnya penjelasannya sering disampaikan secara ringkas, sehingga yang terkesan hanya marah-marahnya)

2.   Memicu terjadinya pertentangan yang tajam antara Kiai Gusdur dengan para ulama Nahdatul Ulama (NU), karena para ulama NU. lebih mementingkan pada pelaksanaan ibadah secara pribadi, mereka sama sekali tidak mau terlibat dengan urusan kekuasaan (yang bersifat duniawi).  Kiai Gusdur justeru sebaliknya, malah  berambisi kekuasaan dan selalu ingin menjadi orang yang berkuasa.  (kata Kiai Gusdur : “masih mau jadi presiden, enak jadi presiden”)

3.   Umat islam secara umum  menjadi bingung, karena para ulama NU  yang dipimpin oleh Kiai Gusdur berbeda pendapat tentang Kiai Gusdur, bahkan ada yang mengatakan Kiai Gusdur sebagai seorang kiai yang aneh dan nyeleneh, tapi ada juga ulama yang setuju dengan semua yang dilakukan oleh Kiai Gusdur.

Kaidah Kedua :  “Laisa tadbiir wa taqoodum li tafakhoom wa takabbur, walakin limashlahatil Ummah”.

ليس تدبير و تقدّم لتفاخر و تكبّر ولكن لمصلحة الأمة

“Segala upaya dan kemajuan bukan dimaksudkan untuk bermegah-megahan dan berbuat yang kurang sesuai dengan keadaan, tetapi dimaksudkan untuk kebaikan umat.”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Memicu terjadinya pertentangan yang tajam antara Kiai Gusdur dengan kaum intelektual. Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengajak Kiai Gusdur untuk bergabung, maka Kiai Gusdur menolaknya dengan tegas. Seharusnya ICMI melakukan introspeksi ke dalam, Ada apa yang salah dengan ICMI?  Apakah mengambil sikap menjauhi Kiai Gusdur merupakan sikap yang tepat dari para intelektual? Kiranya semua ini perlu dikaji ulang? Ataukah kaidah yang menjadi dasar pada Kiai Gusdur yang keliru?

2.  Memicu terjadinya petentangan yang tajam  antara Kiai Gusdur dengan para politisi, karena Kiai Gusdur menilai para politisi telah “bermegah-megahan, berbuat yang kurang sesuai dengan keadaan serta kurang terarah untuk kebaikan umat”, terutama ketika Kiai Gusdur melontarkan pernyataan : “DPR dulu TK sekarang playgroup”. (Tentu saja, pernyataan ini dianggap menghina lembaga tinggi Negara dan banyak para politisi merasa tersinggung)

3.   Masyarakat Indonesia menjadi semakin tidak mengerti, kalau kaum terpelajar saja banyak yang tidak mengerti atas pernyataan dan sikap Kiai Gusdur, kalau kaum cendekiawan saja bingung dengan sikap dan pernyataan Kiai Gusdur, apalagi masyarakat umum dan orang awam, tentu lebih bingung lagi.

4.   Presiden dengan para politisi yang seharusnya bekerjasama dalam membangun bangsa ini disegala bidang, tapi kenyataannya justeru berseteru dan bertentangan dengan sangat sengit, maka seluruh rakyat jadi bingung, mau jadi apa negara ini?

Kaidah Ketiga : “Arroiis khodimul Ummah”

الرئيس خادم الأمّة

“Pemimpin adalah pelayan masyarakat umum”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Istana yang selama ini tertutup bagi rakyat  biasa, berubah menjadi semakin terbuka bagi rakyat kecil, karena sikap Kiai Gusdur yang tidak berubah sikapnya seperti sikap pelayan masyarakat, atau lebih bersikap seperti santri yang biasa melayani masyarakat yang didasari oleh jiwa pengabdian yang ikhlas, itulah jiwanya para alim ulama (ruuhul  ‘ulama-ul mukhlishin). Tentu rakyat merasa janggal, bila melihat presidennya di istana melambaikan tangan dengan memakai celana kolor.

2.  Ketika beliau berkunjung ke teman-temannya  atau  berkunjung ke pesantren-pesantren, beliau  tidak mau dikawal, membuat protokoler kepresidenan dan Paspampres menjadi sangat kerepotan. Hal ini bertentangan dengan kebiasaan presiden, dan bertentangan dengan kebiasaan pejabat tinggi negara. (mingkin, masih banyak kebiasaan lain yang kurang pas  sebagai pejabat tinggi negara)

Kaidah Keempat : “la tuakhkhiru ‘amalal yaum ilal ghod”

لا تؤخّر عمل اليوم الى الغد

“Jangan menunda pekerjaan detik ini, hari ini untuk dikerjakan besok”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.  Bertambahnya kesibukan protokoler kepresidenan, disebabkan Presiden Gusdur menyadari banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga banyak acara yang tiba-tiba berubah, dan banyak rute jalan presiden yang tiba-tiba berubah. (sibuknya, karena semua perubahan sering di luar dugaan, dan bagi bawahannya tidak mungkin bersikap masa bodoh, jika presiden sibuk atau kemana-mana tanpa persiapan)

2.  Banyaknya kunjungan ke luar negeri selama masa jabatannya ( 80 kali perjalanan) dengan biaya negara, menimbulkan tuduhan bahwa Presiden Gusdur melakukan pemborosan uang Negara dengan banyaknya “jalan-jalan” ke luar negeri.  (Apakah tujuannya hanya jalan-jalan belaka, kalau beliau sendiri kurang menikmatinya karena cacad fisik?)

Kaidah Kelima :  “Hubbul wathon minal imaan”

حبّ الوطن من الإيمان

“Cinta pada tanah air sebagian dari keimanan”

Pelaksanaan kaidah ini, berakibat :

1.   Berdasarkan cintanya kepada tanah airnya, melahirkan “semangat demokrasi dan pluralisme untuk Indonesia yang bersatu, damai dan sejahtera”. Maka Kiai Gusdur mendapat gelar sebagi guru demokrasi dan bapak pluralisme. Semua ini sesuai dengan semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang bagi beliau tidak hanya  sebuah semboyan yang mati, tetapi menjadikan semboyan ini benar-benar diamalkan.

2.   Berdasarkan cintanya pada tanah air, mendorongnya untuk selalu berpegang teguh pada cita-cita luhur bangsa, kesepakatan bangsa, maka Kiai Gusdur mempunyai komitmen yang kuat pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta selalu berusaha menciptakan Indonesia yang bersatu, dan berupaya mencegah perpecahan apapun, berusaha mengangkat semua golongan minoritas yang tertidas atau terabaikan, merangkul semua kolompok masyarakat tersisihkan atau terhinakan, menciptakan persamaan harkat dan derajat semua suku dan semua kelompok masyarakat di Indonesia, dan berusaha menciptakan kerukunan beragama dan kebersamaan dengan hidup berdampingan secara damai. (cinta pada rakyat yang terbaik adalah berlandaskan cinta pada tanah air.  Dan  rasanya tidak logis, jika tidak mencintai rakyat, tapi ingin dicintai oleh rakyat, atau saat mencintai rakyat hanya saat kampanye saja dengan mengumbar janji-janji)

Kesimpulan

1.   Sebagai manusia biasa, tentu Kiai Gusdur memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya (cacad fisik) banyak membatasi aktifitasnya, akhirnya timbul rumor yang beredar, bahwa sikap kotroversil Kiai Gusdur karena kesalahan “juru bisik Presiden”.  Kiranya semua rumor itu tidak benar, dan kalau kesehatan Kiai Gusdur sempurna secara fisik, mungkin dalam masa jabatannya yang singkat akan lebih banyak prestasi yang dapat diukirnya untuk bangsa ini.

2.  Tidak dapat diprediksi, sikap berlebih-lebihannya dalam penghormatan, penghargaan, pengagungan dari para pengikut fanatik terhadap Kiai Gusdur, dan kemungkinan kalau kuburan Gusdur di pegunungan yang sepi, mungkin dalam sekejap berubah menjadi tempat yang ramai, dengan berdirinya tempat perklenikan atau perdukunan baru. Tentu akan terjadi keributan yang akan merepotkan pihak keamanan.

3.   Jika tidak ada usaha untuk merasionalkan sikap kontroversil Kiai Gusdur. Maka kemungkinan yang akan lebih berkembang adalah asumsi, pikiran-pikiran yang tidak rasional dan tidak logis. Usaha merasionalkan sikap kontroversilnya, tentunya  diarahkan untuk kebaikan bangsa ini mendatang.  Masih banyak sikap kontroversilnya yang belum dapat dijelaskan. (sumbang saran dari pembaca untuk pencapaian tujuan mempelajarinya tersebut di atas sangat dibutuhkan)

4.   Apakah akan terbukti sebuah kaidah dari teori sosiologi: “Jika pemimpinnya aneh, maka masyarakat yang dipimpinnya akan menjadi aneh”.   Apakah masyarakat Indonesia sekarang sedang berkembang menjadi “masyarakat yang aneh”?  Mari kita simak perkembangan masyarakat Indonesia selanjutnya.  Dan semoga saja kaidah ini tidak terbukti.

Penutup

1.   Semoga seluruh amal ibadah Kiai Gusdur diterima, diampuni semua dosanya dan diberikan tempat yang sesuai baginya di sisi Allah SWT. Yang Maha Kekal,  Amin.

2.  Memasuki tahun baru 2010, seluruh warga Indonesia yang mengharapkan adanya perubahan suasana ke arah yang lebih baik, dan menjadi Indonesia lebih maju lagi, semuanya mungkin akan lebih cepat terwujud,  jika melanjutkan tonggak-tonggak sejarah yang belum selesai, yang telah dirintis oleh Presiden keempat kita.

Tulisan ini merupakan kumpulan kutipan dari berbagai sumber.

_____

1) Kitab kumpulan ahaadiits, amtsaal, mahfudzoot, syiir dan sejenisnya.

PERAYAAN 10 MUHARRAM

Posted by: sulaiman on: Desember 25, 2009

Banyak kejadian bersejarah pada tanggal 10 Muharram, salah satu kejadian terbesar yang merubah keadaan manusia sampai saat ini, ialah kemenangan Nabi Musa Alaihi Salam atas raja Fir’aun. Nabi Musa Alaihi Salam beserta pengikutnya selamat menyeberangi laut Merah dan Raja Fir’aun dengan seluruh tentaranya tenggelam di laut Merah. (kejadian ini menunjukkan mu’jizat atau tanda kenabian dari Allah SWT. Kepada nabi Musa Alaihi Salam)

Perayaan 10 Muharram pada setiap tahun, hanya dirayakan oleh dua agama besar :

1. Agama Yahudi. Para pendeta Yahudi merayakan 10 Muharram setiap tahun, sesuai ajaran agama Yahudi, yakni berpuasa sehari penuh.

2. Agama Islam. Umat Islam merayakan 10 Muharram setiap tahun, sesuai ajaran agama islam, yakni :

a. Berpuasa mulai tanggal 9 sampai tanggal 10 Muharram, berpuasa dua hari.

b. Memberikan santunan kepada para yatim piatu, dan menjadikannya sebagai hari raya anak yatim. (dan pada hari lainpun tetap memberikan santunan kepada anak yatim, jadi tidak hanya sekali dalam setahun)

Semoga mereka yang merayakan 10 Muharram, sesuai janji pasti dari Tuhan Yang Maha Benar dan Tuhan tidak pernah menyalahi janjiNya, yakni :

1. Mendapatkan ampunan dan diampuni semua dosanya pada tahun yang telah lalu.

2. Ditambahkan sifat-sifat baik, seperti : rendah hati, sopan santun, ramah tamah, tidak sombong, menghargai dan menyayangi semua orang, selalu tawadlu’ dan lain-lain.

3. Dihilangkan semua sifat-sifat buruk seperti : tidak memuji diri, tidak merasa paling hebat, tidak merasa paling suci, tidak serakah terhadap harta, tidak ambisi terhadap kekuasaan, tidak terobsesi untuk penyalahgunaan wewenang, dan lain-lain.

4. Mendapatkan kekayaan dan kekuatan jiwa dalam mengendalikan semua hawa nafsu, dan kecenderungan hati untuk beribadah dan kecenderungan hati kepada yang baik, benar dan halal, serta terhindar dari hal-hal yang dimurkai Tuhan Yang maha Kuasa.

Sebaiknya kita semua ikut merayakan 10 Muharram, minimal berjiwa besar dan menyantuni anak yatim dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih apapun.

Catatan : Perhitungan tanggal masehi selalu berubah setiap tahun, karena tanggal masehi berdasarkan perhitungan peredaran matahari, tanggal hijriyah berdasarkan perhitungan peredaran bulan :

- Pada tahun 2009 bertepatan tanggal 26 Desember untuk 9 Muharram, dan 27 Desember untuk 10 Muharram.

 - Pada tahun 2010 bertepatan tanggal 15 Desember untuk 9 Muharram, dan 16 Desember untuk 10 Muharram.

Dinamika Perkembangan Suatu Bahasa

Posted by: sulaiman on: Desember 21, 2009

Suatu bahasa yang dikenal sebagai sarana untuk berkomunikasi dalam bersosialisasi, mengalami dinamika perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu, berikut akan dibahas secara sepintas mengenai : a) Manusia dan Bahasa, b) Perkembangan Bahasa, c) Bentuk Bahasa dan perkembangannya, d) Bahasa Standar dan bahasa Prokem, e) Bahasa Hidup, Mati atau Punah, f) Kecenderungan dan Tuntutan bagi Perkembangannya.

A.      Manusia dan Bahasa

Manusia normal selalu berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia lainnya, untuk keperluan itu digunakan bahasa.  Upaya untuk menguasai suatu bahasa tertentu, tidak terpisahkan dengan upaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya dan untuk memperoleh keunggulan nilai-nilai yang terkandung dalam bahasa tersebut, seperti : nilai ekonomis, nilai politis, nilai sosio-kultural dan lain-lain.

Seorang manusia sejak lahir telah memiliki kemampuan untuk menguasai suatu bahasa, kemampuan ini terus berkembang seiring dengan bertambahnya kematangan kepribadiannya, sehingga manusia dapat menciptakan dan menggunakan lambang-lambang dan simbol-simbol yang menggambarkan arti dan pengertian tertentu, maka manusia disebut “animal simbolicum” atau “al hayawanun naatiq”.

B.      Perkembangan Bahasa

Sebagai makhluk sosial, seseorang akan mengalami proses interaksi dengan orang-orang di sekitarnya, baik berkomunikasi antar pribadi, intern kelompoknya, atau dengan kelompok lainnya. Proses ini akan mengembangkan suatu bahasa pada sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah, sesuai dengan kebiasaan, adat istiadat, dan budaya pada kelompok masyarakat tersebut.

Berkembangnya suatu bahasa dalam suatu wilayah dan penyebarannya ke wilayah lain, akan berproses secara alamiah dalam waktu yang cukup lama. Pertumbuhan dan perkembangannnya ke wilayah-wilayah lain, ditentukan oleh banyaknya jumlah penutur yang tersebar. Banyak bahasa yang perkembangannya sudah mendunia, yakni bahasa-bahasa yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), antara lain : Bahasa Inggris, Bahasa Prancis, Bahasa Jerman, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain-lain.

C.      Bentuk Bahasa Dan Perkembangannya

Secara umum bentuk bahasa terbagi dua, bahasa lisan dan bahasa tulisan. Adapun Bahasa isyarat adalah penjabaran atau bersumber dari bahasa lisan yang dipergunakan oleh tunawicara. Perkembangan dari masing-masing bentuk bahasa tersebut, baik langsung maupun tidak langsung, lebih banyak ditentukan oleh tuntutan dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam bermasyarakat.

Perkembangan bahasa lisan mendahului bahasa tulisan, terutama ketika manusia belum mengenal tulis-baca. Maka dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial lebih banyak dipergunakan bahasa lisan, karena lebih praktis dan tidak memerlukan media selain dari  berfungsinya alat pengucapan, suara yang dihasilkan, dan alat pendengar dari tubuh manusia sendiri. (mulut yang dapat bicara dan telinga yang dapat mendengar)

Perkembangan bahasa tulisan mulai dikenal sejak abad kelima, sejak manusia menuliskan simbol-simbol pada lempengan tanah liat yang dikeringkan, lalu ditemukan papyrus, kertas dan sekarang komputer, digital dan internet. Bentuk bahasa tulisan lebih banyak mempergunakan bahasa standar, terutama untuk dokumen-dokumen resmi dan dokumen-dokumen ilmiah yang mengandung “pengertian yang tinggi”. Bahasa tulisan akan terus berkembang seiring berkembangnya istilah-istilah resmi dan istilah-istilah semua disiplin keilmuan.

D.      Bahasa Standar Dan Bahasa Prokem

Bahasa standar adalah bahasa yang baik dan benar, bahasa yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan tata bahasanya, mempergunakan kata-kata baku yang umum, mempergunakan kalimat-kalimat efektif, dalam paragraf-paragraf yang sistematis, seluruhnya menjelaskan suatu makna dan pengertian secara jelas dan gamblang.

Memerhatikan seorang anak dalam menangkap dan menguasai suatu bahasa yang menjadi bahasa ibu (atau bahasa pertama yang dikuasainya), kerapkali terjadi kesalahan pengucapan suatu kata,  dalam pelafalan hurufnya, beda pelafalan ini  tanpa membedakan arti atau mengandung arti yang berbeda. Pada pelafalan baru disertai susunan kata baru dengan arti baru.  Bahasa baru ini lebih berkembang karena dipengaruhi oleh sekelompok orang di lingkungannya, disebut bahasa prokem, atau bahasa slang, atau bahasa ‘amiyah.

Bahasa prokem dianggap menyalahi aturan tata bahasa, dan merusak bahasa baku dan oleh sebagian orang dianggap sebagai “kemunduran” dalam berbahasa, bahkan menggunakan bahasa prokem dianggap “tidak sopan”. Karena suatu anggapan, bahwa bertutur yang sopan-santun itu, tidak menggunakan bahasa prokem. Akhirnya penggunaan bahasa prokem terbatas pada sekelompok orang tertentu. Apakah bahasa prokem semuanya mengandung kata-kata yang “jelek”? Bagaimana bertutur dengan menggunakan bahasa yang standar dan sopan, tapi menyinggung perasaan pendengarnya dan menyakitkan hati pendengarnya? (Dimana letaknya sopan santunnya?)

Bahasa prokem adalah bukti dari kreatifitas sekelompok orang yang merupakan pecahan atau pengembangan dari bahasa standar. Tanpa bahasa standar bahasa prokem tidak pernah ada. Berkembangnya bahasa prokem merupakan tuntutan dalam berkomunikasi pada sekelompok masyarakat, dengan menggunakan bahasa prokem, pergaulan menjadi lebih akrab, lebih komunikatif, dan lebih efektif. Jadi pada sekelompok masyarakat tertentu lebih banyak menggunakan bahasa prokem, maka siapapun yang berupaya memusnahkan bahasa prokem adalah upaya yang sia-sia.

E.      Bahasa Hidup, Mati Atau Punah

Siklus pertumbuhan dan perkembangan suatu bahasa, seperti siklus suatu makhluk, ada yang hidup, mati atau punah. Gejala suatu bahasa yang hidup, mati atau punah dapat diketahui, perubahan dari bahasa yang hidup menjadi mati atau punah tidak dapat diprediksi dan tidak dapat diukur kapan waktunya dengan tepat.

Pada bahasa yang hidup, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut terjadi penyebaran ke wilayah lain, walaupun sedikit/kecil.

2.  Jumlah penuturnya relatif stabil, atau bertambah dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya cenderung bertambah, kosa kata baru yang terpakai, lebih banyak dari kosa kata lama yang tidak terpakai.

Pada bahasa yang mati, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Bahasa tersebut tidak terjadi penyebaran ke wilayah lain.

2.  Jumlah penuturnya berkurang dari waktu ke waktu.

3.  Jumlah perbendaharaan katanya tidak bertambah dan penggunaannya sedikit, seperti:Bahasa Latin hanya dipakai dalam istilah-istilah bidang kedokteran, Bahasa Sanskerta hanya dipakai pada nama-nama bangunan di Indonesia, Bahasa Yunani hanya dipakai pada nama produk-produk teknologi terbaru, dan lain-lain.

Pada bahasa yang punah, terdapat tiga gejala yang dominan :

1.  Penuturnya sangat jarang hanya beberapa orang, atau mungkin tidak ada lagi.

2.  Perbendaharaan katanya banyak yang hilang dari penutur yang ada/tersisa.

3.  Tidak ada dokumentasi berupa tulisan apapun, sehingga tidak dapat dipelajari kembali.

Perubahan dari bahasa yang hidup menjadi bahasa yang mati, bukan disebabkan tidak memiliki kaidah bahasa yang lengkap, atau tidak memiliki tata bahasa yang sempurna, tapi lebih banyak ditentukan oleh kecenderungan-kecenderungan yang berubah dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidup pada masyarakat tertentu. Kerapkali bahasa yang mati yang tertinggal hanya dokumen tertulis, atau mungkin tidak ada lagi orang yang mengerti tentang maksud dan arti dari tulisan tersebut.

Perubahahan dari bahasa hidup menjadi bahasa yang punah, disebabkan oleh penuturnya yang tidak lagi mempergunakannya, dan tidak terdapat dokumentasi tertulis apapun. Dengan punahnya suatu bahasa, maka semua nilai-nilai budaya yang terkandung dalam bahasa tersebut juga ikut punah. Kepunahan tersebut menyebabkan kemanusiaan  mengalami kerugian, yakni manusia modern akan menjadi “semakin miskin nilai-nilai luhur”.

Semua bahasa prokem dari semua bahasa, besar kemungkinan untuk punah, terutama bila ada tidak upaya mendokumentasikannya, baik berupa buku, film, CD, DVD atau lain-lain. Apakah pengkajian terhadap bahasa prokem, merupakan penurunan kualitas ilmiah, kiranya  perlu dikaji kembali?

Banyak bahasa-bahasa daerah di Nusantara yang hilang, mungkin akibat dampak kebijakan memperkuat Bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa. Walaupun ada kebijakan memasukkan bahasa daerah sebagai muatan lokal pada pendidikan, tetapi bahasa-bahasa daerah masih tidak berkembang, bahkan tetap banyak yang hilang. Janganlah beranggapan bahwa pada bahasa-bahasa masyarakat yang tinggal di kepulauan Nusantara tersebut tidak terdapat nilai-nilai budaya yang luhur.

F.      KECENDERUNGAN DAN TUNTUTAN BAGI PERKEMBANGANNYA.

Kecenderungan umum, semua orang untuk memilih hal-hal yang lebih praktis, lebih mudah dan lebih sederhana, dari pada sebaliknya. (Kalau ada yang praktis, mudah dan sederhana, mengapa pilih yang ribet, sulit dan rumit?)  Kecenderungan ini berlaku pula dalam pemilihan bahasa. Maka kebanyakan orang beranggapan, bahwa bahasa ibunya adalah bahasa yang paling mudah, sebelum mempelajari bahasa lainnya.

Tuntutan pekerjaan, sering memaksa seseorang untuk mempelajari bahasa tertentu, terutama jika lowongan pekerjaan dipersyaratkan demikian. Tuntutan untuk mencapai kesuksesan di suatu tempat kerja, sering memaksa seseorang untuk belajar suatu bahasa, contohnya : Seseorang yang akan bertugas di Prancis atau di Cina, maka dia harus belajara bahasa Prancis atau bahasa Mandarin.

Tuntutan akan kebutuhan ilmu pengetahuan dan budaya, akan menambah jumlah orang yang belajar suatu bahasa, sehingga bahasa tersebut semakin menyebar. Contohnya: siapapun yang ingin belajar dan mengetahui budaya Jawa, maka dia akan belajar bahasa Jawa lalu datang ke pulau Jawa (ke tempat asalnya) . Mungkin budaya jawa masih menarik perhatian sebagian orang belanda sehingga sampai sekarang masih berkembang bahasa jawa di Belanda.(bahasa jawa yang halus, atau kromo inggil)

Pergaulan internasional dalam interaksi perdagangan, lebih cepat menyebarkan suatu bahasa, contohnya penutur bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di Jedah, Mekah dan Madinah semakin bertambah, di pasar-pasar pada setiap musim haji di sana. Penuturnya bukan hanya dari bangsa arab tapi juga dari bangsa-bangsa lain yang berada di sana.

Kesimpulan

1.     Penggunaan istilah-istilah keilmuan, atau suatu terminologi haruslah tepat, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulisan. Hal ini  sering membingungkan orang awam, yang tidak bermaksud untuk mendalami “pengetian yang tinggi” tentang suatu masalah dari suatu disiplin ilmu pengetahuan.

2.    Masyarakat umum lebih mementingkan bahasa yang sifatnya praktis dari pada bahasa standar, karena tingkat kemampuan berbahasa seharusnya tidak menghambat dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Walau tingkat kemampuan berbahasa yang rendah sering ditandai dengan kesalahan baik dalam pelafalan/pengucapan atau penulisan. 

3.    Setiap orang dari penutur asli bahasa apa saja akan merasa bergembira jika bahasanya dipergunakan oleh orang lain/asing, serta akan memberikan pujian dan penghargaan yang tinggi, jika bahasanya diucapkan dan atau ditulis dengan benar.

Sekali, maka Selamanya …

Posted by: sulaiman on: November 25, 2009

Sekali anti imperialisme, maka selamanya anti imperialisme.

Sekali anti kolonialisme, maka selamanya anti kolonialisme.

Sekali anti chauvinisme, maka selamanya anti chauvinisme.

Sekali anti komunisme, maka selamanya anti komunisme.

Sekali anti terorisme, maka selamanya anti terorisme.

Sekali anti penindasan dalam bentuk apapun, maka selamanya anti penindasan dalam bentuk apapun.

Sekali anti penjajahan dari manapun, maka selamanya anti penjajahan dari manapun.

Sekali anti eksploitasi ekonomi oleh siapapun, maka selamanya anti eksploitasi ekonomi oleh siapapun.

Sekali anti monopoli usaha oleh siapapun, maka selamanya anti monopoli usaha oleh siapapun.

Sekali anti klaim budaya oleh siapapun, maka selamanya anti klaim budaya oleh siapapun.

Sekali membela kebenaran, maka selamanya membela kebenaran.

Sekali membela kejujuran, maka selamanya membela kejujuran.

Sekali membela keadilan, maka selamanya membela keadilan.

Sekali mengabdi kepada bangsa dan negara, maka selamanya mengabdi kepada bangsa dan negara.

Sekali menjunjung tinggi harkat kemanusiaan, maka selamanya menjunjung tinggi harkat kemanusiaan.

Sekali bertanggung jawab menjaga amanah, maka selamanya bertanggung jawab menjaga amanah.

Sekali berbakti kepada masyarakat, maka selamanya berbakti kepada masyarakat.

Sekali menciptakan kerukunan masyarakat, maka selamanya menciptakan kerukunan masyarakat.

Sekali membantu mewujudkan ketentraman masyarakat, maka selamanya membantu mewujudkan ketentraman masyarakat.

Sekali bersikap rendah hati dalam bermasyarakat, maka selamanya bersikap rendah hati dalam bermasyarakat.

Sekali ramah tamah dalam bergaul dengan siapa saja, maka selamanya ramah tamah dalambergaul dengan siapa saja.

Sekali bersopansantun dalam bermasyarakat, maka selamanya bersopansantun dalam bermasyarakat.

Sekali berusaha menjadi warga teladan, maka selamanya berusaha menjadi warga teladan.

Sekali menghargai privasi pribadi seseorang, maka selamanya menghargai privasi pribadi seseorang.

Sekali membantu seseorang dengan ikhlas, maka selamanya membantu seseorang dengan ikhlas.

Sekali menutup aib dan cela seseorang, maka selamanya menutup aib dan cela seseorang.

Sekali tidak mempermalukan seseorang, maka selamanya tidak mempermalukan seseorang.

Sekali mencegah terjadinya fitnah, maka selamanya mencegah terjadinya fitnah.

Sekali menjaga nama baik seseorang, maka selamanya menjaga nama baik seseorang.

Sekali anti pelecehan seksual, maka selamanya anti pelecehan seksual.

Sekali anti pornografi, maka selamanya anti pornografi.

Sekali anti pornoaksi, maka selamanya anti pornoaksi.

Sekali anti kata-kata tidak senonoh, maka selamanya anti kata-kata tidak senonoh.

Sekali anti penyelewengan, maka selamanya anti penyelewengan.

Sekali anti perselingkuhan, maka selamanya anti perselingkuhan.

Sekali anti asusila, maka selamanya anti asusila.

Sekali anti narkoba dalam bentuk apa saja, maka selamanya anti narkoba dalam bentuk apa saja.

Sekali anti bermabuk-mabukan, maka selamanya anti bermabuk-mabukan.

Sekali anti sakau dan teler dari minuman apapun, maka selamanya anti sakau dan teler dari minuman apapun.

Sekali mencegah penyalahgunaan obat-obatan, maka selamanya mencegah penyalahgunaan obat-obatan.

Sekali tidak  ingin mencoba narkoba, maka selamanya tidak  ingin mencoba narkoba.

Sekali tidak  ingin dirayu oleh narkoba, maka selamanya tidak  ingin dirayu oleh narkoba.

Sekali menjunjung tinggi kemuliaan akal pikiran, maka selamanya menjunjung tinggi kemuliaan akal pikiran.

Sekali anti korupsi, maka selamanya anti korupsi.

Sekali tidak memakan uang korupsi, maka selamanya tidak memakan uang korupsi.

Sekali tidak mau diajak untuk melakukan korupsi, maka selamanya tidak mau diajak untuk melakukan korupsi.

Sekali membela pemberantasan korupsi, maka selamanya membela pemberantasan korupsi.

Sekali mencegah tindak korupsi, maka selamanya mencegah tindak korupsi.

Sekali tidak membuka peluang untuk korupsi, maka selamanya tidak membuka peluang untuk korupsi.

Sekali tidak memanfaatkan peluang korupsi, maka selamanya tidak memanfaatkan peluang korupsi.

Sekali tidak merebut uang haram, maka selamanya tidak merebut uang haram.

Sekali tidak menyerobot hak orang lain, maka selamanya tidak menyerobot hak orang lain.

Sekali tidak menggelapkan milik negara berupa apapun, maka selamanya tidak menggelapkan milik negara berupa apapun.

Sekali tidak merugikan bangsa dan negara dalam hal apapun, maka selamanya tidak merugikan negara dalam hal apapun.

Sekali memajukan kesejahteraan umum, maka selamanya memajukan kesejahteraan umum.

Sekali menciptakan kesejahteraan rakyat, maka selamanya menciptakan kesejahteraan rakyat.

Sekali melindungi tumpah darah seluruhnya, maka selamanya melindungi tumpah darah seluruhnya.

Sekali mencerdaskan kehidupan bangsa, maka selamanya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekali melaksanakan pengabdian masyarakat, maka selamanya melaksanakan pengabdian masyarakat.

Sekali menyadari hak kemerdekaan bangsa, maka selamanya menyadari hak kemerdekaan bangsa.

Sekali menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan, maka selamanya menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan.

Sekali menghormati lambang-lambang negara, maka selamanya menghormati lambang-lambang negara.

Sekali mengangkat martabat bangsa, maka selamanya mengangkat martabat bangsa.

Sekali mengharumkan nama bangsa di dunia, maka selamanya mengharumkan nama bangsa di dunia.

Sekali membina persatuan dan kesatuan, maka selamanya membina persatuan dan kesatuan.

Sekali memelihara keutuhan bangsa, maka selamanya memelihara keutuhan bangsa.

Sekali sadar berbangsa dan bernegara, maka selamanya sadar berbangsa dan bernegara.

Sekali menikmati hidup sehat dan tentram, maka selamanya menikmati hidup sehat dan tentram.

Sekali bersyukur atas segala karuniaNya, maka selamanya bersyukur atas segala karuniaNya.

Sekali bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka selamanya bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sekali istiqomah dan teguh dalam kebaikan, maka selamanya istiqomah dan teguh dalam kebaikan.

Semoga kita semua berusaha disertai  bertawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa

(gambar perayaan tahunan di Sumba, diunduh dari : http://www.indo.net.id)

Mengenali Tuntutan Pekerjaan untuk Kesejahteraan

Posted by: sulaiman on: Oktober 29, 2009

Setiap orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, walaupun dengan bersusah payah, dengan “banting tulang, jungkir balik, peras keringat”, bahkan apapun dikerjakannya. Sedangkan tuntutan kebutuhan hidup semakin hari, cenderung semakin meningkat. Sepatutnya setiap orang memperhatikan permasalahan semua ini secara seksama. Berikut ini akan dibahas : a) Mengenal Jenis Pekerjaan, b) Mengenal Kemampuan Diri, dan c) Berpindah Pekerjaan.

A.  MENGENAL JENIS PEKERJAAN
Semua jenis pekerjaan pada semua bidang usaha, dapat dibagi dalam tiga jenis, yaitu :

1. Pekerjaan Kasar. Jenis pekerjaan kasar adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga jasmaniah, dan terlihat dengan banyaknya keringat yang bercucuran saat melakukan pekerjaan tersebut, seperti : tukang pacul, tukang pikul, tukang gali sumur, kuli bangunan, pemain sepak bola dan lain-lain.
2. Pekerjaan Halus. Jenis pekerjaan halus adalah pekerjaan yang banyak menguras tenaga mental, pikiran, dan terlihat sedikit keringat yang keluar saat bekerja, seperti : penyanyi, bintang film, guru, pengacara dan lain-lain.
3. Pekerjaan Campuran. Jenis pekerjaan yang merupakan campuran antara pekerjaan kasar dan pekerjaan halus, seperti : pedangang asongan dan lain-lain

B.    MENGENAL KEMAMPUAN DIRI
Setelah mengenal jenis pekerjaan, maka sebaiknya setiap orang mengenal kemampuan dirinya dan mengenal batas kemampuannya. Walaupun ada orang yang merasa mampu untuk melakukan semua jenis pekerjaan, tapi sebenarnya setiap orang berbeda. Ada yang lebih mampu dalam melakukan pekerjaan kasar, dan ada yang lebih mampu dalam melakukan pekerjaan halus.
Siapapun hendaklah bekerja dalam batas kemampuannya, jika seseorang memaksakan diri dalam melakukan pekerjaan yang di luar batas kemampuannya (apalagi dalam waktu lama) akan berakibat sakit-sakitan. Mulai dari gejala penyakit yang ringan seperti pegal-pegal atau flu, sampai terserang penyakit yang berat, seperti penyakit kuning, penyakit vertigo, penyakit struk dan lain-lain.
Jadi, penting sekali untuk menjaga keseimbangan dalam tiga hal : beban kerja -– kondisi/stamina diri cukup istirahat/refresing. Karena kondisi fisik dan mental setiap orang berbeda, maka sebenarnya moment setiap orang dalam menjaga keseimbangan tersebut berbeda.  Pihak perusahaan/kantor memberikan waktu istirahat adalah sesuai dengan standar umum, dan kesempatan waktu istirahat ini sebaiknya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan pekerja/karyawan yang selalu menjaga keseimbangan tersebut, umumnya lebih sehat.  (hanya pada pekerja/karyawan yang benar-benar sehat, prestasi dan produktifitas kerjanya stabil)
Ada sebagian orang yang merasa kesulitan dalam mengenali kemampuan dirinya, padahal dari pengalaman “jatuh bangunnya” dalam pelaksanaan pekerjaan, akan tahu sendiri batas kemampuannya. Jadi pengalaman adalah guru terbaik. Jika ada orang yang tidak punya pengalaman “pahit getirnya” kerja, dan tidak pernah mau bersusah payah untuk bekerja keras, maka kemungkinan dia kurang mengenal benar batas kemampuan dirinya.
Jika seseorang mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya, maka dia akan dapat bekerja dengan semua energinya dan tingkat produktifitas kerjanya relatif lebih tinggi dari standar umum. Maka pekerja/karyawan yang “baik dan berbobot” ini akan enak makan dan enak tidur, disamping akan memperoleh penghasilan yang lebih dari yang pekerja/karyawan lainnya.
Jika seseorang mendapatkan pekerjaan yang kurang/tidak sesuai dengan kemampuannya, maka dia bekerja kurang maksimal, dan tingkat produktifitasnya relatif di bawah standar umum. Maka pekerja/karyawan ini hanya sebagai “pemeran pengganti” untuk sementara berjalannya roda perusahaan.

C.   BERPINDAH PEKERJAAN.

Dalam permasalahan berpindah pekerjaan, terdapat dua hal : 1) Pelaksanaan Pekerjaan, dan 2) Tantangan Pekerjaan.

1.  Pelaksanaan Pekerjaan. Setiap orang dalam pelaksanaan pekerjaannya, terbagi dua :

a. Tetap pada satu pekerjaan. Sebagian orang yang tetap melakukan satu pekerjaan dalam waktu yang lama (dari muda sampai tua pekerjaannya tetap) dengan berbagai alasan, antara lain :
1)    Karena pekerjaan yang sedang ditekuni sesuai dengan hati nuraninya, sesuai dengan panggilan jiwanya, dan mendatangkan ketenagan batin baginya. Umumnya mereka tidak lagi mementingkan penghasilan yang berupa material.  (tetapi, jika penghasilannya jauh di bawah minimum, maka isterinya yang stress karena kesulitan mengatur ekonomi keluarga)
2)   Karena penghasilannya besar atau gajinya besar atau tambahan lainnya besar, baik berupa bonus, tips, imbalan jasa dan lain-lain (umumnya, kehidupannya lebih sejahtera)
3)   Karena prospeknya sangat bagus, hari depannya cerah, jenjang karirnya akan meningkat, dan kesempatan untuk maju sangat besar, walaupun penghasilannya saat ini relatif kecil. (hanya perusahaan yang bonafid, yang memperhatikan nasib dan jenjang karir para pekerja/karyawannya)
4)    Karena tidak ada lagi lowongan pekerjaan lainnya atau tidak memiliki keterampilan/keahlian lain untuk pindah kerja. (jadi, hanya menerima nasib)

b.  Berpindah pekerjaan. Sebagian orang berpindah pekerjaan dengan berbagai alasan, antara lain :
1)   Karena ingin mencari ketenangan batin, yang sesuai dengan hati nuraninya, yang  sesuai dengan panggilan jiwanya. Walaupun penghasilan semula penghasilannya lebih besar, akhirnya tetap ditinggalkannya.
2)   Karena ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar atau gaji yang lebih banyak, atau tambahan lain yang lebih besar.
3)   Karena ingin memperolah pekerjaan yang lebih cocok dengan kemampuannya, dengan jenjang karirnya meningkat, dan lebih banyak kesempatan untuk maju.
4)   Karena menunggu order dan pekerjaannya sistim borongan, jika tidak ada order maka menganggur. (jadi hanya mengisi waktu dari pada menganggur)
5)   Karena terpaksa, di PHK, karena perusahaannya bangkrut atau terjadi pengurangan pengawai, atau sistim kontrak yang tidak mungkin diperpanjang lagi.

2. Tantangan Pekerjaan.
Berpindah pekerjaan dengan memperoleh pekerjaan baru, ditinjau dari tantangan yang dihadapi terbagi dua :
a. Sedikit Tantangan. Jika keterampilan/keahlian yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan baru sama dengan pekerjaan yang lama, maka relatif akan sedikit menghadapi tantangan, yakni perusahaan baru, lokasi baru, suasana baru dengan menemukan orang-orang dalam lingkungan pekerjaan yang baru.

b. Banyak Tantangan. Jika keterampilan/keahlian yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan baru berbeda dengan pekerjaan yang lama atau diperlukan keterampilan/keahlian yang lain, maka akan banyak menghadapi tantangan. Disamping penyesuaian diri dalam suasana baru dengan menemukan orang-orang baru, juga dibutuhkah sikap, pola pikir dan kebiasaan baru dan merubah kebiasaan sehari-hari yang sudah terbentuk sekian lama, dalam praktiknya tidaklah semudah yang dibayangkan.

Untuk menghadapi semua tantangan tersebut, diperlukan persiapan dari jauh-jauh hari, sehingga penyesuaian diri dapat lebih mendekati sempurna. Jika penyesuaian diri yang “kurang diterima” oleh para pegawai/karyawan lama di lingkungan baru tersebut, dapat berakibat kegagalan di kemudian hari.
Sikap penolakan atas kedatangan pekerja/pegawai baru dari mereka (para pegawai/karyawan yang lama) biasanya berdasarkan anggapan : a) akan mengurangi/merebut rezeki mereka, b) akan menjarah/menguasai wilayah dan bidang usaha mereka, c) akan menghambat karir jabatan mereka, d) ada kemungkinan pimpinan perusahaan/kantor akan menjadikan pekerja/pegawai baru sebagai “anak emas” dan  mereka dijadikan “anak tiri”. — Jelaslah bahwa sikap penolakan ini tidak rasional, tidak masuk akal dan tidak proporsional. Karena semua anggapan tersebut belum terbukti dan belum tentu benar. Dan mengapa pula harus iri dan dengki kepada pekerja/pegawai yang karirnya meningkat, jika memang terbukti dia lebih berpotensi, lebih berprestasi, lebih berproduksi, dan lebih pantas untuk mendapatkan semua itu? (Kalau memang dia berpotensi untuk memajukan perusahaan dan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama, mengapa harus dijegal dan mengapa tidak didukung?)

Kesimpulan dan saran.
1. Pihak Pekerja/karyawan ingin bekerja dengan sebaik-baiknya dan terdapat peningkatan baik moril maupun materiil, sedangkan pihak perusahaan/kantor ingin ada kemajuan dalam bidang usahanya,  maka upaya kedua pihak haruslah berjalan seiring, selaras dan sama-sama maju.
2. Jika semua pegawai/karyawan yang “baik dan berbobot” pada semua bagian, maka perusahaan akan mudah melebihi target dan maju dengan pesat. Mereka adalah “modal kemajuan” perusahaan yang harus diperhatikan kesejahteraannya baik moril maupun materil, karena jika sempat “dibajak” oleh perusahaan lain, maka perusahaan akan menderita kerugian immaterial yang berharga.
3. Ternyata dalam upaya memajukan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha apapun sebagai satu kesatuan usaha/kesatuan sistem, terdapat dua kegiatan yang harus diperhatikan :
a. Kegiatan mencari, menemukan dan memanfaatkan berbagai “kelebihan dan potensi keterampilan” dari setiap pekerja/pegawai dengan berorientasi dan berfokus pada satu kesatuan yang utuh dari semua bagian ada di perusahaan. (Gestalt sentrum)
b. Kegiatan mencari, menemukan dan memanfaatkan berbagai “kelemahan dan kekurangan” dari setiap pekerja/pegawai dengan berorientasi dan berfokus pada satu sub atau unit terkecil dari satu bagian yang ada di perusahaan (Ego sentrum).
Hendaklah semua orang yang terlibat dalam kegiatan perusahaan/kantor, berusaha agar kedua kegiatan ini (Gestalt sentrum dan Ego sentrum) tidak terjadi bertentangan/ paradok yang akan menghambat akselerasi kemajuan bidang usaha. (atau bahkan mungkin dapat mengakibatkan perusahaan menjadi bangkrut)
Hendaklah semua orang yang terlibat dalam kegiatan perusahaan/kantor, berusaha agar kedua kegiatan tersebut (Gestalt sentrum dan Ego sentrum), menjadi selaras dan serasi, saling mendukung, saling menutupi, saling memperkuat, karena “tim kerja yang kompak dan solid secara utuh” adalah modal dasar untuk meningkatkan kinerja, serta meningkatkan produktifitas bagi kemajuan bersama dan kesejahteraan bersama.

Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1430 H

Posted by: sulaiman on: September 21, 2009

IDUL FITRI 1430 H

Sungguh nikmat sekali, bila hidup selalu dalam keridhoan Tuhan Maha Pencipta dan sekaligus dalam keridhoan manusia, dan momentum yang paling tepat untuk meraihnya adalah saat lebaran, saat Iedul Fitri.

Pada hari raya Idul Fitri semua orang yang berpuasa, dihadapan Tuhan kembali kefitrahnya yang tiada berdosa, dan dihadapan manusia saling bermaaf-maafan. Dan setelah ditempa oleh perihnya rasa lapar, maka kita akan merasa empati dengan rasa sayang dan kasihan kepada orang yang kelaparan. (mereka yang tidak pernah merasa lapar, kemungkinan tidak pernah kasihan kepada orang miskin yang kelaparan)

Yang paling tepat, dimulai pada hari Iedul Fitri adalah menyayangi sesama manusia dan memaafkan semua kesalahan kepada orang-orang yang bersalah, sehingga tidak ada dendam, tidak ada sakit hati, dan selanjutnya berusaha untuk tidak berbuat kesalahan kepada sesama manusia dan semua itu adalah cerminan dari orang-orang bertaqwa.

Mempererat tali kekeluargaan dan tali silaturrahmi, adalah dasar dari kehidupan bermasyarakat yang sehat, maka dalam acara “kumpul saat lebaran” atau saat “pulang kampung”, yang terpenting adalah memohon maaf kepada kedua orang tua (atau sungkem), sekaligus bersyukur kepada mereka berdua karena jasa-jasa kedua orang tua tidak mungkin terbalaskan.

Terjalinnya hubungan batin yang erat dengan rasa cinta dan sayang antara semua anggota keluarga, menciptakan ketenangan jiwa dan perasaan, maka berpisah dengan keluarga, saat lebaran, pasti “merasa ada yang hilang” atau merasa sedih/lara yang terpendam.

Memusuhi keluarga sendiri adalah salah satu ciri dari pemahaman yang salah, atau salah satu tanda dari aliran sesat, kalau seseorang membohongi dan memusuhi orang tua sendiri dan saudara sendiri, maka ada dua kemungkinan : pertama “jiwanya sedang sakit” atau, kedua  terpengaruh oleh aliran-aliran sesat.

Dalam jiwa yang sehat pada setiap orang akan terbina kehidupan masyarakat yang sehat.

Penulis mohon maaf lahir dan batin kepada semua rekan dan pembaca, karena sebagai manusia tentu tempatnya kesalahan dan lupa serta tidak ada manusia yang sempurna.

Semoga kita semua hidup dalam keridhoanNya selalu.

Wahai Maha Penyayang : Doa Ramadlan 1430 H

Posted by: sulaiman on: September 13, 2009

Wahai Tuhanku Yang Maha Penyayang ….. Betapa besar harapanku padaMu …… walau aku telah berdoa dan sedikit berusaha, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, maka aku mohon tunjukilah aku …..

Aku berdoa kepadaMu memohon ampunan bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka tidak Engkau ampuni, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Aku berdoa kepadaMu memohon kebahagiaan dunia akhirat bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga kehidupan mereka kurang berbahagia, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Aku berdoa padaMu memohon hidayah, taufik dan barokah bagi orang-orang yang aku cintai dan sayangi, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga dalam kehidupan mereka mereka tidak mendapatkan hidayah, tidak ada taufik dan tidak ada kebarokahan, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Dengan keterbatasan waktu, sehingga aku sering melupakanMu, sedikit beribadah, sedikit berbuat baik kepada orang-orang yang aku cintai dan sayangi dan kepada orang-orang yang sepatutnya aku berbuat baik, maka ampunilah aku tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Tuhanku …Aku telah sedikit berusaha mengajak berbuat kebaikan dan pahala kepada orang-orang yang aku cintai dan sayangi dan agar jauh dari murkaMu, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka Engkau timpakan cobaan, musibah, bencana alam, berbagai penyakit, dan sebagainya, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Tuhanku ….. Aku telah sedikit berusaha mengajak pembaca untuk bekerja keras menciptakan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga kehidupan rakyat dan masyarakat kurang sejahtera, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Tuhanku ….. Aku telah sedikit berusaha mengajak pembaca untuk mngatakan “anti teroris”, tetapi kalau Engkau menetapkan lain, sehingga mereka tidak mendengarnya atau takut untuk mengatakannya, maka tunjukilah aku wahai Maha Penyayang.!

Tuhanku ….. Jauhkanlah aku dan para pembaca dari ajaran-ajaran sesat dan paham-paham keliru, aku memohon ketetapan yang baik dariMu, maka tunjukilah aku dan para pembaca, wahai Maha Penyayang.!

Amin.

Program SMP Terbuka Berbasis TIK

Posted by: sulaiman on: Agustus 24, 2009

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo, meresmikan program rintisan pembelajaran berbasis teknologi informatika dan komunikasi (TIK) di tiga SMP Terbuka Perintis

Ketiga SMP Terbuka Perintis berbasis TIK yang diresmikan Mendiknas tersebut adalah SMP Terbuka 55 Tanjung Priuk Jakarta, SMP Terbuka 1 Malang, dan SMP Terbuka Kadanghaur Indramayu

Peresmian pencanangan Program Pembelajaran Berbasik TIK pada SMP Terbuka, di Gedung A, Plaza Depdiknas, Kamis (20/8).  1)

Ini adalah suatu langkah maju yang mulai dirintis oleh pemerintah, akan tetapi untuk mencapai ”Kemandirian yang akan mengantarkan siswa siswi pada daya saing, inovasi, meningkatkan kreativitas”  masih perlu diikuti oleh langkah-langkah berikut  :

1.  Tutorial lengkap sesuai dengan kebutuhan siswa

Dalam upaya menjadikan peserta didik subyek pembelajaran bukan obyek pengajar, pada usia smp harus dipertimbangkan masak-masak, bahwa mereka “sangat mudah meniru” dan “sangat mudah ikut-ikutan”.  Contohnya :  Dalam kasus Tawuran mereka tetap ikut-ikutan, walaupun sudah banyak yang meninggal dunia, tapi tetap terjadi, potensi untuk terjadinya tawuran terdapat pada setiap sekolah, dimana-mana.

Dalam pencarian di alam maya, mereka bisa kesasar kemana-mana, atau malah membuka situs-situs yang tidak mendidik, kemungkinan besar mereka meniru dan ikut-ikutan, oleh karena itu sangat diperlukan adanya tutorial yang lengkap, arahan yang pasti, dan instruksi yang jelas, harus bagaimana, dan harus mengerjakan apa, agar mereka tidak kesasar dan kebutuhan meningkatkan pengetahuan dan berbagai keterampilan dapat terpenuhi.

Perhitungan antara beban pelajaran pada kurikulum, waktu mereka belajar dan dampak negatif dari informasi komunikasi harus dipertimbangkan, monitoring pihak guru atas setiap hasil pekerjaan setiap anak harus diperiksa dengan ketat, tentu mereka harus berfikir orisinil bukan copy-paste, bukan plagiat,  agar tujuan pendidikan tercapai dengan terarah, efektif dan efisien sehingga menjadi pribadi yang mandiri, berinovasi, berdaya saing dan berkreatifitas.

2.  Tersedianya “perpustakaan alam maya” (E-library) terpusat, yang dapat diakses setiap saat

Dalam setiap pelajaran diperlukan adanya referensi dan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pendidikan, yang dapat diakses setiap saat, dan semua ini tentu sangat membantu peserta didik, sehingga dapat belajar lebih mandiri.

Manfaat dari E-library terpusat, antara lain :

a.    Mereka tidak usah membeli buku,yang setiap tahun selalu berubah. Dan hal ini tentu merupakan penghematan biaya pendidikan.

b.   Mereka tidak perlu memimjam buku ke perpustakaan setiap dibutuhkan, tapi cukup mengakses di internet, hal ini tentu menghemat waktu dan tidak ada resiko keterlambatan mengembalikan buku yang dipinjam.

c.    Semua hasil karya siswa, berupa hasil penelitian, penemuan dan lain-lain, dapat dijadikan bahan untuk memperkaya E-library dan dengan adanya E-library terpusat, maka akan mudah memonitor jika adanya plagiat, atau adanya upaya copy-paste.

3.  Kegiatan selingan (ekstra kurikuler) sekaligus sosialisasi.

Menjadikan peserta didik sebagai subyek pembelajaran adalah memperlakukan mereka sebagai manusia, yang memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan, serta memiliki intelek dan berbagai emosi.  Kalau mereka selalu bekutat di depan komputer, tentu mereka  akan mengalami kebosanan dan kejenuhan, maka diperlukan adanya kegiatan selingan, berupa kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti, yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, antara lain meliputi :

a.    Adanya kerjasama dengan media televisi, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan menonton televisi dari suatu stasiun televisi, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

b.   Adanya kerjasama dengan media radio,  sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan mendengarkan radio dari suatu stasiun radio, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

c.    Adanya kerjasama dengan bioskop, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk menonton di suatu bioskop, yang acaranya sudah diatur sesuai dengan pelajaran yang sedang berjalan.

d.    Adanya kerjasama dengan suatu kelompok masyarakat, sehingga pada waktu tertentu siswa diwajibkan untuk ikut melaksanakan praktek kerja lapangan, dan berbaur dengan masyarakat, untuk menanamkan jiwa sosial dan melatih kemampun bersosialisasi pada tiap individu, sebab umumnya mereka yang berkutet dengan di depan komputer kurang bersosialisasi.

e.    Adanya kunjungan ke tempat-tempat bersejarah, seperti museum, tempat-tempat napak tilas, atau meninjau peninggalan-peninggalan perjuangan, untuk menanamkan jiwa kebangsaan, dan rasa nasionalisme, tentu didampingi oleh guru pendamping yang mampu menjelaskan semuanya secara  lengkap. Kegiatan kunjungan ini tentu harus didukung oleh semua pihak, sehingga biayanya lebih murah khusus untuk mereka, dan diawasi dengan ketat oleh semua pihak, agar jangan sampai ada yang nebeng atau numpang pelesiran.  (jangan sampai mereka pandai dan trampil tapi jiwa kebangsaannya rendah, dan nasionalismenya rendah)

Semua kegiatan selingan ini adalah sekaligus merupakan kegiatan sosialisasi terus-menerus kepada masyarakat umum, apalagi bila selalu dipublikasikan, sehingga masyarakat bisa mengikuti perkembangan program ini, yang lebih penting adalah masyarakat lebih mengetahui, lebih mengenal dan diharapkan akan ikut partisipasi dalam memajukan program SMP Terbuka Berbasis TIK ini.

-  -  Semoga sukses program ini dan bertambah maju negara kita  – -

1) lihat :  http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=10699&Itemid=700

RENUNGAN DI HARI KEMERDEKAAN RI KE 64

Posted by: sulaiman on: Agustus 16, 2009

Seluruh rakyat telah berjuang dengan segenap jiwa raga, darah,  tenaga dan pikiran dan harta benda, untuk merebut kemerdekaan ini, maka siapa lagi yang bercita-cita memiliki negara merdeka, kalau bukan seluruh rakyat pernah merasakan dijajah seperti rakyat Indonesia ?

Seluruh orang yang telah merasakan pahit getirnya dijajah, lalu merasakan seperasaan, senasib, dan sepenanggungan, maka wajarkah mereka mengadakan pertemuan seperti Konferensi Asia Afrika tanggal 19 April 1955 di Bandung, Jawa Barat, Indonesia? Tapi sekarang mengapa cita-cita Konferensi Asia Afrika, terasa padam dan tidak terekspresikan lagi?

Seluruh rakyat Indonesia telah berjuang dari nol besar, dari modal dengkul, dari senjata bambu runcing, dan yang lain dengan seadanya, wajarkah kegembiraan rakyat yang meluap-luap? Bagaimana mungkin rakyat Indonesia yang miskin hanya bersenjata bambu runcing  saat itu dapat menang melawan penjajahan? Maka siapa lagi yang berhak untuk bergembira dan bersuka-ria pada hari kemerdekaan ini, kalau bukan seluruh rakyat Indonesia?

Semua pesta kemerdekaan dan berbagai perlombaan yang diselenggarakan oleh seluruh rakyat di seluruh pelosok negeri ini, adalah ungkapan kegembiraan karena telah merdeka, yang  juga berisi semangat untuk mengisi kemerdekaan ini menurut seluruh  rakyat. Apakah peringatan HUT RI hanya cukup dengan mengadakan upacara tujuhbelasan di depan Istana Presiden?

Sungguh,  siapa lagi yang merindukan “masa depan Indonesia yang cerah” kalau bukan seluruh rakyat Indonesia?  Tapi mengapa pada hari ini, “potret masa depan Indonesia” terlihat suram dan  carut-marut ?

Setelah seluruh rakyat bersatu dalam negara Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus  1945, mengapa  muncul perpecahan?  Mengapa muncul kelompok-kelompok yang ingin memisahkan diri dan ingin mendirikan negara masing-masing menurut versi kelompoknya?  Mengapa muncul “Cita-cita Indonesia Serikat” yang tidak sesuai dengan cita-cita rakyat banyak yakni “Cita-cita Persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia”.  Anehnya, mengapa semuanya muncul bukan sebelum tahun 1945?

Warna buram potret masa depan Indonesia ditandai dengan adanya krisis multi dimensional yang berkepanjangan. Maka gambaran skenario terburuknya  adalah Indonesia mengalami kemunduran dalam segala bidang, dan upaya mengisi kemerdekaan dimulai dari nol besar, dari modal dengkul, atau bahkan dari jaman batu.

Warna carut-marut potret masa depan Indonesia ditandai dengan adanya kelompok teroris yang selalu harus darah, yang katanya selalu ingin membunuh kelompok lain yang tidak sesuai dengan versi kelompok mereka, dengan berbagai sasaran untuk menteror dan menakut-nakuti siapa saja, serta  dengan metode yang selalu berkembang, sampai metode bom bunuh diri.

Jangan mengharapkan  adanya perubahan keadaan Indonesia dalam waktu singkat, siapapun presidennya tidak akan mampu merubah keadaan  dalam waktu sehari, kiranya potret masa depan tidak akan berubah, kalau semua pejabat, seluruh aparatur pemerintah dan seluruh  rakyat Indonesia tidak bekerjasama dan bersatu untuk mengatasi permasalahan :

-      Memudarnya cita-cita kemerdekaan, yang berisi cita-cita persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia.   Contohnya :    Bila otonomi daerah dimanfaatkan bukan untuk kepentingan nasional dengan mengangkat pejabat dari daerahnya saja dan memutasikan pejabat yang bukan dari daerahnya.   Bila tidak dilaksanakannya pola-pola persatuan bangsa dengan terdapatnya partai lokal yang hanya mementingkan kepentingan lokal/daerahnya saja,  dan lain-lain (semuanya berarti telah menyalahi cita-cita ini)

-      Memudarnya semangat kebangsaan, rasa nasionalisme, dan ada kecenderungan berkembang ke arah minus, atau berkembangnya rasa nasionalisme sempit. (bukankah anggota teroris yang mengaku warga negara Indonesia rasa nasionalismenya sangat sempit?)

-      Berkembangnya kelompok teroris yang bersifat tertutup di masyarakat, sehingga masyarakat sendiri tidak mengetahuinya secara pasti perkembagan mereka. (jika mereka mengaku dari suatu agama, mereka bukanlah penganut dan pengamal agama yang taat, dan karena pemahaman agama yang salah, mereka telah berubah menjadi pembunuh berdarah dingin)

-      Berkembangnya budaya yang bersifat destruktif yang ditandai oleh :

(1)     Adanya kecenderungan rasa malas untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan nasional, berdampak terhadap rendahnya pelayanan kepada masyarakat dalam semua bidang. (tapi bersemangat untuk kepentingan pribadi)

(2)    Adanya kecenderungan   “miskin ide” dan “miskin kreatifitas” yang berskala nasional, tapi  “kaya  ide dan kaya kreatifitas” yang berskala pribadi, berskala daerah, berskala golongan, dan berskala kelompok;  bahkan orang-orang yang mempunyai ide yang berskala nasional, dimusuhi,  diolok-olok, dijelekkan nama baiknya atau dicari-cari kesalahannya. (mungkin penulis termasuk yang miskin ide)

(3)    Adanya kecenderungan untuk “ikut merasakan” kemajuan usaha ekonomi, contohnya : Bila koperasi di suatu daerah mengalami kemajuan dengan keuntungan besar (apalagi bila keuntungannya mencapai milyaran atau triliyunan)  maka semua pejabat berdatangan dan rajin memberikan banyak ide dan saran, tapi akhirnya meminta “uang bensin” untuk pulang. Tetapi bila koperasi di suatu daerah tidak berkembang, tidak ada saran apapun dari siapapun untuk memajukannya.

(4)     Adanya kecenderungan untuk “membisniskan” semua kepentingan masyarakat, dan “mengindustrikan” semua kepentingan masyarakat, yang akhirnya akan menjadi berkurangnya penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, karena manusia telah dianggap seperti mesin, atau seperti kelinci percobaan untuk kepentingan bisnis.

Penutup.   Mengapa ada orang-orang yang pesimis tentang masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia, kalau seluruh pejabat dan seluruh aparatur negara bersatu dan bekerjasama dengan seluruh rakyat mengatasi semua itu, kiranya tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi.   –  Tidak ada yang tidak mungkin.   -

 

Februari 2010
S S R K J S M
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Kekuatan


Site Web Strength is 3.4/ 10
What is yours
Web Strength?

Pembaca mencapai

  • 10,005 orang